Penulis: Syahnaz Salsabila
Bayangkan harus mengungsi dari rumah sendiri karena api mengepung dari segala arah. Inilah yang dialami puluhan satwa liar di kawasan konservasi Indonesia dalam sebulan terakhir. Dari Kalimantan Barat sampai Jawa Timur, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memaksa taman nasional dan kawasan konservasi yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi satwa langka, berubah menjadi zona evakuasi darurat. Ironisnya, kawasan yang sudah dilindungi secara hukum pun tetap tidak berdaya menghadapi api.
Kondisi ini bukan hanya persoalan pemadaman kebakaran dan penyelamatan satwa. Karhutla juga menunjukkan rapuhnya pengelolaan kawasan konservasi ketika tekanan lingkungan melampaui batas suatu kawasan. Dalam pengelolaan wilayah pesisir dan laut, persoalan ini penting diperhatikan karena tata kelola lingkungan tidak dapat dipisahkan secara kaku antara kawasan daratan, pesisir, dan laut.
Orangutan Paling Banyak Dievakuasi di Kalimantan Barat
BKSDA Kalimantan Barat bekerja sama dengan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) untuk mengevakuasi 24 satwa liar dari 18 lokasi yang terkena dampak karhutla dari 1 Agustus hingga 10 September 2026. Orangutan paling banyak diselamatkan, dengan 15 individu, diikuti oleh trenggiling, bekantan, kukang, dan musang tenggalung. Di kabupaten Kayong Utara, api membuat akses ke hutan terputus. Tim gabungan bahkan harus menyelamatkan enam orangutan yang terjebak di perkebunan warga. Data evakuasi ini pun hanya mencakup satwa yang ditemukan hidup, tidak termasuk yang meninggal atau hilang akibat bencana.
Angka evakuasi tidak sebanding dengan tingkat kerusakan habitat. Menurut pemantauan lembaga pemerhati hutan Auriga Nusantara dari Januari hingga Juni 2026, kebakaran lahan telah menghanguskan 11.400 hektare habitat empat spesies utama: 3.964 hektare habitat harimau, 3.376 hektare habitat orangutan, 2.542 hektare habitat badak, dan 1.561 hektare habitat gajah sumatera. Artinya, rumah satwa sudah hilang jauh sebelum mereka sempat dievakuasi.
Menurut data terbaru dari BPBD Kalimantan Barat, luas lahan yang terbakar sejak awal tahun mencapai 38.310 hektare, dengan Kabupaten Ketapang 12.443,79 ha dan Kubu Raya 6.814,31 ha yang paling parah. Tinjauan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menunjukkan peningkatan drastis jumlah titik panas. Dari April hingga Juni, jumlah titik panas tidak pernah melampaui 74 titik per bulan, kemudian meningkat menjadi 615 titik pada Juli 2026. Secara nasional, ada 118.420 titik panas yang diidentifikasi, dengan luas potensial sekitar 107.649 hektare. Akibat kemarau dan asap yang parah, suhu udara di Kalimantan Tengah bahkan mencapai 45 derajat Celsius, yang memaksa pemerintah provinsi mendeklarasikan status siaga darurat bencana karhutla.
Penanganan di lapangan juga merupakan masalah besar. Di Kalimantan, setidaknya 12.880 anggota gabungan dari Manggala Agni, TNI, Polri, BNPB, BPBD, Masyarakat Peduli Api, dan relawan ditugaskan untuk memadamkan kebakaran. Selain itu, operasi modifikasi cuaca untuk memancing hujan buatan juga dilakukan di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Namun, hasilnya belum sebanding dengan luas wilayah tersebut.

