Penulis: Syifa Gartika
Bayangkan dua koloni karang hidup berdampingan ketika suhu laut meningkat. Keduanya menghadapi tekanan panas yang sama. Namun, ketika satu koloni kehilangan warna dan memutih, koloni di sebelahnya masih mampu bertahan.
Perbedaan ini menjadi semakin penting ketika pemutihan karang terjadi dalam skala global. Sekitar 84% kawasan terumbu karang dunia telah mengalami tekanan panas tingkat pemutihan. Namun, tidak semua karang merespons tekanan dengan cara yang sama. Beberapa populasi mampu bertahan pada kondisi yang bagi karang lain sudah tergolong ekstrem. Karang ini umum disebut super corals.
Nama tersebut memang terdengar seperti karang yang tidak terkalahkan. Padahal, super coral bukan berarti kebal terhadap perubahan iklim. Keberadaannya justru menunjukkan bahwa setiap jenis dan populasi karang dapat memiliki tingkat kerentanan yang berbeda.
Apa yang Membuat Karang Disebut Super?
Istilah super coral bukan klasifikasi biologis tertentu, namun digunakan secara populer untuk menggambarkan karang yang menunjukkan kemampuan luar biasa menghadapi kondisi lingkungan tertentu.
Kemampuan tersebut dapat dipengaruhi berbagai proses. Penelitian menunjukkan bahwa aklimatisasi dan adaptasi lokal dapat berkontribusi terhadap toleransi panas. Karang yang lebih toleran juga dapat menunjukkan respons gen terhadap panas yang berbeda dibandingkan karang dari lingkungan yang lebih moderat.
Namun, kemampuan itu tetap memiliki batas. Super berarti lebih tangguh dalam menghadapi tekanan tertentu, bukan mampu bertahan terhadap peningkatan suhu tanpa batas.
Raja Ampat Punya Karang Tangguh
Contohnya dapat ditemukan di Indonesia.
Penelitian YKAN bersama mitra, termasuk BRIN, menguji ketahanan termal delapan spesies karang di Misool Selatan, Raja Ampat, Papua Barat Daya. Fragmen karang dikumpulkan dari kedalaman 1–5 meter di tiga lokasi, yaitu Stasiun Kalig, Salabafunuatsa, dan Pulau Yuf, kemudian diuji pada suhu 34–37°C.
Dari delapan spesies yang diuji, dua menunjukkan ketahanan suhu lebih baik dibandingkan spesies lainnya, yaitu Porites lobata dan Porites cylindrica. Keduanya dapat dipandang sebagai kandidat karang toleran panas yang paling dekat dengan konsep populer super corals di Indonesia.
Keduanya juga mempunyai bentuk yang berbeda. Porites lobata biasanya membentuk koloni besar menyerupai kubah dan dapat ditemukan mendominasi tepian back reef, laguna, dan sebagian fringing reef. Sementara Porites cylindrica tumbuh bercabang dan membentuk ruang-ruang kecil di antara cabangnya.
Perbedaan bentuk tersebut penting karena karang bukan sekadar organisme yang hidup di terumbu. Mereka juga membentuk habitat bagi organisme lainnya.
Ketika Karang Tangguh Ikut Menjaga Ekosistem
Kemampuan Porites bertahan terhadap panas mempunyai arti lebih besar daripada sekadar mempertahankan satu koloni karang.
Struktur bercabang P. cylindrica, misalnya, menciptakan celah-celah kecil yang dapat menjadi mikrohabitat bagi organisme berukuran kecil. Penelitian mengenai struktur habitat terumbu menunjukkan bentuk bercabang P. cylindrica menghasilkan kompleksitas struktural yang tinggi pada skala kecil dan dapat memberikan ruang berlindung bagi ikan kecil maupun juvenil dari predator.
Sementara itu, koloni besar P. lobata merupakan salah satu jenis karang pembentuk terumbu yang dapat tumbuh hingga berukuran beberapa meter. Keberadaan karang-karang pembentuk struktur seperti Porites membantu mempertahankan kompleksitas fisik terumbu yang menjadi dasar habitat berbagai organisme laut.
Artinya, jika karang yang relatif tahan panas mampu bertahan ketika spesies lain mengalami penurunan, mereka berpotensi membantu mempertahankan struktur dan fungsi habitat terumbu di tengah meningkatnya tekanan iklim.
Namun, kemampuan menghadapi panas tidak berarti mereka aman dari seluruh gangguan. Sedimentasi, pencemaran, sampah, aktivitas perikanan, dan pembangunan pesisir tetap dapat menurunkan kondisi ekosistem tempat karang tersebut hidup.
Dari Super Corals ke Pengelolaan Pesisir
Penelitian di Misool Selatan sendiri tidak hanya dilakukan untuk mengetahui spesies mana yang paling tahan panas. Hasilnya diarahkan untuk mendukung penguatan zonasi Kawasan Konservasi Perairan Raja Ampat dan perencanaan spasial kelautan berbasis sains.
Informasi mengenai lokasi karang yang lebih tahan dapat membantu pengelola mengenali kawasan yang layak memperoleh prioritas perlindungan, monitoring, maupun restorasi.
Pertanyaan pengelolaan akhirnya tidak lagi berhenti pada “di mana terdapat terumbu karang?”, tetapi berkembang menjadi “terumbu mana yang mempunyai peluang lebih besar untuk bertahan ketika laut semakin panas?”
Karena super corals bukan pahlawan yang dapat menyelamatkan terumbu sendirian. Bahkan karang yang paling tangguh tetap membutuhkan kualitas perairan yang baik dan ekosistem yang sehat.
Pada akhirnya, temuan Porites lobata dan Porites cylindrica di Raja Ampat memberikan pesan sederhana: ketangguhan alami karang sudah ada. Tantangan kita adalah mengetahui di mana mereka berada dan memastikan pesisir tempat mereka bertahan ikut terlindungi.
#MCPRDailyNews
Editor: Alfianu Adhi Riztiawan








