Penulis: Muhammad Ramzy Andyan Mahendra

Indonesia sedang membangun ambisi menjadi pemain global logam tanah jarang (Rare Earth Element/REE), dengan sumber utama berupa monasit sebagai produk ikutan tambang timah di Kepulauan Bangka Belitung. Namun ambisi ini bertumpu pada model ekstraksi laut dan pesisir yang selama puluhan tahun terbukti merusak terumbu karang, padang lamun, dan mangrove, sekaligus membawa risiko pencemaran logam berat dan radionuklida (torium) ke badan air. Di sisi lain, riset menunjukkan bahwa diatom dan mikroalga laut memiliki kapasitas biosorpsi yang relevan untuk menyerap REE maupun radionuklida dari perairan tercemar. Kajian ini menyandingkan kedua isu tersebut dan mengusulkan agar kapasitas biosorpsi mikroalga/diatom dijadikan bagian dari instrumen kebijakan mitigasi lingkungan dalam tata kelola pertambangan REE berbasis laut di Indonesia.

Sumber: IOP Science, Peta sebaran unsur tanah jarang menunjukkan bahwa potensi REE di Indonesia.
Ambisi REE Indonesia: Antara Klaim dan Realitas
Potensi REE terbesar di Indonesia berada di Bangka Belitung (207.397 ton, mayoritas monasit), dan Presiden Prabowo Subianto menyebut Indonesia memiliki hampir seluruh jenis REE dunia meski potensinya belum termanfaatkan. Pada Februari 2026, delapan blok tambang berpotensi REE teridentifikasi di Kalimantan, Sulawesi, dan Bangka Belitung, dengan BUMN Perminas (di bawah Danantara) ditugaskan mengembangkannya lewat proyek percontohan di Mamuju.
Namun, kajian pasar independen mencatat hingga pertengahan 2026 Indonesia belum punya produksi REE komersial sehingga semua masih tahap eksplorasi, sementara PT Timah mengaku masih terkendala kualitas monasit. Jalur ilegal pun sudah lebih dulu berjalan lewat laut: TNI AL mencegat tongkang bermuatan ~390 ton mineral mengandung unsur radioaktif ilegal di perairan Kepulauan Riau, Mei 2026.
Preseden Kerusakan Laut dari Tambang Timah
Karena REE bersumber dari monasit ikutan timah, kerusakan laut Bangka Belitung adalah preseden langsung: tutupan karang hidup hanya 16,50% di lokasi terdampak tambang laut; luas terumbu karang anjlok dari 82.259 ha (2015) menjadi 17.744 ha (2017); dan mangrove menyusut ~230.000 ha (2017–2022). Studi di Marine Pollution Bulletin menemukan kekeruhan (TSS) dari tambang laut berkorelasi signifikan dengan hilangnya padang lamun. Direktur Walhi Babel menyebut ekosistem pesisir wilayah ini “menuju keruntuhan.”
Risiko tambahan REE: monasit mengandung torium, yaitu zat radioaktif yang butuh waktu sangat lama untuk meluruh. Artinya, kalau limbah pengolahan monasit tidak ditangani dengan hati-hati, sedimen di sekitar pabrik pengolahan berisiko tercemar radioaktif dan risiko ini belum banyak dibahas dalam kebijakan REE nasional saat ini.
Diatom dan Mikroalga sebagai Instrumen Mitigasi

Sumber: ScienceDirect, Diatom memiliki dinding sel berbasis silika yang dapat berperan dalam proses biosorpsi logam dari perairan tercemar.
Biosorpsi adalah proses di mana ion logam menempel dan terikat pada permukaan sel organisme tertentu, tanpa perlu proses kimia yang rumit atau mahal—sehingga metode ini dianggap sebagai teknologi hijau yang murah untuk mengambil kembali REE dari air yang tercemar. Bukti nyatanya datang dari dua jenis diatom laut, Nanofrustulum shiloi dan Halamphora kolbei, yang terbukti mampu menyerap dan mengumpulkan lantanum (salah satu unsur REE) menggunakan frustula, yaitu dinding sel mereka yang terbuat dari silika.
Kemampuan serupa juga ditemukan pada mikroalga dan mikroorganisme lain yang sejenis, yang memperkuat gambaran bahwa organisme kecil ini punya potensi besar sebagai penyerap logam. Sebagai contoh, mikroalga Chlorella vulgaris terbukti mampu menyerap torium termasuk unsur radioaktif yang sering ikut muncul dalam pengolahan REE. Kapasitas penyerapan hingga 104 miligram per gram biomassa. Ada juga sianobakteria jenis Nostoc sp. yang mampu menyerap REE hingga 91,5 milligram per gram. Selain jenis organismenya, kondisi lingkungan seperti tingkat keasaman (pH) air juga sangat memengaruhi seberapa efektif proses penyerapan ini berlangsung, khususnya pada mikroalga yang hidup di lingkungan asam.
Sintesis dan Rekomendasi Kebijakan
Sumber risiko (tambang laut) dan sumber solusi (diatom/mikroalga) berada di ekosistem yang sama, namun riset biosorpsi REE pada diatom laut spesies asli Indonesia masih sangat terbatas, dan regulasi bioremediasi nasional (Kepmen LH No. 128/2003) belum menjangkau kontaminan REE-radionuklida di laut. Rekomendasi:
- AMDAL proyek REE laut wajib memasukkan parameter torium dan REE terlarut di sedimen.
- Dorong pilot project bioremediasi berbasis diatom/mikroalga asli perairan Bangka Belitung.
- Perluas regulasi bioremediasi nasional mencakup kontaminan REE-radionuklida, tidak hanya limbah migas.
- Perketat pengawasan jalur maritim rantai pasok REE mengingat kasus penyelundupan yang telah terjadi.
- Integrasikan pemantauan ekologi (kesehatan lamun/karang) dengan pemantauan geokimia REE-torium di kawasan calon tambang.
Kesimpulan
Ambisi REE domestik Indonesia beralasan secara ekonomi-geopolitik, tetapi jalur realistisnya via monasit-timah laut mewarisi risiko ekologis yang sudah terbukti di Bangka Belitung. Kapasitas biosorpsi diatom dan mikroalga selayaknya tidak hanya menjadi objek riset laboratorium, tetapi diintegrasikan ke kebijakan mitigasi pesisir-laut sebelum ekspansi industri ini berjalan lebih jauh.
Editor: Alfianu Adhi Riztiawan








