Penulis: Sarah Sarwahita

Sumber: detikNews – ANTARA FOTO/Fauzan
Muara Angke merupakan wilayah pelabuhan perikanan yang terletak di pantai utara Jakarta. Secara administratif, kawasan ini termasuk dalam Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara dengan luas lahan Muara sekitar 73 Ha. Muara Angke ditetapkan menjadi Pelabuhan Perikanan Nusantara berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 13/KEPMEN/-KP/2017.
Sebagai kawasan pelabuhan perikanan, aktivitas di wilayah pesisir ini sangat berkaitan dengan kegiatan perikanan, seperti pendaratan dan pelelangan hasil tangkapan, jual-beli ikan, pengolahan dan penyimpanan hasil perikanan, serta aktivitas dermaga dan kebutuhan operasional perikanan.
Fungsi kawasan tersebut pada akhirnya sangat berkaitan erat dengan kehidupan sosial masyarakat, melalui aktivitas perikanan sebagai sumber mata pencaharian. Di dalamnya terdapat interaksi antara pesisir dengan komunitas masyarakat nelayan, sehingga turut membentuk identitas sosial-budaya masyarakat Muara Angke.
Hubungan antara masyarakat Muara Angke dengan lingkungan pesisir tidak hanya sebatas pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat melalui aktivitas perikanan, tetapi juga terkandung nilai-nilai budaya maritim yang bermakna bagi komunitas nelayan. Salah satu tradisi yang berkembang di antara warga lokal Muara Angke adalah Nadran atau sedekah laut.
Nadran sebagai Bentuk Syukur kepada Laut
Nadran merupakan upacara adat yang dilakukan rutin setiap tahun di daerah pantai utara Jawa, salah satunya termasuk di Muara Angke, Jakarta. Tradisi ini juga disebut dengan Pesta Laut atau Sedekah Laut, yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil tangkapan yang diperoleh dan sebagai bentuk harapan untuk meningkatkan hasil panen di tahun-tahun selanjutnya. Selain itu, upacara ini juga menjadi wadah untuk memanjatkan doa agar diberikan kehidupan laut yang tetap damai dan terhindar dari konflik.
Tradisi ini sudah diwariskan secara turun-temurun yang memiliki makna sebagai bentuk penghormatan dari masyarakat terhadap nenek moyang. Budaya ini berakar dari masyarakat pendatang, yaitu orang Indramayu bagian pesisir yang bermigrasi ke Muara Angke dengan tujuan mencari penghasilan melalui kegiatan nelayan sampai pada akhirnya menetap di Muara Angke. Maka dari itu, mayoritas penduduk Muara Angke adalah orang-orang Indramayu pesisir, sehingga tradisi Nadran ini merupakan kebiasaan atau budaya bawaan orang Indramayu yang sudah biasa harus mereka lakukan karena merupakan pedoman hidup dan bentuk rasa syukur kepada Tuhan.

Sumber: TangerangOnline.id. (2025)
Rasa syukur tersebut diwujudkan dalam serangkaian pelaksanaan kegiatan Nadran. Salah satu acara intinya adalah prosesi penyembelihan kepala kerbau sebagai persembahan sesajen ke laut yang dihanyutkan bersama kapal-kapal nelayan yang sudah dihias. Dalam tradisi Nadran, sesajen kepala kerbau melambangkan bentuk resa syukur atas rezeki hasil laut yang melimpah sekaligus doa permohonan keselamatan bagi para nelayan saat melaut. Bukan hanya itu, kegiatan yang dilakukan selama tradisi Nadran ini juga diisi dengan pertunjukkan seni seperti pertunjukkan Barongsai, Ondel-ondel, Reog Ponorogo, drum band, serta aksi budaya lainnya. Selain itu, terdapat nilai ekologis juga di dalam acara Pesta Laut ini, berupa aksi bersih laut, dermaga, dan pesisir kawasan untuk meminimalisir dampak bencana banjir pesisir atau rob, serta juga menjadi ajang edukasi untuk isu modern seperti krisis sampah di area perairan.
Tradisi Maritim di Tengah Perubahan Kota
Muara Angke masih merupakan bagian dari wilayah perkembangan Jakarta. Muara Angke diresmikan sebagai kawasan pelabuhan perikanan pada tahun 1977. Sejak diresmikan, terdapat penambahan fungsi Muara Angke di luar sebagai pelabuhan perikanan oleh Dinas Tata Ruang DKI Jakarta. Mulai dari fasilitas perdagangan, pemukiman nelayan (rumah susun), zona eco marine, zona pelabuhan dan zona industri kelautan dan perikanan. Seiring dengan perkembangan kawasan, Muara Angke turut terlibat dalam perubahan kebutuhan kota yang sedang berkembang.
