Ketika “Godzilla El Niño” Mengubah Laut: Masihkah Pengetahuan Tradisional Nelayan Dapat Diandalkan?

Penulis: Sela Sianturi

Laut tidak pernah benar-benar kosong dari petunjuk. Bagi masyarakat pesisir, perubahan arah angin, bentuk awan, kekuatan arus, posisi bintang, hingga kemunculan burung dan jenis ikan tertentu dapat menjadi tanda datangnya musim. Pengetahuan tersebut dibentuk melalui pengalaman panjang, diteruskan antargenerasi, dan digunakan nelayan untuk menentukan kapan harus melaut, ke mana perahu diarahkan, serta kapan perjalanan sebaiknya ditunda.

Namun, tanda-tanda yang dahulu dianggap dapat diprediksi kini berhadapan dengan laut yang semakin sulit dibaca. Perubahan iklim dan kemunculan El Niño yang sangat kuat dapat mengubah pola hujan, angin, suhu permukaan laut, arus, dan persebaran ikan. Tahun 2026, istilah “Godzilla El Niño” kembali digunakan untuk menggambarkan El Niño yang diperkirakan berkembang sangat kuat hingga 2027. Istilah tersebut terdengar mengerikan, tetapi menyimpan pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat pesisir:

“Jika pola laut berubah lebih cepat daripada pengetahuan yang diwariskan, apakah pengalaman turun-temurun nelayan masih dapat dijadikan pedoman?”

Mengapa Disebut “Godzilla El Niño”?

El Niño merupakan fase hangat dari El Niño–Southern Oscillation atau ENSO, yaitu interaksi antara laut dan atmosfer yang ditandai oleh pemanasan tidak biasa di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik tropis. Pemanasan tersebut memengaruhi sirkulasi atmosfer dan mengubah pola cuaca di berbagai wilayah dunia.

“Godzilla El Niño” bukan nama ilmiah maupun kategori resmi dalam meteorologi. Istilah itu digunakan secara populer untuk menggambarkan El Niño yang kekuatannya jauh di atas kondisi normal. Pemberitaan mengenai El Niño 2026–2027 juga menggunakan istilah super, supersized, dan “Godzilla” karena fenomena tersebut diperkirakan mencapai intensitas sangat kuat menjelang akhir 2026 hingga 2027. Laporan mengenai persiapan negara-negara Asia menunjukkan bahwa dampaknya dikhawatirkan meluas pada ketersediaan air, pangan, kesehatan, dan mata pencaharian.

Di Indonesia, dampaknya telah terlihat melalui musim kering yang memanjang dan peningkatan kebakaran hutan dan lahan. Reuters pada 16 September 2026 melaporkan bahwa kondisi super El Niño ikut memperparah kekeringan serta menunda datangnya musim hujan. Akan tetapi, pembicaraan tentang El Niño tidak seharusnya berhenti pada kekeringan di daratan. El Niño lahir dari interaksi laut dan atmosfer, perubahan yang ditimbulkannya juga penting dilihat dari perspektif masyarakat yang hidup langsung dari laut.

Laut Telah Menjadi Kalender Jauh Sebelum Ada Aplikasi Cuaca

Bagi nelayan tradisional, membaca laut merupakan kemampuan yang diperoleh melalui pengalaman, bukan sekadar kumpulan mitos. Pengetahuan tersebut tumbuh dari pengamatan berulang terhadap hubungan antara angin, arus, musim, pasang surut, dan keberadaan sumber daya laut.

Nelayan dapat mengingat pada bulan apa angin tertentu mulai berembus, jenis ikan apa yang biasanya muncul, serta kondisi seperti apa yang menandakan perjalanan melaut terlalu berbahaya. Informasi itu tidak selalu dicatat dalam tabel, tetapi disampaikan melalui percakapan, praktik melaut, cerita keluarga, dan keterlibatan langsung generasi muda di atas perahu.

Kajian mengenai pengetahuan ekologi lokal nelayan di Pulau Barrang Lompo, Makassar menunjukkan bahwa keputusan menangkap ikan terbentuk melalui interaksi yang panjang dengan lingkungan dan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Tradisi, pemilihan alat tangkap, perkiraan hasil, kebutuhan tenaga, kondisi pasar, dan pertimbangan risiko menjadi bagian dari pengambilan keputusan nelayan.

Di sebagian masyarakat Jawa, pengetahuan musim juga dikenal melalui pranata mangsa. Sistem kalender tersebut tidak hanya digunakan dalam pertanian, tetapi juga menjadi pedoman bagi nelayan dalam memperkirakan musim dan jenis sumber daya laut yang mungkin diperoleh. Kajian mengenai pranata mangsa menjelaskan bahwa pengetahuan tersebut diwariskan secara lisan dan dapat mendukung adaptasi ketika dipadukan dengan informasi ilmiah.