Taman Nasional Bromo: Terbakar Berulang dalam Satu Musim Kemarau
Ancaman serupa juga muncul di Pulau Jawa, dan pola berulangnya lebih jelas. Kebakaran pertama di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terjadi di Blok Bantengan, Probolinggo, pada 3 Agustus 2026. Kebakaran cepat berkembang dari sekitar 176 hektare pada 9 Agustus menjadi 520 hektare sehari kemudian, dan pada akhirnya mencapai 1.121 hektare, tersebar di empat kabupaten. Tiga helikopter dari BNPB dan TNI AL digunakan untuk melakukan bom air. Setelah 15 hari operasi pemadaman, api baru benar-benar padam pada 18 Agustus. Pada 20 Agustus 2026, area wisata resmi dibuka kembali.
Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama. Hanya enam hari setelah dibuka kembali, pada 26 Agustus 2026, titik api baru muncul di Blok Ranu Kembang, dekat Ranu Kumbolo. Hal ini menyebabkan jalur pendakian Gunung Semeru ditutup secara keseluruhan. Kemudian, seperti yang dinyatakan dalam laporan ini, terjadi kebakaran lagi di Savana Pengol pada 10 September 2026, yang membuat pengelola menutup pintu masuk Jemplang untuk turis. Oleh karena itu, TNBTS mengalami setidaknya tiga episode kebakaran di blok yang berbeda-beda dalam kurang dari enam minggu. Karena lahan yang baru saja dipulihkan sangat rentan terbakar kembali selama musim kemarau masih berlangsung, situasi ini menunjukkan bahwa pemulihan kawasan konservasi pascakebakaran membutuhkan pengawasan jangka panjang daripada pemadaman sesaat.
Dalam upaya nasional untuk memerangi karhutla, pemerintah juga memperkuat upaya penyelamatan satwa. Di TNBTS, kebakaran terjadi karena ulah manusia titik api pertama muncul di daerah perbukitan di mana aktivitas manusia sering terjadi.
Bukan Cuma Kalimantan dan Jawa: Skala Nasional Melebar
Krisis tidak hanya terjadi di dua wilayah tersebut. Dari awal September 2026 hingga saat ini, 2.332 kejadian membakar lahan seluas 12.339,74 hektar di Kalimantan Selatan. Menurut data resmi SiPongi dari Kementerian Kehutanan, luas areal karhutla nasional meningkat sebesar 82.791 hektare pada 2026 dibandingkan tahun 2025. Kawasan konservasi dan hutan lindung juga tidak aman dari kebakaran: 12,4 ribu hektare hutan lindung telah hancur, sementara kebakaran juga merusak 2,8 ribu hektare Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai di Sulawesi Tenggara dan hampir 1,7 ribu hektare Taman Nasional Lorentz di Papua.
Menurut banyak pengamat lingkungan, El Nino sendiri tidak cukup untuk menjelaskan mengapa kebakaran di wilayah yang sama terjadi setiap tahun. Pengelolaan lahan, termasuk tindakan hukum terhadap pemegang konsesi yang tidak melindungi lahan mereka dari api, menentukan seberapa mudah api muncul, menyebar, dan bertahan. Cuaca kering hanya menentukan kapan lanskap mudah terbakar. Pola evakuasi darurat orangutan di Kalimantan Barat berisiko terulang tahun demi tahun jika tidak ada perbaikan dalam manajemen hulu.
Bantuan Internasional dan Operasi Pemadaman
Krisis ini juga menarik perhatian orang di seluruh dunia. Mengingat skala kebakaran yang terus meluas dan bahayanya terhadap habitat satwa ikonik seperti orangutan, Jepang menawarkan bantuan dengan helikopter water bombing untuk membantu operasi pemadaman di Kalimantan. Bantuan serupa juga diterima dari operasi water bombing yang dilakukan oleh BNPB dan TNI Angkatan Laut di Bromo, serta rapat koordinasi lintas kementerian dan pemerintah daerah untuk mempercepat verifikasi titik api karena tidak semua hotspot yang terbakar teridentifikasi.
#MCPRDailyNews
Editor: Syifa Gartika








