Penulis: Haniyah Lubna
Pernahkah kita berpikir bahwa perubahan bentuk pantai ternyata bisa berhubungan dengan apa yang terjadi jauh di daratan? Pantai bukanlah wilayah yang berdiri sendiri. Sedimen yang berasal dari daratan dapat dibawa oleh sungai menuju laut, kemudian dipindahkan kembali di sepanjang pantai oleh gelombang dan arus. Karena itu, perubahan pada jalur dan jumlah sedimen dapat ikut memengaruhi kondisi pesisir.
Sedimen seperti pasir dan material hasil erosi dari daratan dapat masuk ke sungai dan kemudian dibawa menuju wilayah pesisir. Setelah sampai di laut, sedimen tersebut tidak langsung berhenti di satu tempat. Gelombang dan arus sepanjang pantai dapat memindahkannya ke wilayah lain.
Hubungan ini disebut sebagai river-to-coast sediment connectivity, yaitu keterhubungan pergerakan sedimen dari wilayah daratan, melalui sungai, hingga ke pesisir. Dalam sistem ini, sungai menjadi salah satu jalur penting yang memasok sedimen ke pantai.
Konsep ini penting karena kondisi pantai tidak hanya ditentukan oleh gelombang. Jumlah sedimen yang masuk dan keluar dari suatu wilayah juga ikut menentukan apakah pantai mengalami penambahan atau kehilangan material.
Mengenal Sediment Budget
Untuk melihat keseimbangan tersebut, terdapat konsep yang disebut sediment budget. Sederhananya, sediment budget melihat perbandingan antara sedimen yang masuk dan sedimen yang keluar dari suatu wilayah pantai.
Jika sedimen yang masuk lebih besar daripada yang keluar, wilayah tersebut dapat mengalami penambahan sedimen atau akresi. Sebaliknya, jika sedimen yang keluar lebih besar daripada yang masuk, terjadi defisit sedimen yang dapat berhubungan dengan pengurangan material di pantai.
Dalam kajian Arias et. al (2026) menyatakan keseimbangan sediment budget dihitung dari pasokan sedimen sungai dan pergerakan sedimen akibat transport sepanjang pantai. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa infrastruktur manusia dapat mengganggu jalur pergerakan sedimen. Bendungan dapat menahan sebagian sedimen sebelum mencapai pantai, sedangkan struktur seperti jeti dapat menghambat perpindahan sedimen di sepanjang garis pantai.

Sumber : Arias et al. (2026)
Ketika Jalur Sedimen Terganggu
Gangguan terhadap jalur sedimen dapat membuat distribusinya menjadi tidak merata. Keberadaan bendungan menurunkan pengiriman pasir sungai ke pesisir rata-rata sekitar 15% secara global. Penurunannya bahkan dapat melebihi 25% di beberapa wilayah tropis, termasuk Asia Tenggara.
Namun, angka tersebut merupakan hasil pemodelan skala global. Artinya, angka tersebut tidak dapat langsung digunakan untuk menyatakan bahwa seluruh pantai di Indonesia mengalami pengurangan sedimen sebesar angka yang sama.
Yang lebih penting adalah melihat bagaimana perubahan ketersediaan dan pergerakan sedimen dapat berhubungan dengan perubahan kondisi pantai di lokasi tertentu.
Bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia memiliki garis pantai yang panjang dengan kondisi pesisir yang berbeda-beda. Karena itu, perubahan garis pantai tidak selalu terjadi dengan pola yang sama. Ada wilayah yang mengalami abrasi, sementara wilayah lain dapat mengalami akresi.
Beberapa penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa perubahan tersebut berkaitan dengan kombinasi faktor seperti gelombang, arus, kondisi geomorfologi, tutupan lahan, serta ketersediaan dan pergerakan sedimen.
Bali Selatan, Pantai yang Berubah dengan Pola Berbeda
Analisis perubahan garis pantai Bali Selatan selama 1995–2021 menggunakan citra Landsat dan Sentinel-2 yang dianalisis dengan Digital Shoreline Analysis System (DSAS) menunjukkan bahwa tingkat perubahan garis pantai tidak sama di seluruh wilayah Bali Selatan. Abrasi relatif tinggi ditemukan di bagian barat Kabupaten Tabanan, bagian timur Gianyar, dan bagian selatan Badung. Wilayah tersebut antara lain berhadapan langsung dengan gelombang, memiliki kondisi geomorfologi tertentu, serta tidak memiliki mangrove sebagai perlindungan pantai.
Di sisi lain, akresi relatif tinggi ditemukan di bagian “leher” Selatan Bali. Daerah yang memiliki tutupan mangrove dan berada dekat dengan muara sungai menunjukkan kondisi sedimentasi yang lebih tinggi.
Bagaimana Hubungan Antara Wilayah Daratan dan Pesisir dalam Jangka Waktu yang Lebih Panjang?
Hubungan antara wilayah daratan melalui sungai dan sedimentasi pesisir terlihat lebih jelas di Laguna Segara Anakan, Jawa Selatan. Peneliti mengkaji hubungan antara sedimentasi di Segara Anakan dengan perubahan karakteristik dan penggunaan lahan di daerah tangkapan airnya.

