Penulis: M. Raihan Hidayat
Wilayah pesisir merupakan ruang yang mempertemukan berbagai aktivitas manusia dengan dinamika ekosistem laut. Perikanan, akuakultur, pariwisata, transportasi, hingga pemukiman masyarakat berkembang di ruang yang sama dan saling bergantung terhadap kondisi lingkungan. Karena itu, perubahan kecil pada ekosistem pesisir dapat berkembang menjadi persoalan yang lebih luas ketika mengganggu aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat. Salah satu ancaman yang perlu mendapatkan perhatian adalah Harmful Algal Blooms (HABs), yaitu fenomena ledakan populasi mikroalga tertentu yang dapat memberikan dampak merugikan bagi ekosistem dan manusia.
Tidak semua ledakan alga bersifat berbahaya, Namun, beberapa jenis mikroalga dapat menghasilkan toksin yang terakumulasi dalam organisme laut, sedangkan pertumbuhan biomassa dalam jumlah besar dapat meningkatkan konsumsi oksigen selama proses penguraian. Kondisi tersebut dapat menyebabkan penurunan oksigen terlarut hingga memicu kematian ikan dan organisme lainnya. Risiko ini menjadi lebih besar pada kegiatan akuakultur karena organisme yang dibudidayakan tidak dapat meninggalkan perairan yang terdampak.
Ancaman yang Berkembang di Pesisir
Dampak HABs dapat muncul ketika konsentrasi alga meningkat secara ekstrem. Sebagian spesies menghasilkan toksin yang dapat terakumulasi pada organisme laut, sedangkan ledakan biomassa alga dapat menyebabkan penurunan oksigen terlarut. Kondisi tersebut dapat berujung pada kematian ikan dan organisme lainnya. Pada sektor akuakultur, risikonya menjadi lebih besar karena organisme budidaya tidak dapat berpindah dari perairan yang terdampak.
Kekhawatiran tersebut relevan bagi Indonesia. Kepala Pusat Riset Laut Dalam BRIN, A’an Johan Wahyudi, pada Juni 2026 menyebut Indonesia masih minim dalam mengantisipasi ancaman blooming algae, padahal fenomena tersebut dapat terjadi secara periodik. Ia juga menjelaskan bahwa kelebihan nutrien dari daratan dan peningkatan suhu permukaan laut dapat mempercepat pertumbuhan plankton. Pada kondisi ekstrem, penurunan oksigen dapat menyebabkan kematian massal ikan dan mengganggu produktivitas perikanan.
Dampak yang Merambat ke Ekonomi
Dampak HABs tidak berhenti pada ekosistem. Ketika kondisi perairan dinilai membahayakan, aktivitas penangkapan atau budidaya dapat dibatasi untuk melindungi kesehatan masyarakat. Namun, penghentian aktivitas tersebut juga dapat mengurangi pendapatan masyarakat dan mengganggu kegiatan ekonomi yang bergantung pada sumber daya pesisir.
Dampaknya bahkan dapat meluas ke sektor usaha di sekitar kawasan pesisir. Penutupan kegiatan penangkapan razor clam akibat HABs di Long Beach, Washington menurunkan aktivitas pada sektor makanan, bahan bakar, akomodasi, serta usaha makanan dan minuman. Diestimasikan, penutupan satu musim penuh menimbulkan kehilangan pendapatan sekitar US$843.675 pada empat sektor tersebut.
Gangguan terhadap akuakultur juga dapat memengaruhi sistem pangan secara lebih luas. Dalam skenario ketika akuakultur semakin diandalkan sebagai sumber protein, kehilangan produksi sebesar 5% akibat HABs diperkirakan dapat menurunkan asupan protein sekitar 10-20% melalui efek berantai dalam sistem ekonomi dan rantai pasok. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa HABs merupakan risiko lintas sektor. Gangguan ekologis di laut dapat berkembang menjadi persoalan ekonomi, pangan, dan kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada wilayah pesisir.
Indonesia Mulai Membangun Sistem Deteksi Dini
Salah satu tantangan dalam menghadapi HABs adalah kemampuan mendeteksi kemunculannya sebelum dampak meluas. Karena itu, pemantauan kondisi perairan menjadi bagian penting dalam pengelolaan wilayah pesisir, terutama pada kawasan yang memiliki aktivitas perikanan dan ekonomi yang tinggi.
