Pipa Bawah Laut Hadirkan Wajah Baru Ekonomi Kelautan

Penulis: Daris Az Zahra
Infrastruktur di dasar laut yang selama ini jarang terekspos kini naik ke permukaan perhatian dunia. Pipa minyak dan gas, kabel listrik, hingga kabel komunikasi bawah laut tak lagi sekadar urat nadi teknis, melainkan mulai dipandang sebagai aset strategis yang menentukan wajah baru ekonomi kelautan global, termasuk Indonesia. Perlombaan teknologi yang selama ini identik dengan medan darat dan udara kini bergeser ke dasar laut, seiring pemerintah dan perusahaan pertahanan di berbagai negara berlomba mengembangkan teknologi untuk memantau dan melindungi infrastruktur bawah laut mulai dari kabel komunikasi, pipa minyak dan gas, hingga kabel listrik. Pergeseran ini didorong oleh meningkatnya kekhawatiran atas aksi sabotase dan hybrid warfare, bentuk konflik yang menggabungkan serangan siber, sabotase energi, disinformation, hingga tekanan ekonomi.

Urat Nadi Ekonomi yang Rentan

Ancaman ini dinilai semakin serius karena sebagian besar aktivitas ekonomi global bergantung pada infrastruktur yang tersebar di dasar laut. Berdasarkan data TeleGeography, lebih dari 1,5 juta kilometer kabel komunikasi bawah laut beroperasi di seluruh dunia pada awal 2026, menjadi tulang punggung konektivitas internet dan komunikasi internasional dunia. Selain kabel telekomunikasi, jaringan pipa migas dan kabel listrik bawah laut juga menghubungkan pasar energi antarnegara, termasuk mengalirkan listrik dari ladang angin lepas pantai ke daratan.

Peneliti senior Chatham House, Katja Bego, menegaskan besarnya taruhan di balik infrastruktur ini. “Seluruh perekonomian kita dibangun di atas ini,” ujarnya, seraya menyebut perubahan lanskap ancaman yang membuat isu keamanan bawah laut akhirnya mendapat perhatian setelah lama terabaikan. Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Ledakan pipa gas Nord Stream di bawah Laut Baltik pada September 2022 yang belakangan disimpulkan sebagai aksi sabotase menjadi titik balik yang membuat negara-negara mulai menyadari kerentanan strategis infrastruktur di dasar laut.

Drone dan Investasi Besar Mengalir ke Dasar Laut

Gambar 1. Pesawat layang bawah air disebut-sebut sebagai teknologi yang dapat mengubah pemantauan paus dan strategi pertahanan Australia di masa depan

Kemajuan teknologi kendaraan otonom bawah laut atau autonomous underwater vehicles (AUV) kini dipandang berpotensi mengubah pola pengamanan di bawah permukaan laut, sebagaimana drone udara telah mengubah pola peperangan di Ukraina. Salah satu contohnya adalah GrayShark, kendaraan bawah laut otonom buatan perusahaan pertahanan Jerman Euroatlas yang mampu memeriksa pipa, mendeteksi benda mencurigakan, dan melapor ke operator tanpa kendali manusia terus-menerus.

Potensi bisnis dari tren ini pun mulai dilirik pemain besar industri pertahanan. Perusahaan galangan kapal Italia Fincantieri, misalnya, mengumumkan rencana akuisisi saham mayoritas di empat perusahaan senilai sekitar 600 juta euro atau setara 689 juta dolar AS untuk memperluas kemampuan di bidang drone bawah laut, survei kelautan, dan komunikasi bawah laut.

Meski investasi terus mengalir, mengamankan seluruh dasar laut tetap mustahil. Bahkan NATO dinilai tidak realistis jika mengklaim mampu melindungi jaringan kabel yang panjangnya lebih dari satu juta kilometer, apalagi sebagian besar infrastruktur bawah laut dunia dimiliki dan dioperasikan oleh perusahaan swasta, bukan negara.

Peluang Baru bagi Ekonomi Kelautan Indonesia

Di sisi lain, dasar laut juga membuka babak baru sebagai sumber energi terbarukan. Riset terbaru yang dipublikasikan di jurnal Energy Nexus menyoroti potensi besar energi laut. Studi tersebut menunjukkan efisiensi energi laut dapat mencapai 80–90 persen, menjadikannya salah satu sumber energi terbarukan paling andal secara teknis, sementara Indonesia memiliki banyak teluk, estuaria, dan perairan semi-tertutup yang berpotensi memanfaatkannya. Lebih dari sekadar sumber listrik, energi laut dinilai memiliki keterkaitan erat dengan ekonomi kelautan secara luas pengembangannya berpotensi mendorong industrialisasi maritim, memperkuat sektor perikanan dan akuakultur, meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, serta mendukung pembangunan pulau-pulau kecil.

Wajah Baru yang Menuntut Tata Kelola Baru

Pergeseran ini menegaskan bahwa pipa dan kabel bawah laut kini bukan lagi sekadar infrastruktur pendukung, melainkan simpul strategis yang menyatukan kepentingan ekonomi, energi, dan keamanan nasional sekaligus. Bagi Indonesia negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia dan posisi silang jalur pelayaran serta kabel dunia  tren global ini menjadi sinyal bahwa penataan ruang laut, keamanan infrastruktur, dan pengembangan energi laut perlu berjalan beriringan agar potensi ekonomi kelautan benar-benar bisa dipanen, bukan justru menjadi titik rawan baru.

Editor: Alfianu Adhi Riztawan

Leave a Reply