Sumber : Dimyati et al. (2022)
Hasil rekonstruksi historis menunjukkan bahwa luas permukaan air Segara Anakan mengalami penurunan yang sangat besar, dari sekitar 8.600 hektare pada 1857/60 menjadi sekitar 2.200 hektare. Dalam penelitian tersebut, penyusutan ini dikaitkan dengan sedimentasi yang berasal dari Sungai Citanduy, Cibeureum, dan Cikonde.

Sumber : Lukas et al. (2017)
Namun, juga ditekankan bahwa tingginya sedimentasi di Segara Anakan tidak dapat dikaitkan hanya dengan satu penyebab. Berbagai perubahan di daerah tangkapan air ikut berperan dalam meningkatkan pembentukan dan pengangkutan sedimen, seperti pertanian, perkebunan, pengambilan kayu, perubahan kawasan hutan, aktivitas di sekitar sungai dan dataran banjir, jalan, permukiman, hingga aktivitas vulkanik.
Artinya, kondisi di Segara Anakan memperlihatkan bahwa apa yang terjadi di pesisir juga dapat berkaitan erat dengan proses yang berlangsung jauh di bagian hulu. Sedimen yang terbentuk dan terbawa melalui sungai akhirnya dapat terakumulasi di kawasan laguna dan mengubah bentuk serta luas perairannya.
Mengelola Pantai Berarti Memahami Sedimennya
Dari Bali Selatan dan Segara Anakan, terlihat bahwa hubungan antara sungai, sedimen, dan pantai tidak selalu menghasilkan kondisi yang sama. Di Bali Selatan, perubahan garis pantai berbeda-beda antarwilayah dan berkaitan dengan kombinasi kondisi gelombang, geomorfologi, tutupan mangrove, serta sedimentasi di sekitar muara. Sementara itu, Segara Anakan menunjukkan bagaimana masuknya sedimen dari beberapa sungai dapat berkontribusi terhadap proses pendangkalan dan penyusutan luas perairan.
Karena itu, melihat perubahan pantai tidak cukup hanya dari garis pantainya. Pergerakan sedimen dari daratan, sungai, muara, hingga laut juga perlu diperhatikan. Ketika jalur dan jumlah sedimen berubah, bentuk pesisir pun dapat ikut berubah. Dengan memahami hubungan tersebut, pengelolaan wilayah pesisir dapat dilakukan dengan melihat sistemnya secara lebih utuh, bukan hanya menangani perubahan yang sudah terlihat di garis pantai.
Editor: Firzal Rihad Triandra
#MCPRDailyNews










