Pemanasan Laut Global dan Kerentanan Pesisir Makassar

Perubahan iklim global menyebabkan peningkatan suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature / SST) di berbagai wilayah perairan dunia. Laut menyerap sebagian besar panas dari atmosfer sehingga mengalami pemanasan secara bertahap. Peningkatan suhu ini dapat memicu kenaikan muka air laut melalui proses ekspansi termal, yaitu pemuaian air laut akibat kenaikan temperatur. Selain itu, pencairan es di wilayah kutub juga turut menambah volume air laut secara global, sehingga mempercepat terjadinya sea level rise atau kenaikan muka air laut.

Wilayah pesisir merupakan kawasan yang paling rentan terhadap dampak fenomena tersebut. Kota Makassar di Provinsi Sulawesi Selatan termasuk wilayah pesisir dengan kerentanan tinggi karena sebagian besar kawasannya berada pada dataran rendah dengan ketinggian hanya beberapa meter di atas permukaan laut. Kondisi geologi pesisir yang didominasi oleh endapan aluvial yang belum terkonsolidasi juga membuat wilayah ini lebih mudah mengalami erosi dan perubahan garis pantai.

Letak Makassar yang berbatasan langsung dengan Selat Makassar menyebabkan kawasan pesisirnya dipengaruhi oleh dinamika oseanografi seperti arus laut, gelombang, dan pasang surut. Interaksi antara faktor-faktor tersebut dengan peningkatan suhu laut berpotensi mempercepat perubahan garis pantai, baik dalam bentuk abrasi maupun sedimentasi. Oleh karena itu, pemahaman mengenai hubungan antara pemanasan laut global, kenaikan muka air laut, dan dinamika pesisir menjadi penting untuk mendukung pengelolaan wilayah pesisir yang berkelanjutan.

Permasalahan dan Tujuan Penelitian

Permasalahan utama yang dibahas adalah bagaimana pengaruh kenaikan suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature / SST) terhadap kenaikan muka air laut serta implikasinya terhadap dinamika perubahan garis pantai di Makassar dalam dua dekade terakhir. Kota Makassar merupakan wilayah pesisir dataran rendah yang rentan terhadap dampak perubahan iklim karena berbatasan langsung dengan Selat Makassar dan memiliki kondisi geologi yang didominasi oleh endapan aluvial yang mudah tererosi. Oleh karena itu, kajian ini menyoroti apakah terjadi peningkatan suhu permukaan laut selama periode 2004–2024, bagaimana hubungan antara SST dan kenaikan muka air laut, serta bagaimana perubahan garis pantai yang terjadi dalam bentuk abrasi dan sedimentasi.

Berdasarkan hal tersebut, tujuan kajian ini adalah untuk mengidentifikasi perubahan suhu permukaan laut selama periode penelitian dan menganalisis hubungannya dengan kenaikan muka air laut. Selain itu, kajian ini juga bertujuan untuk mendeteksi perubahan garis pantai dari tahun 2003 hingga 2024, termasuk luas abrasi dan sedimentasi yang terjadi, serta mengidentifikasi faktor geologi yang mempengaruhi dinamika pesisir. Hasil kajian ini diharapkan dapat memberikan dasar ilmiah bagi upaya mitigasi bencana pesisir serta perencanaan wilayah pesisir yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

Korelasi Sea Surface Temperature dan Sea Level Rise

Analisis suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature / SST) di wilayah Makassar menunjukkan adanya tren peningkatan selama periode 2004–2024. Berdasarkan data satelit Aqua MODIS, suhu permukaan laut maksimum mengalami kenaikan dari sekitar 28,84°C menjadi 30,69°C. Peningkatan suhu ini merupakan salah satu indikator pemanasan laut yang dipengaruhi oleh perubahan iklim global. Laut diketahui menyerap sebagian besar panas yang terperangkap di atmosfer, sehingga kenaikan temperatur laut menjadi komponen penting dalam sistem iklim global.

Secara fisik, peningkatan suhu air laut menyebabkan terjadinya ekspansi termal, yaitu pemuaian volume air akibat kenaikan temperatur. Ketika air laut memanas, kerapatan air menurun dan volume air meningkat, sehingga berkontribusi terhadap kenaikan muka air laut (sea level rise). Proses ini merupakan salah satu mekanisme utama yang menjelaskan hubungan antara pemanasan laut dan peningkatan muka air laut di berbagai wilayah pesisir dunia. Penelitian menunjukkan bahwa pemanasan laut dapat meningkatkan variabilitas muka air laut karena perubahan densitas air laut yang sensitif terhadap temperatur yang lebih tinggi.