Artinya, laut telah lama berfungsi sebagai kalender yang hidup. Persoalannya, kalender tersebut dibentuk berdasarkan pola lingkungan yang relatif dikenali. Apa yang terjadi jika pola itu mulai bergeser?

Apa yang Berubah Ketika Laut Tidak Lagi Mengikuti Pola Lama?

El Niño tidak membuat seluruh perairan Indonesia mengalami perubahan yang sama. Pengaruhnya bergantung pada lokasi, musim, interaksi antarlaut, dan kondisi atmosfer regional. Namun, perubahan suhu permukaan laut, curah hujan, angin, arus, serta proses naiknya massa air dari kedalaman dapat memengaruhi produktivitas perairan dan keberadaan ikan.

Ikan tidak tersebar secara acak. Banyak jenis ikan mengikuti kondisi suhu, makanan, kadar oksigen, salinitas, dan habitat yang sesuai. Ketika kondisi tersebut berubah, lokasi dan musim kemunculannya juga dapat bergeser. Kajian mengenai perubahan iklim dan perikanan tropis menunjukkan bahwa perubahan kondisi laut dapat memengaruhi distribusi sumber daya ikan, produktivitas perikanan, dan mata pencaharian masyarakat pesisir.

Bagi nelayan, pergeseran tersebut dapat terlihat dalam bentuk yang sangat praktis. Ikan yang biasanya ditemukan pada jarak tertentu mungkin muncul lebih jauh. Musim tangkap dapat datang lebih lambat atau berlangsung lebih singkat. Nelayan perlu menggunakan bahan bakar lebih banyak, menghabiskan waktu lebih lama di laut, atau kembali tanpa hasil yang sebanding.

Perubahan tidak hanya memengaruhi hasil tangkapan, tetapi juga keselamatan. Arah angin yang berubah, gelombang yang muncul di luar kebiasaan, dan cuaca yang sulit diperkirakan dapat membuat pengalaman masa lalu tidak selalu cukup untuk membaca risiko hari ini.

Ketika nelayan mengatakan bahwa “musim sudah berubah”, pernyataan tersebut sebenarnya merupakan hasil pengamatan lingkungan. Mereka membandingkan kondisi yang sedang terjadi dengan ingatan terhadap musim-musim sebelumnya. Dengan demikian, pengalaman nelayan dapat menjadi catatan awal mengenai perubahan laut yang kadang tidak tertangkap oleh data jangka pendek.

Apakah Pengetahuan Tradisional Sedang Gagal?

Ketika tanda alam tidak lagi menghasilkan prediksi yang sama, mudah untuk menyimpulkan bahwa pengetahuan tradisional telah kehilangan kegunaannya. Namun, kesimpulan tersebut terlalu sederhana.

Pengetahuan lokal tidak lahir sebagai rumus yang kaku. Ia berkembang melalui proses mengamati, mencoba, mengingat, dan menyesuaikan diri. Jika pola lingkungan berubah, pengetahuan tersebut juga dapat berubah. Persoalan utamanya bukan apakah pengetahuan tradisional benar atau salah, melainkan apakah masyarakat pesisir memiliki kesempatan untuk memperbarui pengetahuannya ketika perubahan terjadi semakin cepat.

Di sisi lain, teknologi dan model iklim juga tidak memiliki kepastian mutlak. Penelitian terbaru yang dipublikasikan oleh NOAA Pacific Marine Environmental Laboratory menunjukkan bahwa model iklim masih memiliki keterbatasan dalam menggambarkan beberapa interaksi awan, laut, dan atmosfer yang memengaruhi perkembangan El Niño. Hal ini tidak berarti prakiraan ilmiah tidak dapat dipercaya, tetapi menunjukkan bahwa laut merupakan sistem yang sangat kompleks.

Pengetahuan tradisional memiliki kekuatan pada kedalaman pengalaman lokal. Nelayan mengetahui perubahan pada lokasi tertentu melalui interaksi langsung dan berulang. Sebaliknya, sains dan teknologi memiliki kekuatan dalam membaca pola yang lebih luas melalui satelit, radar, pelampung, dan pemodelan oseanografi. Keduanya bekerja pada skala berbeda dan dapat saling melengkapi.

Ketika Telepon Genggam Ikut Naik ke Atas Perahu

Perubahan budaya maritim dapat dilihat dari benda-benda yang kini dibawa nelayan saat melaut. Selain alat tangkap dan perbekalan, sebagian nelayan mulai membawa telepon genggam, GPS, aplikasi cuaca, serta informasi arah angin dan gelombang.

