Penulis: Muhammad Aldiaz Sopyan
Laut yang tampak tenang dari permukaan tidak selalu berarti air di bawahnya berada dalam kondisi yang sama. Di balik permukaan Selat Sunda, massa air terus bergerak mengikuti pengaruh pasang surut, angin, perbedaan densitas, serta karakteristik geografis perairan. Namun, bagaimana manusia dapat mengetahui arah dan kecepatan arus yang tidak dapat dilihat secara langsung? Jawabannya salah satunya datang dari teknologi akustik yang dikenal sebagai Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP). Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan setelah BMKG Selat Sunda melaksanakan Survei Meteo-Oseanografi Terpadu Selat Sunda pada 14–25 September 2026. Survei tersebut dilakukan untuk memperkuat sistem observasi dan prakiraan meteorologi-oseanografi guna mendukung keselamatan pelayaran serta meningkatkan kualitas informasi kondisi laut Indonesia. Dalam kegiatan tersebut, BMKG menggunakan sejumlah instrumen, termasuk ADCP untuk mengukur profil arus laut berdasarkan kedalaman. Selain ADCP, survei juga menggunakan Spotter Buoy, Current Meter, dan Portable Automatic Weather Station untuk memperoleh gambaran kondisi laut dan atmosfer secara langsung.
Arus Laut yang Tidak Terlihat
Arus laut merupakan salah satu komponen penting dalam memahami dinamika laut karena massa air tidak hanya bergerak di permukaan, tetapi juga mengalami perubahan arah dan kecepatan pada kedalaman yang berbeda. Informasi mengenai pergerakan tersebut dapat membantu menjelaskan bagaimana panas, nutrien, organisme, sedimen, serta berbagai material lainnya berpindah di dalam laut. Pengukuran arus menjadi bagian penting dalam oseanografi karena pola pergerakan air berkaitan dengan berbagai proses fisik, kimia, dan biologis di laut. Pemantauan arus digunakan untuk memahami pergerakan air sekaligus mendukung pengembangan prediksi arus dan model hidrodinamika.
Masalahnya, arus tidak selalu dapat diamati hanya melalui kondisi permukaan. Dua lapisan air yang berada pada kedalaman berbeda dapat memiliki arah maupun kecepatan arus yang berbeda. Karena itu, pengamatan yang hanya dilakukan pada satu kedalaman belum tentu menggambarkan kondisi seluruh kolom air. Di sinilah kebutuhan terhadap instrumen current profiler menjadi penting. Alih-alih hanya memberikan informasi mengenai arus pada satu titik, instrumen ini dapat membantu menghasilkan gambaran perubahan arus secara vertikal.
Mendengar Pergerakan Air dengan ADCP

Sumber: https://oceanexplorer.noaa.gov/technology/acoust-doppler/
Acoustic Doppler Current Profiler atau ADCP merupakan instrumen yang menggunakan gelombang suara untuk mengukur kecepatan dan arah arus pada berbagai kedalaman. Prinsip kerjanya memanfaatkan fenomena Doppler effect, yaitu perubahan frekuensi gelombang yang diterima akibat adanya pergerakan relatif antara sumber gelombang dan objek yang memantulkannya. Instrumen ini memancarkan gelombang suara yang dipantulkan oleh partikel-partikel tersuspensi di dalam air. Karena partikel tersebut bergerak bersama massa air, perubahan frekuensi sinyal pantulan dapat digunakan untuk menghitung kecepatan dan arah arus.
Dalam pengoperasiannya, ADCP memancarkan gelombang suara ke dalam kolom air. Gelombang tersebut kemudian dipantulkan oleh partikel-partikel yang tersuspensi dan bergerak bersama massa air. Perubahan frekuensi antara suara yang dipancarkan dan pantulan yang diterima kemudian digunakan untuk menghitung kecepatan pergerakan air. Waktu tempuh sinyal serta konfigurasi instrumen memungkinkan pengukuran dilakukan pada sejumlah bin atau lapisan kedalaman. Hasilnya kemudian dapat disusun menjadi water current profile yang menggambarkan perubahan arah dan kecepatan arus sepanjang kolom air.
