APCONF6 Bali sebagai Momentum Pelestarian Warisan Budaya Bawah Laut

Penulis: Bilal Ihsan Abdurrohman

Laut tidak hanya menyimpan kekayaan sumber daya alam, tetapi juga berbagai peninggalan sejarah yang memiliki nilai budaya dan kehidupan bagi masyarakat pesisir. Bangkai kapal, situs arkeologi bawah laut, hingga tradisi masyarakat dalam mengelola laut merupakan bagian dari warisan maritim yang perlu dijaga keberadaannya. Isu tersebut menjadi perhatian dalam penyelenggaraan The 6th Asia-Pacific Conference on Maritime and Underwater Cultural Heritage (APCONF6) di Denpasar, Bali, pada 26–31 Oktober 2026.

Mengangkat tema “Traditions and Trajectories: Maritime Heritage and Blue Economies in Asia-Pacific”, konferensi ini mempertemukan peneliti, akademisi, pemerintah, komunitas pesisir, masyarakat adat, organisasi internasional, hingga pelaku usaha dari berbagai negara. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama mitra internasional tersebut menjadi ruang untuk membahas bagaimana warisan budaya maritim dapat dilestarikan sekaligus memberikan manfaat bagi pembangunan ekonomi biru di kawasan Asia-Pasifik. Informasi mengenai tujuan dan penyelenggaraan APCONF6 sebagai forum regional pelestarian warisan maritim menunjukkan bahwa isu warisan bawah laut mulai mendapat perhatian lebih luas dalam agenda keberlanjutan laut.

Ketika Laut Menyimpan Warisan Sejarah

Warisan budaya bawah laut merupakan peninggalan aktivitas manusia yang berada di lingkungan perairan, seperti bangkai kapal, benda bersejarah, dan situs arkeologi bawah laut. Keberadaannya tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga dapat memberikan gambaran mengenai perjalanan perdagangan, pelayaran, serta hubungan masyarakat dengan laut pada masa lalu.

Salah satu contoh yang menjadi perhatian dalam APCONF6 adalah situs bangkai kapal USAT Liberty di Tulamben, Bali. Kapal kargo milik Angkatan Darat Amerika Serikat tersebut kini menjadi salah satu lokasi penyelaman yang dikenal di Indonesia. Selain memiliki nilai sejarah, keberadaan bangkai kapal ini juga berkaitan dengan kehidupan ekosistem laut karena menjadi tempat hidup berbagai biota dan daya tarik wisata bahari. Pemanfaatan situs bangkai kapal Tulamben sebagai daya tarik wisata sekaligus bagian dari pengembangan ekonomi biru memperlihatkan bahwa peninggalan sejarah bawah laut dapat memberikan manfaat lebih luas apabila dikelola secara bertanggung jawab.

Namun, keberadaan situs tersebut tetap membutuhkan perlindungan. Aktivitas penyelaman yang tidak terkendali, pencemaran, serta kerusakan habitat dapat mengancam kondisi lingkungan dan nilai sejarah yang dimilikinya. Oleh karena itu, pemanfaatan situs bawah laut perlu memperhatikan daya dukung lingkungan agar kegiatan wisata tidak justru merusak objek yang menjadi daya tarik utamanya.

Mengapa Warisan Bawah Laut Berkaitan dengan Ekonomi Biru?

Ekonomi biru merupakan pendekatan pembangunan yang memanfaatkan potensi laut untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dengan tetap memperhatikan kelestarian ekosistem. Dalam konteks warisan maritim, pendekatan ini dapat diterapkan melalui pengembangan wisata bahari, penelitian bawah laut, edukasi sejarah, serta pemberdayaan masyarakat pesisir.

Situs bangkai kapal seperti USAT Liberty menjadi salah satu contoh hubungan antara pelestarian warisan bawah laut dan kegiatan ekonomi masyarakat. Aktivitas wisata penyelaman dapat membuka peluang usaha bagi masyarakat sekitar, mulai dari jasa pemandu, penyewaan peralatan selam, penginapan, hingga usaha kuliner. Dengan demikian, manfaat ekonomi tidak hanya diperoleh dari keberadaan situs tersebut, tetapi juga dapat dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Pembahasan mengenai penguatan pelestarian warisan maritim melalui riset, pemetaan, dan keterlibatan masyarakat pesisir menjadi salah satu hal penting dalam APCONF6. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi biru tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan pendapatan, tetapi juga perlu memastikan bahwa sumber daya laut tetap terjaga untuk generasi mendatang.

