Ketika Sampah Plastik Laut Menggerus Pendapatan Nelayan

Penulis: Raihan Wisnu Ramadhan

Sampah plastik di laut tidak hanya berdampak pada ekosistem, tetapi juga memengaruhi aktivitas dan pendapatan nelayan. Sampah yang tersangkut pada alat tangkap atau menumpuk di wilayah penangkapan dapat meningkatkan biaya operasional dan mengurangi efisiensi kegiatan melaut. Dampak ini menjadi persoalan tersendiri bagi nelayan skala kecil yang memiliki keterbatasan sumber daya untuk menyesuaikan aktivitas penangkapannya.

Gambaran tersebut terlihat dalam penelitian Analisis Dampak Sampah Plastik di Laut terhadap Aktivitas Nelayan Skala Kecil di Jakarta yang diterbitkan pada 2022. Penelitian ini mencatat peningkatan biaya operasional sebesar 69,5% dan penurunan pendapatan per perjalanan hingga 38% pada kelompok nelayan tanpa kapal.

Dampak terhadap kegiatan penangkapan ikan

Perubahan biaya dan pendapatan tersebut berkaitan dengan gangguan yang ditimbulkan sampah plastik terhadap aktivitas penangkapan ikan. Nelayan dapat menghadapi tambahan waktu untuk membersihkan alat tangkap, perubahan jarak menuju lokasi penangkapan, serta penurunan efisiensi selama melaut.

Dampak ekonomi serupa ditemukan dalam penelitian di Vietnam berjudul Marine Plastic Pollution Undermines the Livelihoods and Income of Fishing Communities in Viet Nam, yang diterbitkan pada 2026. Studi terhadap nelayan di Delta Mekong dan Delta Sungai Merah memperkirakan kerugian ekonomi median sekitar US$3.421 per kapal per tahun. Kerugian tersebut mencakup biaya langsung dan hilangnya kesempatan memperoleh pendapatan akibat gangguan sampah plastik.

Meski berasal dari wilayah berbeda, kedua penelitian tersebut menunjukkan bahwa pencemaran plastik dapat mempengaruhi kegiatan penangkapan sekaligus kondisi ekonomi nelayan. Besarnya dampak tetap bergantung pada karakteristik perikanan, kondisi perairan, dan kemampuan masing-masing kelompok nelayan.

Sampah dari aktivitas perikanan

Selain berasal dari daratan, sampah plastik di laut juga dapat bersumber dari alat tangkap yang hilang, ditinggalkan, atau dibuang. Alat tangkap tersebut dapat terus menjebak organisme laut melalui fenomena ghost fishing dan menimbulkan gangguan terhadap ekosistem maupun aktivitas pelayaran.

Dalam laporan Good Practices to Prevent and Reduce Marine Plastic Litter from Fishing Activities, FAO dan IMO menjelaskan berbagai praktik untuk mencegah, mengurangi, dan menangani sampah plastik yang berasal dari aktivitas perikanan. Laporan tersebut menekankan pentingnya pengelolaan alat tangkap sepanjang siklus penggunaannya, mulai dari pencegahan kehilangan hingga pengumpulan dan penanganan setelah tidak digunakan.

Hal ini menunjukkan bahwa penanganan sampah laut perlu mencakup dua sumber utama, yaitu sampah yang berasal dari daratan dan sampah yang dihasilkan oleh aktivitas di laut.

Keterlibatan nelayan dalam pengelolaan sampah

Dalam upaya mengurangi sampah laut, nelayan dapat dilibatkan melalui kegiatan pemantauan dan pengumpulan sampah yang ditemukan selama melaut. Salah satu pendekatan yang dibahas dalam penelitian di Vietnam adalah fishing for litter, yaitu pengumpulan sampah yang ditemukan atau terjerat pada alat tangkap untuk dibawa kembali ke daratan dan dikelola. Pendekatan ini berpotensi membantu mengurangi sampah di perairan, tetapi membutuhkan sistem pengumpulan dan pengolahan yang memadai agar tidak menambah beban operasional nelayan.

Selain mengumpulkan sampah yang sudah berada di laut, pencegahan kehilangan alat tangkap juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan sampah laut. Menurut FAO, alat tangkap yang hilang atau ditinggalkan di laut dapat terus menangkap biota laut dan menimbulkan risiko bagi ekosistem maupun aktivitas perikanan. Salah satu upaya pencegahannya adalah penandaan alat tangkap, sebagaimana dibahas dalam pedoman FAO tentang penandaan alat tangkap, yang dapat membantu mengidentifikasi kepemilikan alat dan mendukung upaya pelacakan serta pengelolaannya.

Pengelolaan sampah dan keberlanjutan perikanan

Temuan dari Jakarta dan Vietnam memperlihatkan bahwa pencemaran plastik dapat menimbulkan konsekuensi ekonomi bagi nelayan, meskipun besarnya dampak berbeda menurut kondisi wilayah dan karakteristik perikanan. Karena itu, pengelolaan sampah laut perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap kegiatan penangkapan ikan dan penghidupan masyarakat pesisir.

Upaya penanganan perlu mencakup pengurangan sampah dari sumbernya, pencegahan kehilangan alat tangkap, serta penyediaan sistem pengumpulan dan pengolahan sampah yang melibatkan masyarakat perikanan. Penandaan alat tangkap dan mekanisme pelaporan maupun pengumpulan alat yang hilang juga dapat menjadi bagian dari upaya tersebut. Dengan demikian, pengendalian pencemaran laut tidak hanya berfokus pada pembersihan sampah yang telah mencemari perairan, tetapi juga pada pencegahan sumber pencemaran dan perlindungan keberlanjutan kegiatan perikanan.

Editor: Alfianu Adhi Riztiawan

Leave a Reply