Rumput Laut Indonesia dan Tantangan Menciptakan Nilai di Laut Sendiri

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki sumber daya rumput laut melimpah dan produksinya tinggi. Volume produksi rumput laut di Indonesia sudah sangat besar, bahkan KKP menyebut Indonesia menempati posisi ke-2 sebagai produsen rumput laut terbesar di dunia. Berdasarkan catatan KKP, volume produksi rumput laut Indonesia mencapai sekitar 9,8 juta ton pada 2024. Komoditas rumput laut tidak hanya sebatas pada nilai jual bahan mentah, selain menjadi bahan pangan, rumput laut memiliki berbagai aplikasi dalam industri, seperti agar, karagenan, produk kosmetik, pakan, biostimulan, bioplastik, dan bahan kemasan. Berdasarkan hal tersebut, pemerintah terus menekankan pada pengembangan budidaya dan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. 

Hal tersebut ditunjukkan pada kolaborasi KKP dengan United Nations Development Programme (UNDP) dalam meningkatkan produksi dan pengembangan budidaya rumput laut Gracilaria di Sidoarjo, Jawa Timur. Usaha tersebut disalurkan oleh KKP terhadap pembudidaya melalui rehabilitasi tambak, penyediaan bibit unggul, pwenguatan sarana produksi dan pascapanen, serta mendorong investasi di bidang pengolahan. Penguatan ini bertujuan agar produksi di lapisan pembudidaya semakin terkoneksi dengan industri pengolahan. 

Hilirisasi mendorong potensi rumput laut Indonesia dengan tidak hanya terletak pada besarnya nilai produksi, tetapi juga pada peluang pengembangan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Namun, di luar peluang tersebut, terdapat persoalan pada pihak yang memerankan alur hilirisasi tersebut. Dalam suatu rantai produksi, rumput laut yang dihasilkan pada tahap budidaya itu masih merupakan langkah awal. Komoditas tersebut harus melalui proses pengolahan lebih lanjut agar menghasilkan produk dengan nilai jual yang lebih tinggi. Dengan demikian, besarnya jumlah produksi belum menentukan seberapa besar nilai ekonomi yang berhasil diciptakan dari rumput laut Indonesia. 

Apakah besar produksi, berarti besar juga nilai ekonomi yang dapat diciptakan di negeri ini oleh satu komoditas? 

Indonesia Produsen Besar, Tetapi Masih Pemasok Bahan Baku 

Posisi Indonesia dalam struktur ekspor masih kuat dalam pemasok bahan baku, bukan pada produk hasil pengolahan. Indonesia memang sudah melakukan ekspor pengolahan rumput laut, tetapi itu masih belum cukup. Berdasarkan data KKP pada Januari-Oktober 2025, rumput laut kering menjadi komponen terbesar ekspor dengan nilai USD 144,7 juta atau 58,8% dari total ekspor rumput laut. Sementara itu, karagenan menyumbang USD 93,3 juta atau 35,3%, dan agar-agar sebesar USD 15,6 juta atau 5,9%.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya Indonesia sudah melakukan hilirisasi, namun penguatannya yang perlu ditekankan. Karagenan dan agar-agar sudah menjadi bagian dari ekspor, namun proporsi terbesar masih terletak pada rumput laut kering. Padahal, produk turunan rumput laut memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Posisi Indonesia sebagai pemasok juga terlihat dari tujuan ekspornya. Data BPS mencatat bahwa pada 2024, Tiongkok menjadi salah satu tujuan utama ekspor rumput laut dan ganggang lainnya dari Indonesia, dengan volume sekitar 206,8 ribu ton, sedangkan Korea Selatan sekitar 5,8 ribu ton. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun Indonesia memiliki bahan baku dan sebagian industri pengolahan untuk rumput laut yang dihasilkannya, masih ada ruang untuk mengubah produk menjadi lebih bernilai tambah.

Dari Bahan Mentah menjadi Produk Bernilai Tambah 

Rumput laut memiliki karakteristik yang ditandai dengan kandungan bahannya. Kandungan hidrokoloid seperti agar dan karagenan yang berfungsi untuk mendukung pemanfaatan rumput laut dalam berbagai industri. Pengolahannya dapat menghasilkan produk turunan untuk kebutuhan pangan, skin care, farmasi, pakan, dan material berbasis hayati lainnya. KKP sendiri memasukkan agar-agar, karagenan, dan berbagai produk turunan sebagai bagian dari pengembangan hilirisasi rumput laut di Indonesia. 