Masyarakat Pesisir sebagai Penjaga Warisan Laut

Pelestarian warisan maritim tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah atau lembaga penelitian. Masyarakat pesisir memiliki peran penting karena mereka berinteraksi langsung dengan lingkungan laut dan memahami kondisi wilayahnya. Keterlibatan masyarakat diperlukan dalam kegiatan pemantauan, pengawasan, pengelolaan wisata, hingga penyampaian pengetahuan lokal mengenai lingkungan perairan.

Indonesia sendiri memiliki berbagai kearifan lokal dalam mengatur pemanfaatan sumber daya laut, seperti sasi di Maluku, Panglima Laot di Aceh, dan awig-awig di Bali. Aturan tersebut menjadi contoh bahwa pengelolaan laut telah lama dilakukan melalui kesepakatan dan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. Pentingnya menghubungkan pelestarian warisan maritim dengan kearifan lokal dan kesejahteraan masyarakat pesisir juga menjadi salah satu perhatian yang disampaikan dalam penyelenggaraan APCONF6.

Pendekatan tersebut perlu terus diperkuat agar masyarakat tidak hanya menjadi pihak yang menerima dampak dari kegiatan wisata atau pembangunan pesisir, tetapi juga terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Dengan begitu, pengelolaan warisan bawah laut dapat berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Tantangan Pelestarian Warisan Maritim ke Depan

Meskipun memiliki potensi besar, pelestarian warisan budaya bawah laut masih menghadapi berbagai tantangan. Tidak semua situs bawah laut telah teridentifikasi dan terdokumentasi dengan baik. Keterbatasan pemetaan, penelitian, serta pemantauan dapat menyulitkan upaya perlindungan, terutama pada lokasi yang memiliki nilai sejarah dan ekologi penting.

Selain itu, perubahan kondisi lingkungan, pencemaran laut, kerusakan habitat, dan aktivitas manusia yang tidak terkendali dapat mempercepat kerusakan situs bawah laut. Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian warisan maritim membutuhkan dukungan ilmu pengetahuan, teknologi, kebijakan yang tepat, serta kerja sama antara pemerintah, akademisi, komunitas, dan masyarakat lokal.

Dalam hal ini, APCONF6 menjadi kesempatan untuk memperkuat pertukaran pengetahuan dan pengalaman antarnegara dalam mengelola warisan budaya bawah laut. Pembahasan mengenai penguatan kerja sama internasional dalam perlindungan situs warisan bawah laut Indonesia juga memperlihatkan bahwa upaya pelestarian membutuhkan kolaborasi lintas negara, terutama untuk situs yang memiliki keterkaitan dengan sejarah dan kepentingan internasional.

Menjaga Sejarah, Menguatkan Masa Depan Laut

Penyelenggaraan APCONF6 di Bali menjadi pengingat bahwa laut memiliki nilai yang jauh lebih luas daripada sekadar sumber daya ekonomi. Di dalamnya terdapat sejarah, identitas budaya, pengetahuan masyarakat, serta ekosistem yang saling berkaitan. Warisan budaya bawah laut perlu dipandang sebagai bagian dari kekayaan maritim yang memiliki nilai penting bagi kehidupan masyarakat saat ini maupun generasi mendatang.

Menurut saya, hal paling menarik dari pembahasan APCONF6 adalah bagaimana peninggalan sejarah seperti bangkai kapal dapat memiliki hubungan langsung dengan kehidupan ekosistem dan perekonomian masyarakat pesisir. Namun, potensi tersebut hanya dapat memberikan manfaat jangka panjang apabila pengelolaannya dilakukan secara bertanggung jawab. Pengembangan wisata bawah laut tidak seharusnya mengutamakan jumlah kunjungan semata, tetapi juga memperhatikan kondisi ekosistem dan kelestarian situs yang menjadi daya tariknya.

Pada akhirnya, ekonomi biru bukan hanya tentang bagaimana laut dapat menghasilkan keuntungan, melainkan bagaimana manusia mampu memanfaatkan potensi laut tanpa menghilangkan nilai sejarah, budaya, dan ekologis yang ada di dalamnya. Melalui kolaborasi, penelitian, serta keterlibatan masyarakat pesisir, warisan maritim dapat tetap terjaga sekaligus menjadi bagian dari masa depan pembangunan kelautan yang berkelanjutan.

Editor: Firzal Rihad Triandra

#MCPRDailyNews

Leave a Reply