Penulis: Puan Maharani M

Sumber: Copernicus (20219)

Sumber: Global Ocean Oxygen Network (2018).
Laut mempunyai peran yang esensial bagi kehidupan di Bumi. Tidak hanya untuk menjadi habitat bagi berbagai organisme, laut juga mempunyai peran penting dalam mengatur iklim, siklus biogeokimia, dan mendukung berbagai aktivitas manusia. Namun, sebagai salah satu penopang utama kehidupan di Bumi, laut saat ini menghadapi berbagai tantangan lingkungan. Salah satu permasalahan yang semakin mendapat perhatian adalah deoksigenasi laut (ocean deoxygenation).
Deoksigenasi sendiri mengacu pada proses berkurangnya atau hilangnya oksigen dari suatu lingkungan, khususnya pada ekosistem laut. Fenomena ini bisa berlangsung secara alami melalui berbagai proses, seperti pemanasan laut dan respirasi mikroba, tetapi juga dapat semakin diperburuk oleh aktivitas manusia, termasuk pencemaran, dan masuknya nutrien berlebih ke perairan. Meskipun perubahan kadar oksigen tidak selalu bisa terlihat secara langsung dari permukaan laut, dampaknya dapat dirasakan hingga ke tingkat ekosistem.
Saat Laut Kehilangan Oksigennya
Oksigen merupakan salah satu komponen penting yang mendukung kehidupan sekaligus berbagai proses biogeokimia di laut. Oksigen bahkan telah diusulkan sebagai salah satu indikator kesehatan laut dan keberhasilan upaya restorasi dalam skala besar. Sebagai contoh, perubahan kadar oksigen dapat digunakan untuk memantau keberhasilan pengurangan beban nutrien di suatu perairan.
Saat kadar oksigen terlarut mengalami penurunan yang cukup signifikan, kondisi hipoksia bisa terjadi. Oksigen terlarut mempunyai peran yang penting untuk membentuk struktur ekosistem laut karena sebagian besar organisme memiliki batas toleransi tertentu terhadap kondisi kekurangan oksigen tersebut. Konsentrasi sekitar 1,35–2,70 ml O₂ l⁻¹, misalnya, telah dikaitkan dengan munculnya stres hipoksia pada organisme laut. Kondisi tersebut lalu bisa saja menyebabkan penyempitan habitat akibat hipoksia, yaitu berkurangnya wilayah perairan yang sesuai untuk kehidupan organisme akibat meluasnya kondisi rendah oksigen. Fenomena ini juga ditandai dengan naiknya lapisan air yang dingin dan hipoksik ke arah permukaan, sehingga kedalaman lapisan permukaan tercampur yang kaya akan oksigen menjadi semakin terbatas.
Mengapa Oksigen di Laut Bisa Terus Berkurang?
Penurunan kadar oksigen terlarut di lautan dunia tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja. Perubahan tersebut dapat berkaitan dengan meningkatnya suhu laut, penguatan stratifikasi, perubahan pola sirkulasi laut, serta interaksi berbagai proses tersebut dengan aktivitas biologis yang dalam kondisi tertentu bisa saja memicu hipoksia. Salah satu faktor utama yang berperan dalam deoksigenasi laut yaitu pemanasan global akibat perubahan iklim. Pemanasan global dapat mempengaruhi laut melalui perubahan stratifikasi serta berkurangnya kelarutan oksigen (O₂) dalam air. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap penurunan cadangan oksigen, baik di lapisan bawah permukaan maupun di perairan yang lebih dalam. Jika hal ini terus berlangsung, perubahan ini mempunyai potensi untuk menghasilkan konsekuensi besar pada produktivitas biologis laut, keberlanjutan ekosistem, serta habitat berbagai organisme.
Di sisi lain, perubahan yang berasal dari aktivitas manusia juga bisa menambah tekanan terhadap kondisi oksigen laut. Inisiatif antropogenik seperti perkembangan akuakultur laut dan berbagai rencana mitigasi berskala besar untuk meningkatkan penyerapan karbon oleh laut dapat menghadirkan tantangan baru terkait deoksigenasi. Dalam hal ini, upaya manusia untuk memanfaatkan ataupun mengatasi perubahan lingkungan laut tetap perlu mempertimbangkan kemungkinan munculnya dampak lain terhadap keseimbangan ekosistem.
Dampaknya bagi Ekosistem Laut
Penurunan kadar oksigen di laut bisa memberikan dampak yang cukup luas terhadap proses ekologis dan biogeokimia. Salah satu dampak yang menjadi perhatian adalah meluasnya zona minimum oksigen (Oxygen Minimum Zone). Perubahan pada wilayah dengan oksigen rendah ini dapat berimplikasi terhadap produksi N₂O di laut, ketersediaan nitrogen terikat, produktivitas biologis, serta kemampuan laut dalam menyerap karbon dari atmosfer melalui mekanisme pompa karbon biologis. Apabila perubahan kondisi oksigen ini berlangsung dalam jangka waktu yang panjang, struktur komunitas organisme serta fungsi ekosistem secara keseluruhan juga bisa mengalami perubahan. Perubahan tersebut pada akhirnya dapat mengubah keseimbangan komunitas dan hubungan antarorganisme di dalam ekosistem.
Tidak hanya memengaruhi proses biologis secara umum, kadar oksigen yang rendah juga dapat mengganggu sistem sensorik hewan laut yang bernapas di dalam air. Perubahan pada kemampuan penglihatan, penciuman, sampai persepsi suara dapat menjadi indikator sensitif terhadap stres akibat kekurangan oksigen. Gangguan-gangguan tersebut mempunyai potensi untuk mempengaruhi perilaku organisme, interaksi antarspesies, hingga dinamika populasi dan komunitas laut.
Menjaga Oksigen untuk Masa Depan Laut
Upaya menghadapi deoksigenasi tidak dapat hanya dipisahkan dari pengendalian perubahan iklim dan pencemaran perairan. Mengurangi emisi gas rumah kaca dan membatasi masuknya nutrien yang berlebihan ke laut juga merupakan salah satu langkah penting dalam mengurangi tekanan terhadap ekosistem. Selain itu, pemantauan kadar oksigen terlarut secara lanjut juga cukup diperlukan supaya perubahan kondisi laut bisa untuk diketahui lebih awal dan ditangani dengan lebih tepat dan cepat. Oksigen merupakan bagian dari kehidupan laut yang saling terhubung. Ketika oksigen berkurang, yang akan berubah bukan hanya kondisi kimia perairan, tetapi juga ruang hidup, perilaku organisme, produktivitas ekosistem, hingga proses-proses biogeokimia yang berperan dalam menjaga keseimbangan laut. Jika laut adalah salah satu penopang utama kehidupan di Bumi, maka menjaga oksigennya juga termasuk dalam menjaga keberlangsungan kehidupan yang bergantung padanya.
Editor: Firzal Rihad Triandra







