Blok Masela 2026 Mengancam Paru-Paru Laut Dunia

Oleh: Qori Aghniya Fauzi

Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dari proyek strategis Blok Masela sudah disahkan oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Dokumen ini sudah diserahkan langsung oleh Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto kepada Presiden Direktur INPEX Masela di kantor Kementerian Lingkungan Hidup. Proses ini juga disaksikan oleh Menteri Lingkungan Hidup.

Proyek Blok Masela merupakan proyek strategis nasional terbesar di Indonesia yang dioperasikan oleh INPEX Masela Ltd. dengan potensi produksi 9,5 juta ton per tahun. Blok Masela diproyeksikan akan mulai beroperasi pada tahun 2029 dengan groundbreaking yang sudah direncanakan sebelum Lebaran 2026 dan konstruksi awal dimulai pada April 2026 di 160 km lepas pantai Pulau Yamdena, Laut Arafura. Pada klaimnya, Blok Masela sendiri akan menerapkan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS), menjanjikan bahwa proyek ini akan mendukung pemerintah dalam mengurangi emisi karbon dan mendukung sustainability pada era transisi energi ini.

Lokasi Pembangunan yang Sensitif Ekologis

Lokasi rencana pembangunan Blok Masela berada di bentang Laut Arafura. Daerah ini merupakan bagian dari Region Wallacea, sebuah kawasan pusat endemisitas keanekaragaman hayati di dunia. Selain itu, Laut Arafura termasuk ke dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 718. Wilayah ini tercatat sebagai salah satu wilayah yang memiliki unit kapal terbanyak. 

Tak hanya itu, Laut Arafura merupakan jantung segitiga karang (coral triangle) dunia. Berdasarkan data UNEP tahun 2018, Segitiga Karang (coral triangle) memiliki 76% spesies karang yang sudah diidentifikasi dan 37% spesies terumbu karang. Hal ini membuat wilayah rencana pembangunan Blok Masela tidak hanya sensitif secara ekologis, tetapi juga ekonomis. Dilansir dari data United Nations Environment Programme (UNEP) 2018, nilai ekonomi Segitiga Karang setara dengan US$13,9 miliar per tahun. Jika ekosistem Laut Arafura mengalami penurunan kualitas, maka diprediksi Segitiga Karang akan mengalami penurunan pula dalam nilai tahunan sebesar US$ 2,2 miliar pada 2030.

Ancaman Blok Masela Bagi Laut Arafura

Membangun proyek gas berskala raksasa—dengan kapasitas produksi 9,5 juta ton per tahun—di tengah “jantung” ekosistem dunia seperti Laut Arafura adalah sebuah tantangan teknis sekaligus dilema ekologis yang masif. Kawasan ini bukan sekadar perairan biasa. Laut Arafura adalah titik temu antara ketahanan pangan nasional (WPP 718) dan coral triangle. Sebagai wilayah dengan endemisitas tinggi, intervensi industri di Region Wallacea membawa risiko besar terhadap spesies yang tidak ditemukan di belahan bumi lain. Aktivitas pengerukan, pemasangan pipa bawah laut, dan peningkatan sedimen dapat “mematikan” polip karang. Mengingat 76% spesies karang dunia ada di sini, kerusakan kecil saja bisa memicu efek domino pada rantai makanan laut. Tak hanya itu, konstruksi dan operasional kapal tanker akan menghasilkan kebisingan bawah laut yang konstan. Ini sangat mengganggu mamalia laut (seperti paus dan lumba-lumba) yang bermigrasi melewati Laut Arafura, karena mamalia laut sangat bergantung pada gelombang akustik untuk navigasi dan komunikasi. 

Urgensi Mitigasi dan Pemantauan Ekosiste

Di balik semua resiko dan tantangan, pemerintah Indonesia tetap mengklaim bahwa proyek ini merupakan proyek ‘energi bersih’. Namun, gas alam yang disebut oleh INPEX Masela masih termasuk dalam kelompok energi berbahan fosil yang berarti tetap menghasilkan emisi. Proyek Blok Masela juga perlu mempertimbangkan kemampuan wilayah pulau Yamdena untuk menampung proyek ini. Pembukaan lahan di daerah pesisir akan berdampak panjang pada ekosistem. Apabila proyek ini mengganggu ekosistem konservasi tumbuhan seperti mangrove atau lamun, maka akan memicu sedimentasi yang akan berdampak pada kelangsungan hidup masyarakat pesisir, contohnya air bersih dan studi kasus lainnya. Kerusakan ekosistem mangrove serta lamun juga mengurangi kemampuan alam dalam menyerap emisi CO².

Pada masalah ini, Blok Masela membawa solusi penerapan CCS. Prinsip dasar CCS adalah menangkap karbon dioksida langsung dari sumber produksinya, lalu disuntikkan kembali ke dalam reservoir geologi yang sudah kosong pada kedalaman ribuan meter di bawah dasar Laut Arafura. Dari segi konsep, CCS sudah terlihat sebagai salah satu solusi mitigasi iklim. Namun, pada penerapannya, butuh pengawasan yang ketat untuk memantau stabilitas dasar laut. Jika terjadi kebocoran kecil pada formasi geologi tersebut, gas CO2 dapat merembes kembali ke kolom air dan dapat memicu pengasaman laut. 

#MCPRDailyNews

Leave a Reply