Kehadiran teknologi bukan berarti nelayan berhenti membaca laut. Sebelum berangkat, informasi digital dapat dibandingkan dengan keadaan langit, angin, dan gelombang yang diamati langsung. Apabila keduanya menunjukkan risiko, perjalanan dapat ditunda. Jika informasi berbeda, pengalaman lokal dapat membantu nelayan menafsirkan apakah prakiraan tersebut sesuai dengan kondisi perairan di sekitarnya.

Pemerintah mulai mengembangkan ruang pembelajaran yang mempertemukan kedua bentuk pengetahuan tersebut. Melalui Sekolah Lapang Cuaca Nelayan, BMKG memberikan edukasi mengenai prakiraan cuaca dan informasi meteorologi maritim untuk mendukung keselamatan serta produktivitas nelayan.

Penguatan informasi maritim juga dilakukan melalui pengamatan langsung. Pada September 2026, BMKG melaksanakan Survei Meteo-Oseanografi Terpadu di Selat Sunda. Survei tersebut menggunakan instrumen pengukur arus, gelombang, dan kondisi atmosfer untuk memvalidasi sistem prakiraan serta meningkatkan akurasi informasi kondisi laut.

Prakiraan yang terlalu teknis, keterbatasan jaringan komunikasi, kepemilikan perangkat, serta perbedaan kondisi antarlokasi dapat menghambat pemanfaatannya. Penyampaian informasi tidak cukup hanya melalui aplikasi. Nelayan perlu dilibatkan dalam proses menerjemahkan data menjadi keputusan yang dapat digunakan sebelum dan selama melaut.

Haruskah Nelayan Memilih antara Tanda Alam dan Data Digital?

Pengetahuan tradisional dan teknologi tidak seharusnya dipandang sebagai dua hal yang saling menggantikan, seolah-olah nelayan harus memilih antara mengikuti tanda-tanda alam atau menggunakan informasi ilmiah. Dalam menghadapi fenomena ekstrem seperti El Niño, keduanya justru dapat saling melengkapi. Pengetahuan lokal memberikan pemahaman perubahan yang terjadi pada skala yang lebih spesifik, seperti kampung, teluk, pulau, hingga daerah penangkapan tertentu. Sementara itu, data satelit dan prakiraan meteorologi dapat memberikan gambaran yang lebih luas mengenai perubahan cuaca, gelombang, suhu permukaan laut, serta potensi bahaya yang tidak selalu dapat diamati langsung dari atas perahu.

Penggabungan kedua jenis pengetahuan tersebut perlu dilakukan melalui dialog dan partisipasi masyarakat. Pengetahuan lokal berkaitan erat dengan pengalaman, wilayah, bahasa, dan hubungan sosial masyarakat yang memilikinya. Nelayan dapat dilibatkan dalam pencatatan perubahan musim penangkapan, kemunculan jenis ikan, arah arus, kejadian cuaca yang tidak biasa, serta lokasi yang berisiko. Informasi tersebut kemudian dapat dibandingkan dengan data oseanografi dan meteorologi sehingga prakiraan ilmiah dapat diuji berdasarkan kondisi nyata di lapangan, sekaligus membantu nelayan memperoleh informasi tambahan untuk beradaptasi terhadap perubahan pola laut.

Budaya Maritim Bukan Pengetahuan yang Diam.

Lebih dari itu, budaya maritim juga mencakup kemampuan masyarakat pesisir dalam mengamati, memahami, dan merespons perubahan kondisi laut. Fenomena “Godzilla El Niño” menunjukkan bahwa pengetahuan tentang laut bukanlah sesuatu yang bersifat tetap dan selesai, karena perubahan pola laut dapat memengaruhi cara masyarakat membaca serta memahami tanda-tanda alam yang selama ini menjadi pedoman dalam aktivitas mereka.

Dalam kondisi laut yang semakin sulit diprediksi, pengetahuan tradisional dan teknologi seharusnya tidak diposisikan sebagai dua hal yang saling menggantikan. Pengetahuan dan pengalaman nelayan tetap memiliki nilai penting, sementara teknologi dapat digunakan untuk memperkuat kemampuan masyarakat dalam memahami perubahan lingkungan laut. Dengan demikian, budaya maritim dapat terus berkembang tanpa kehilangan pengalaman dan identitas masyarakat pesisir. Kemampuan untuk membaca, memahami, dan beradaptasi terhadap perubahan laut menjadi bagian penting dari budaya maritim yang perlu dipertahankan dan diwariskan.

#MCPRDailyNews

Editor: Syifa Gartika

Leave a Reply