BRIN mengembangkan JellyHABS-GIS, sistem pemantauan terpadu yang menggabungkan data kualitas air, parameter fisik, dan kimia, serta data biologis untuk mendeteksi lebih dini HABs dan ancaman biologis lainnya Pengembangan ini juga memanfaatkan hasil pemantauan lapangan, data historis, citra satelit, dan analisis laboratorium. Tiga lokasi prioritas yang dikembangkan meliputi Teluk Jakarta, Pesisir Selatan Jawa, dan Teluk Ambon. Pemantauan menjadi lebih berguna ketika data dapat diterjemahkan menjadi informasi yang mendukung keputusan. Platform WebsiteGIS yang dikembangkan dalam program tersebut dirancang untuk menyajikan peta kualitas air, dinamika plankton, indikator HABs, serta dashboard pemantauan dalam satu sistem informasi.
Masyarakat dan Pengelolaan Adaptif dalam Sistem Peringatan Dini
Pemantauan wilayah pesisir tidak harus sepenuhnya bergantung pada lembaga penelitian atau pemerintah. Masyarakat pesisir yang beraktivitas langsung di laut dapat menjadi bagian dari sistem peringatan dini karena berada paling dekat dengan perubahan kondisi lingkungan. Pelibatan masyarakat juga dikembangkan dalam upaya membangun sistem peringatan dini terhadap ledakan alga. Pendekatan tersebut dapat memperluas jangkauan pengamatan sekaligus mempercepat penyampaian informasi ketika ditemukan indikasi perubahan kondisi perairan.
Informasi dari masyarakat tetap perlu dipadukan dengan pengamatan dan verifikasi ilmiah agar dapat menjadi dasar pengambilan keputusan. Sistem peringatan dini yang efektif tidak berhenti pada deteksi, tetapi menghubungkan pengamatan lapangan, analisis data, prediksi, penyampaian informasi, dan tindakan pengelolaan dalam satu rangkaian. Prediksi HABs dapat memberikan waktu bagi pengelola untuk menunda atau menutup kegiatan perikanan, sekaligus memungkinkan pelaku usaha mengambil langkah antisipatif untuk mengurangi potensi kerugian.
Namun, kemampuan untuk beradaptasi terhadap gangguan lingkungan tidak sama bagi setiap pelaku usaha. Pembudidaya skala kecil cenderung lebih rentan mengalami tekanan ekonomi berkepanjangan setelah penutupan akibat HABs karena memiliki akses yang lebih terbatas terhadap modal dan sumber daya adaptasi dibandingkan usaha berskala lebih besar. Karena itu, pengelolaan HABs perlu disertai komunikasi risiko yang jelas, koordinasi antarlembaga, serta dukungan bagi kelompok masyarakat yang memiliki kapasitas adaptasi lebih rendah.
Menempatkan HABs dalam Pengelolaan Pesisir Indonesia
HABs menunjukkan bahwa kesehatan ekosistem pesisir memiliki hubungan erat dengan keberlanjutan ekonomi dan kehidupan masyarakat. Karena itu, fenomena ini perlu dipandang sebagai salah satu risiko dalam pengelolaan wilayah pesisir, bukan hanya sebagai gangguan ekologis yang ditangani setelah kematian ikan terjadi. Pengelolaan juga perlu mempertimbangkan dampak yang lebih luas. Kerugian akibat HABs tidak hanya berupa kehilangan produksi, tetapi dapat mencakup kesehatan masyarakat, pariwisata, rekreasi, serta berbagai kegiatan ekonomi yang bergantung pada kondisi pesisir. Kebijakan karena itu perlu diarahkan pada pencegahan, pengurangan risiko, serta perlindungan terhadap masyarakat terdampak.
Dalam penelitian di Chile, survei terhadap 1.293 responden menunjukkan adanya kesediaan untuk membayar tambahan harga produk kerang guna mendukung sistem pemantauan dan penanganan dampak HABs. Namun, tingkat kepercayaan terhadap institusi turut memengaruhi penerimaan terhadap kebijakan tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan pengelolaan HABs tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kapasitas kelembagaan dan kepercayaan masyarakat.
Bagi Indonesia, arah pengelolaan tersebut dapat diperkuat melalui pemantauan kualitas perairan, integrasi data, pengembangan sistem peringatan dini, pelibatan masyarakat, serta koordinasi antarlembaga. Langkah tersebut diperlukan agar respons terhadap HABs tidak hanya bersifat reaktif, tetapi menjadi bagian dari pengelolaan wilayah pesisir yang mampu mengantisipasi risiko.
Pada Akhirnya, pengelolaan HABs bukan sekadar persoalan bagaimana mendeteksi ledakan alga. Tantangan utamanya adalah membangun sistem pesisir yang mampu mengenali risiko sejak dini, merespons secara tepat, dan tetap melindungi ekosistem serta masyarakat yang bergantung pada laut.
Editor: Firzal Rihad Triandra