Perubahan tersebut juga tercermin dari kondisi penduduknya. Muara Angke juga merupakan wilayah perkotaan yang ditempati oleh masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Jadi, bukan hanya sekadar aktivitas nelayan saja. Sebagai wilayah perkotaan, masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di Muara Angke tidak hanya mengandalkan aktivitas perairan untuk kehidupan hariannya. Tidak semua aktivitas masyarakatnya bergantung pada sektor perikanan dan sumber daya laut.
Dengan adanya perubahan kondisi tersebut, membuat budaya masyarakat pesisir di Muara Angke menimbulkan suatu kekhawatrian. Apakah tradisi ini bisa bertahan di dalam lingkungan yang dinamis?
Pada kondisi tersebut, tradisi Nadran tetap menjadi salah satu bentuk budaya yang masih berkaitan dengan kehidupan masyarakat nelayan Muara Angke. Eksistensinya menunjukkan bahwa perkembangan kawasan dan dinamika kehidupan perkotaan tidak secara instan menghilangkan budaya yang ada. Namun, hal ini juga menimbulkan pertanyaan tentang keberadaan Nadran dalam lanskap kebudayaan Jakarta saat ini.
Apakah upacara Nadran ini sudah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Jakarta secara umum, ataukah masih terbatas sebagai warisan budaya komunitas nelayan Muara Angke semata?
Mempertahankan Makna Nadran di Tengah Modernisasi
Kehidupan masyarakat sekarang sudah didukung dengan perkembangan zaman yang semakin modern. Terutama pada masyarakat kota Jakarta. Kemajuan teknologi dan dalam era globalisasi ini memudahkan masyarakat dalam memperoleh informasi serta memungkinkan untuk berinteraksi dengan budaya luar. Hal ini memungkinkan adanya perubahan pandangan masyarakat ataupun generasi muda terhadap warisan budaya nenek moyang.
Dalam konteks Nadran Muara Angke, kondisi ini tentu menjadi tantangan dalam pelestarian budaya dan cara memaknai tradisi yang diwariskan oleh para pendahulu. Tetapi, modernisasi tidak selalu dapat menggeser tradisi. Banyak nilai-nilai dari tradisi Nadran yang berhubungan erat dengan kehidupan masyarakat seperti rasa syukur, nilai keagamaan, gotong royong, serta penghormatan terhadap laut dan lingkungan tempat masyarakat menggantungkan kehidupannya. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi pengingat hubungan antara manusia, lingkungan, dan Sang Pencipta bagi masyarakat di tengah laju modernisasi perkotaan. Di samping itu, kontinuitas suatu tradisi tidak hanya ditentukan dari apakah ritualnya masih rutin dilaksanakan, tetapi juga bagaimana pemahaman makna di baliknya.
Upaya mempertahankan warisan budaya ini dapat ditunjukkan melalui pelaksanaan yang masih secara turun-temurun dilakukan. Dinamika kehidupan masyarakat dapat memengaruhi cara generasi berikutnya dalam memandang tradisi tersebut. Memang, perkembangan teknologi dan masuknya budaya baru merupakan hal-hal yang harus diperhatikan, tetapi bukan berarti hal tersebut menjadi ancaman yang dipandang dapat menghilangkan tradisi sepenuhnya, melainkan perkembangan ini menuntut adanya peninjauan dan adaptasi agar nilai-nilai lokal dapat tetap relevan dan diterima oleh generasi muda di tengah arus modernisasi.
Pelestarian Nadran Muara Angke ini bukan hanya sekadar menjaga keberlanjutan, tetapi juga mempertahankan identitas, dan sebagai reminder masyarakat pesisir agar tetap hidup beriringan dengan zaman.
Nilai-nilai yang terkandung dalam Nadran dapat disampaikan menyesuaikan dengan perubahan zaman, tanpa menghilangkan identitas utama dari tradisi tersebut. Dengan begitu, generasi muda tetap tertarik untuk melanjutkan tradisi.
Kondisi Nadran yang berada dalam kota metropolitan kini menjadi contoh bahwa budaya itu tidak statis. Budaya dapat terus berkembang dan beradaptasi dengan lingkungan tempatnya berada. Nadran memang bukan tradisi yang berasal dari budaya Jakarta, tetapi keberadaannya sudah menjadi bagian dinamika budaya pesisir Jakarta.
Lantas, masih adakah budaya maritim di tengah kota metropolitan?
Nadran Muara Angke menjadi contoh bahwa masih terdapat ruang untuk budaya maritim bisa hidup dan terus berkembang di Jakarta. Meskipun di era modernisasi, nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ini masih dapat dimaknai dan diwariskan. Di balik citra Jakarta sebagai kota global yang terus bertransformasi, warisan budaya bawaan ini memberi pembuktian bahwa kearifan lokal mampu bertahan hingga sejauh ini, melalui adaptasi dan pemaknaan yang tepat. Nadran terus hidup sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari dinamika kebudayaan Jakarta kini.
Editor: Firzal Rihad Triandra