Nilai jual suatu produk juga ditentukan oleh proses yang dilakukan setelah bahan baku tersebut dipanen. Ketika rumput laut dikeringkan, diekstraksi, dimurnikan, diformulasikan, dan dikembangkan menjadi produk akhir, terjadi proses produksi, pengetahuan, dan proses teknologi yang menambah nilai. Artinya, semakin banyak langkah pengolahan dan pengembangan produk yang dapat dilakukan di dalam negeri, semakin besar peluang Indonesia untuk menangkap nilai dari barang tersebut. Karagenan merupakan salah satu komponen yang kuat sebagai ekspor olahan rumput laut. KKP mencatat bahwa di pasar Uni Eropa, karagenan menjadi komparasi yang unggul, dengan nilai Revealed Comparative Advantage (RCA) sebesar 6,25. 

Sebenarnya, masalah Indonesia bukanlah karena tidak mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah. Indonesia sudah memiliki kekuatan dan produk olahan yang kompetitif di pasar global. Tujuannya adalah untuk memperluas kemampuan ini sehingga lebih banyak rumput laut dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi di dalam negeri daripada hanya sebagai bahan baku.

Tantangan Indonesia dalam Menciptakan Nilai Tambah 

Indonesia mampu mengolah rumput laut menjadi produk bernilai tambah karena mereka memiliki sumber bahan baku yang besar. Namun, proses hilirisasi membutuhkan banyak hal, seperti ketersediaan bahan baku, kualitas bahan baku, teknologi, dan kapasitas pengolahan, serta hubungan antara produksi di tingkat hulu dengan kebutuhan bahan baku di tingkat hilir. KKP sebelumnya menyatakan bahwa masih ada perbedaan antara data produksi di tingkat hulu dengan kebutuhan bahan baku di tingkat hilir. Selain itu, kualitas bahan baku yang dihasilkan pembudidaya tidak selalu memenuhi standar yang ditetapkan.

Dari masalah tersebut, peningkatan produksi saja masih belum cukup untuk memperbesar  nilai ekonomi rumput laut. Terdapat standar dari industri yang tidak hanya mengandalkan jumlah yang besar, tetapi juga dibutuhkan kualitas dan kontinuitas yang sesuai. Oleh karena itu, peningkatan hilirisasi harus disertai dengan peningkatan proses budidaya, pascapanen, dan pengolahan agar produk dapat memenuhi standar. Penciptaan nilai tambah rumput laut juga membutuhkan inovasi produk yang lebih beragam. Selain produk hidrokoloid, diperlukan juga produk seperti suplemen nutrisi, pakan, biostimulan, bioplastik, dan bahan kemasan ramah lingkungan.

Satu-satunya masalah di Indonesia bukan hanya meningkatkan produksi rumput laut, tetapi juga memastikan bahwa bahan baku ini dapat dimasukkan ke industri yang mampu mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Modal awal adalah produksi besar, namun, kualitas, teknologi, kapasitas industri, inovasi, dan diversifikasi produk menentukan seberapa jauh modal tersebut dapat menghasilkan nilai ekonomi.

Pada akhirnya, keterbatasan sumber daya bukanlah satu-satunya kendala bagi pertumbuhan industri rumput laut di Indonesia. Sudah jelas bahwa Indonesia memiliki produksi yang besar dan pasar yang luas. Salah satu kendalanya adalah bagaimana sumber daya dapat diubah menjadi produk yang memiliki nilai tambah yang lebih besar. Beberapa hal yang masih perlu diperkuat termasuk keterbatasan teknologi, kapasitas industri, kualitas, dan kontinuitas bahan baku, serta hubungan antara pembudidaya dan industri.

Jika rumput laut yang dihasilkan sebagian besar masih digunakan sebagai bahan baku, saya pikir peningkatan produksi saja tidak akan cukup. Selain meningkatkan nilai ekspor, hilirisasi juga seharusnya membantu Indonesia menjadi lebih baik dalam mengolah, mengembangkan, dan membuat produk dari sumber daya lautnya sendiri. Dengan demikian, nilai ekonomi yang dihasilkan tidak hanya berasal dari banyaknya rumput laut yang diproduksi, tetapi juga dari pengetahuan, teknologi, industri, dan inovasi yang berkembang di dalam negeri.

#MCPRDailyNews

Leave a Reply