Dari Permukaan hingga Kolom Air
Kemampuan ADCP dalam memperoleh profil vertikal menjadi salah satu keunggulan penting dalam observasi oseanografi. Instrumen ini dapat ditempatkan pada berbagai platform, seperti dasar laut, buoy, maupun kapal, tergantung kebutuhan pengamatan. Pada sistem yang dipasang di kapal, ADCP dapat memperoleh data arus sepanjang lintasan kapal sehingga menghasilkan gambaran distribusi arus pada area yang lebih luas. Studi Selat Alas yang diterbitkan pada 2025, misalnya, menyajikan data vektor arus tiga dimensi hasil pengukuran vessel-mounted ADCP di Selat Alas, Indonesia. Pengukuran tersebut dilakukan pada beberapa transek dengan kedalaman sekitar 1,71 hingga 60 meter dan dapat digunakan untuk karakterisasi perilaku arus serta kalibrasi dan validasi model hidrodinamika.
Data yang dihasilkan bukan sekadar kumpulan angka kecepatan dan arah. Ketika divisualisasikan berdasarkan kedalaman, data ADCP dapat memperlihatkan struktur arus di dalam kolom air. Bahkan, pada kondisi tertentu, lapisan permukaan dapat menunjukkan arah pergerakan yang berbeda dari lapisan di bawahnya. Pengamatan semacam ini memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai bagaimana massa air bergerak dan berinteraksi dalam suatu wilayah perairan.
Mengapa Selat Sunda Menjadi Penting?
Selat Sunda merupakan wilayah perairan strategis yang memiliki dinamika atmosfer dan oseanografi kompleks. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan BMKG melakukan observasi lapangan secara terpadu untuk memperoleh data meteorologi dan oseanografi secara langsung. Data hasil survei diharapkan dapat memperkuat sistem observasi, prediksi, dan layanan meteorologi maritim, terutama dalam mendukung keselamatan pelayaran dan aktivitas masyarakat di wilayah perairan Indonesia. Survey terpadu oleh BMKG dilakukan untuk memperoleh data in-situ sebagai bahan verifikasi dan validasi sistem observasi serta prakiraan BMKG.
Pengumpulan berbagai jenis data secara bersamaan memungkinkan kondisi laut dipahami dari berbagai aspek. Data arus dapat memberikan informasi mengenai pergerakan massa air, sementara data gelombang dan meteorologi membantu menggambarkan kondisi lingkungan yang memengaruhi dinamika tersebut. Pendekatan seperti ini menjadi penting karena kondisi laut merupakan hasil interaksi berbagai proses yang berlangsung secara bersamaan.
Membaca Laut dengan Suara
Kemajuan teknologi observasi menunjukkan bahwa memahami laut tidak selalu berarti harus melihat langsung apa yang terjadi di dalamnya. Dengan memanfaatkan gelombang suara, ADCP mampu mengubah pergerakan partikel di dalam air menjadi informasi mengenai kecepatan dan arah arus pada berbagai kedalaman. Menurut saya, perkembangan teknologi seperti ini menunjukkan bahwa masa depan oseanografi tidak hanya bergantung pada seberapa banyak kita menjelajahi laut, tetapi juga seberapa baik kita mampu membaca proses yang berlangsung di dalamnya.
Survei BMKG di Selat Sunda menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi observasi digunakan untuk memperkuat pemahaman terhadap dinamika perairan Indonesia. Semakin banyak data mengenai pergerakan massa air yang tersedia, semakin besar pula peluang untuk memahami laut secara lebih utuh, bukan hanya dari permukaannya, tetapi dari seluruh kolom air tempat berbagai proses oseanografi berlangsung.
Editor: Firzal Rihad Triandra
#MCPRDailyNews










