Sinergi Keamanan Laut dan Industri Pesisir, RI-Prancis Inspeksi Proyek Scorpène

Penulis: Daris Az Zahra

Komitmen penguatan benteng maritim Indonesia memasuki babak yang kian krusial. Di tengah perubahan politik internasional yang terus berlangsung, Menteri Pertahanan Prancis langsung mengunjungi pusat industri pembuatan kapal nasional di PT PAL Indonesia, Surabaya. Kunjungan strategis ini dilakukan untuk memeriksa secara rinci kemajuan proyek pembuatan kapal selam Scorpène Evolved, alutsista modern yang memiliki nilai strategis. Kapal selam ini tidak hanya dibuat untuk memperkuat pasukan tempur TNI Angkatan Laut, tetapi juga menjadi tanda perubahan besar dalam proses transfer teknologi militer antara Paris dan Jakarta.

Mengawal Alih Teknologi Scorpène dari Teori ke Wujud Nyata 

Gambar 2. Momen Taruna AAL saat menyambut kunjungan Wamenhan dan Menhan Prancis

Kemitraan antara kedua negara tidak hanya memperhatikan hasil akhir, tetapi juga meningkatkan kemampuan sumber daya manusia secara menyeluruh. Rangkaian kunjungan diawali dari Akademi Angkatan Laut (AAL) sebagai simbol pembinaan fondasi akademik dan kepemimpinan militer, sebelum berlanjut menuju kawasan industri galangan kapal PT PAL. Perjalanan dari akademi hingga galangan tersebut menunjukkan bahwa skema alih teknologi tidak hanya berhenti di atas kertas atau di dalam kelas, melainkan diwujudkan secara nyata di tempat produksi.

Di fasilitas galangan, rombongan mendapatkan penjelasan yang lengkap dari manajemen PT PAL Indonesia dan mitra industri dari Prancis, Naval Group, mengenai pemetaan teknis serta kemajuan dalam program pembangunan kapal selam Scorpène. Setelah mendengarkan penjelasan, rombongan langsung bergerak untuk mengecek secara langsung berbagai fasilitas utama dan area kerja guna memastikan kesiapan infrastruktur manufaktur lokal secara detail.

Ruang Bicara Strategis Penguat Kemitraan Indonesia-Prancis

Menteri Pertahanan Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin, menerima kunjungan Menteri Pertahanan Prancis, Catherine Vautrin, dalam rangka misi PEGASE 2026 di Jakarta. Pertemuan penting ini secara resmi memulai pelaksanaan pertama Dialog Tingkat Menteri Pertahanan Tahunan Indonesia-Prancis dimana sebuah forum strategis yang dibentuk agar kedua negara dapat bersama-sama menyelaraskan arah kebijakan keamanan serta industri pertahanan mereka.

Dalam forum tersebut, Menhan Sjafrie menyoroti dua pencapaian besar dalam kerja sama antara kedua negara. Pertama, momen penting saat jet tempur Rafale pertama tiba di Indonesia. Kedua, dimulainya pemotongan baja pertama (first steel cutting) untuk pembuatan kapal selam kelas Scorpène Evolved oleh PT PAL Indonesia.

Tidak hanya terbatas pada peralatan militer, kerja sama ini juga melibatkan bidang pelatihan dan pendidikan militer. Kedua negara berencana menggelar latihan bersama bernama Garuda Guerrier yang akan diadakan di Prancis pada bulan November 2026, serta berkomitmen untuk memperluas program pertukaran perwira dalam bidang pendidikan strategis.

Pemotongan Baja Perdana Penanda Awal Produksi Fisik 

Puncak peninjauan tertuju pada kesiapan first steel cutting (pemotongan baja perdana) kapal selam Scorpène pertama pasca penandatanganan kontrak dua unit pada tahun 2024. Proyek kolaborasi antara PT PAL dan Naval Group ini mengusung konsep Whole Local Production, di mana dua unit kapal dibangun secara mandiri di galangan Surabaya dengan dukungan shiplift berkapasitas 9.240 ton. Guna menyokong proses manufaktur kapal berteknologi Advanced and Improved Propulsion (AIP) sepanjang 71 meter dan berkecepatan 20 knot tersebut, puluhan insinyur PT PAL telah dikirim ke Cherbourg, Prancis. Sinergi ini diapresiasi oleh Wamenhan RI sebagai pilar utama menuju kemandirian industri pertahanan maritim Indonesia.

Mengapa Penting bagi Industri Pesisir?

Proyek Scorpène Evolved memberikan dampak nyata bagi daerah pesisir Surabaya dan sekitarnya, yang secara langsung membangkitkan kembali ekosistem maritim lokal secara menyeluruh. Skema produksi penuh di galangan PT PAL tidak hanya menumpahkan kegiatan di area manufaktur, tetapi juga mendorong berbagai industri pendukung di daerah pesisir, mulai dari para pemasok komponen hingga penyedia jasa pengangkutan barang.

Di saat yang sama, proyek ini memiliki nilai strategis karena meningkatkan kapasitas sumber daya manusia lokal secara signifikan. Ribuan pekerja las, teknisi, hingga insinyur di daerah pesisir mendapatkan transfer pengetahuan dengan standar internasional, terutama dalam mengolah baja bertekanan tinggi dan mengintegrasikan teknologi modern. Dengan pengoptimalan infrastruktur pesisir seperti dermaga khusus dan alat pengangkat kapal berkapasitas 9.240 ton pembangunan ini memastikan bahwa kedaulatan dan keamanan perairan Nusantara di masa depan berlandaskan kuat pada kemampuan industri dalam negeri.

#MCPRDailyNews

Leave a Reply