Point Nemo dan Pemanfaatan Ruang Laut untuk Wahana Antariksa

Penulis: Yasmine Indra Lubis
Point Nemo merupakan titik pada Samudra Pasifik Selatan yang dikenal sebagai salah satu lokasi paling terpencil di bumi dan paling jauh dari daratan mana pun di Bumi. Titik ini berada sekitar  1.670 kilometer dari tiga daratan terdekat, yaitu Dulce Island, Motu Nui, dan Maher Island. Dikarenakan berada di tengah lautan dan jauh dari jalur pelayaran utama, lokasi ini menjadi salah satu lokasi yang paling sulit dijangkau manusia. Kawasan ini memiliki produktivitas biologis yang rendah, walaupun tetap ditemukannya mikroplastik. Dasar laut wilayah ini juga dijadikan sebagai salah satu kawasan yang digunakan untuk menjatuhkan wahana antariksa yang sudah tidak digunakan.

Lokasinya berada pada South Pacific Gyre, sebuah sistem arus laut besar yang berputar di Pasifik Selatan. Pergerakan arus tersebut membuat perairan pada kawasan ini relatif sulit mendapatkan pasokan nutrisi dari wilayah ini. Akibatnya, produktivitas biologis wilayah ini termasuk rendah. Dikarenakan adanya aktivitas biologis yang rendah, kawasan ini termasuk kawasan yang paling jernih di lautan. Point Nemo bukan tempat dengan terumbu karang yang ramai atau kawasan ikan yang melimpah.

Point Nemo sebagai “Tempat Pembuangan” Wahana Antariksa

Kawasan ini juga menjadi salah satu lokasi yang digunakan untuk menjatuhkan kembali wahana antariksa yang sudah tidak digunakan. Pesawat luar angkasa, satelit, atau bagian roket yang terlalu besar untuk terbakar seluruhnya saat memasuki atmosfer dapat diarahkan agar jatuh ke kawasan point nemo. Alasan utamanya sederhana, dikarenakan jauh lebih aman menjatuhkan benda antariksa ke laut yang hampir tidak dilalui kapal dibandingkan membiarkannya jatuh secara tidak terkendali ke wilayah berpenduduk. Karena itu, kawasan Point Nemo disebut sebagai “spacecraft cemetery” atau kuburan wahana antariksa.

Wahana antariksa yang sudah tidak digunakan tidak langsung dibuang ke laut, tetapi diarahkan kembali ke Bumi melalui proses controlled re-entry. Operator terlebih dahulu akan melakukan manuver deorbit untuk menurunkan orbit wahana, kemudian mengatur lintasannya agar memasuki atmosfer pada area yang telah ditentukan. Saat melewati atmosfer dengan kecepatan sangat tinggi, sebagian besar struktur wahana kan terbakar atau hancur, tetapi akan ada beberapa komponen yang dapat bertahan dan jatuh ke permukaan laut. Pemilihan zona ini juga mempertimbangkan jalur pelayaran, wilayah yurisdiksi, serta kawasan laut yang perlu dihindari sehingga risiko terhadap manusia dan lingkungan dapat diminimalkan.

Ruang Laut Bukan Ruang Kosong 

Penggunaan Point Nemo sebagai lokasi controlled re-entry menunjukkan bahwa ruang laut yang jauh dari daratan pun tetap perlu dikelola dengan baik. Pada Marine Coastal and Zone Management, laut memiliki berbagai fungsi yang saling berkaitan, mulai dari fungsi ekologis, pelayaran, hingga pemanfaatan ruang untuk berbagai kepentingan. Maka dari itu, penentuan lokasi jatuhnya wahana antariksa seharusnya tidak hanya melihat faktor keamanan dan jaraknya dari manusia, tetapi juga mempertimbangkan kondisi ekosistem dan aktivitas kelautan dan keberlanjutan sumber daya laut yang pada akhirnya berkaitan dengan masyarakat yang bergantung pada laut. Pengelolaan laut yang terintegrasi menjadi penting agar pemanfaatan laut untuk kebutuhan baru tetap berjalan tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan laut.


Editor: Alfianu Adhi Riztiawan

Leave a Reply