Hubungan statistik antara SST dan kenaikan muka air laut dalam kajian ini menunjukkan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,52 yang mengindikasikan adanya korelasi positif dengan tingkat hubungan sedang. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan suhu permukaan laut memiliki kontribusi yang cukup signifikan terhadap kenaikan muka air laut di wilayah pesisir Makassar. Meskipun demikian, kenaikan muka air laut tidak hanya dipengaruhi oleh ekspansi termal air laut, tetapi juga oleh faktor lain seperti pencairan es di wilayah kutub, perubahan sirkulasi laut, serta dinamika oseanografi regional.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa kenaikan suhu laut memiliki hubungan erat dengan peningkatan muka air laut dalam skala global. Pemanasan laut menyebabkan perubahan distribusi panas di kolom air laut yang pada akhirnya mempengaruhi densitas air laut dan ketinggian permukaan laut. Dengan demikian, SST dapat digunakan sebagai indikator penting dalam memantau dinamika kenaikan muka air laut dan potensi dampaknya terhadap wilayah pesisir.

Dampak Sea Level Rise terhadap Dinamika Pesisir

Kenaikan muka air laut berdampak langsung terhadap perubahan dinamika pesisir, khususnya dalam bentuk pergeseran garis pantai, abrasi, dan sedimentasi. Di wilayah penelitian yang berbatasan langsung dengan Selat Makassar, peningkatan muka air laut memperbesar energi gelombang yang mencapai daratan, sehingga mempercepat proses erosi pada material pantai yang bersifat aluvial dan belum terkonsolidasi. Kondisi ini menyebabkan garis pantai mengalami kemunduran secara bertahap dalam dua dekade terakhir.

Hasil analisis citra satelit menunjukkan bahwa abrasi mendominasi perubahan garis pantai dengan luas mencapai 32,89 hektar, sedangkan sedimentasi hanya sekitar 3,47 hektar. Ketidakseimbangan ini menunjukkan bahwa laju kehilangan daratan akibat erosi lebih besar dibandingkan pembentukan daratan baru akibat deposisi sedimen. Dengan demikian, sea level rise berperan signifikan dalam mempercepat degradasi pesisir Makassar.

Peran Faktor Geologi dalam Perubahan Garis Pantai

Selain faktor oseanografi, kondisi geologi lokal turut mempengaruhi dinamika perubahan garis pantai. Wilayah pesisir Makassar didominasi oleh endapan aluvial yang tersusun atas pasir, lumpur, dan material lepas lainnya yang memiliki kohesi rendah. Karakteristik ini menjadikan kawasan pesisir lebih rentan terhadap abrasi ketika terjadi peningkatan energi gelombang dan kenaikan muka air laut.

Di sisi lain, proses sedimentasi dipengaruhi oleh suplai material dari Sungai Jeneberang, terutama pasca longsoran kaldera Gunung Bawakaraeng pada tahun 2004 yang meningkatkan volume sedimen secara signifikan. Namun demikian, suplai sedimen tersebut belum mampu mengimbangi laju abrasi yang dipicu oleh kenaikan muka air laut. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi antara faktor iklim, dinamika laut, dan kondisi geologi menentukan keseimbangan morfologi pesisir.

Implikasi terhadap Mitigasi dan Pengelolaan Wilayah Pesisir

Temuan penelitian ini memiliki implikasi penting terhadap perencanaan dan mitigasi wilayah pesisir. Peningkatan suhu permukaan laut yang berkorelasi dengan kenaikan muka air laut menunjukkan bahwa perubahan iklim memiliki dampak nyata terhadap stabilitas garis pantai. Oleh karena itu, pemantauan berbasis penginderaan jauh menggunakan citra satelit seperti Landsat 8 dan Aqua MODIS menjadi alat penting dalam evaluasi jangka panjang dinamika pesisir.

Hasil penelitian ini juga menegaskan perlunya strategi adaptasi seperti penguatan perlindungan pantai, rehabilitasi ekosistem mangrove, serta pengendalian tata ruang di kawasan pesisir yang rentan. Tanpa intervensi yang tepat, tren kenaikan suhu laut dan sea level rise berpotensi memperluas wilayah terdampak abrasi di masa mendatang.

Writer : Land-Sea Dynamic Bureau

Leave a Reply