Pemanfaatan Data Citra Satelit Sentinel-2 untuk Asesmen Habitat Dasar Perairan Pantai Selatan Sempu Kabupaten Malang

Sentinel-2 merupakan satelit penginderaan jauh milik European Space Agency (ESA) yang dilengkapi dengan Multispectral Instrument (MSI), memungkinkan pengambilan citra dengan resolusi tinggi dalam 13 spektrum band yang sangat berguna untuk pemantauan lingkungan, termasuk ekosistem pesisir. Salah satu objek penting yang dapat diamati menggunakan Sentinel-2 adalah terumbu karang, yaitu ekosistem laut yang tersusun atas koloni organisme karang dan menjadi habitat bagi berbagai spesies laut. Terumbu karang sangat rentan terhadap perubahan lingkungan seperti pemutihan karang, sedimentasi, dan peningkatan suhu laut, sehingga monitoring secara berkala menjadi penting. Dengan data citra Sentinel-2, pemantauan kondisi dan distribusi terumbu karang dapat dilakukan secara efisien dan non-destruktif, memungkinkan identifikasi perubahan ekosistem secara spasial dan temporal.

Peran Remote Sensing dalam Pemantauan Ekosistem Pesisir

Remote sensing telah menjadi alat vital dalam pengelolaan dan pemantauan ekosistem pesisir karena kemampuannya mengamati wilayah luas secara berkelanjutan dan akurat. Dengan citra satelit multispektral dan hiperspektral, peneliti dapat menganalisis parameter fisik dan biologis seperti suhu permukaan laut, tingkat kekeruhan air, distribusi vegetasi, dan perubahan garis pantai. Teknologi ini sangat bermanfaat dalam mengidentifikasi perubahan jangka panjang akibat aktivitas antropogenik maupun perubahan iklim global.

Selain itu, penginderaan jauh mempermudah deteksi dini degradasi lingkungan, seperti kerusakan mangrove, abrasi, atau sedimentasi berlebih yang mengancam kelangsungan habitat pesisir. Citra satelit seperti Landsat, MODIS, dan Sentinel memungkinkan pemantauan dinamika spasial ekosistem dengan resolusi temporal yang tinggi. Data ini penting bagi pengambil kebijakan dalam merancang intervensi berbasis bukti untuk pelestarian lingkungan pesisir.

Lebih jauh lagi, integrasi penginderaan jauh dengan sistem pemodelan dan basis data ekologi memberikan pendekatan holistik dalam memahami dinamika ekosistem. Misalnya, algoritma klasifikasi berbasis machine learning pada citra satelit dapat digunakan untuk mengklasifikasikan tutupan lahan dan mendeteksi area yang mengalami degradasi. Hal ini menegaskan bahwa remote sensing bukan hanya alat observasi pasif, tapi juga platform analisis strategis dalam konservasi dan tata kelola kawasan pesisir.

Integrasi Sentinel-2 dan Sistem Informasi Geografis (SIG) dalam Kajian Terumbu Karang

Integrasi citra Sentinel-2 dengan Sistem Informasi Geografis (SIG) telah membuka peluang baru dalam pemetaan dan pemantauan kondisi terumbu karang secara presisi. Sentinel-2 menyediakan resolusi spasial tinggi (hingga 10 meter) serta spektrum yang sesuai untuk mendeteksi habitat bawah laut yang dangkal seperti terumbu karang. Dengan kemampuan ini, para peneliti dapat melakukan identifikasi tutupan karang hidup, karang mati, maupun substrat non-biologis secara akurat. Ketika data Sentinel-2 dianalisis menggunakan SIG, hasilnya bukan hanya berupa peta statis, tetapi juga analisis spasial dinamis yang mampu menunjukkan perubahan dalam ruang dan waktu. SIG berfungsi sebagai platform untuk mengolah, mengintegrasikan, dan menampilkan data spasial dari berbagai sumber, termasuk data lapangan (ground-truthing). Teknik seperti klasifikasi supervised dan unsupervised, NDVI, serta algoritma batimetri berbasis indeks spektral telah digunakan untuk mengkaji kondisi terumbu karang di berbagai wilayah tropis. Penggunaan kombinasi ini juga mendukung pengembangan sistem pemantauan berbasis web dan pengambilan keputusan berbasis data spasial. Hasil analisis dapat digunakan oleh pemerintah, LSM lingkungan, dan masyarakat pesisir dalam program konservasi dan restorasi terumbu karang. Dengan demikian, integrasi Sentinel-2 dan SIG menjadi pendekatan yang tidak hanya ilmiah, tetapi juga aplikatif untuk pelestarian ekosistem karang di tengah tantangan perubahan iklim dan tekanan antropogenik.

Sebaran dan Kerapatan Terumbu Karang Berdasarkan Citra Satelit Sentinel-2 di Perairan Pulau Sempu 

Pengolahan citra satelit Sentinel-2 memungkinkan visualisasi sebaran habitat bawah laut di sekitar Pulau Sempu dengan resolusi tinggi. Melalui interpretasi warna pada citra, berbagai elemen ekosistem perairan dangkal dapat diidentifikasi: warna hijau kekuningan mewakili terumbu karang dan pasir, ungu muda hingga biru menandakan perairan laut dalam, cyan ke hijau muda menunjukkan area keruh, sementara rona merah mencolok mengindikasikan dominasi pasir. Sedangkan lamun ditandai dengan warna hijau kebiruan yang samar dan bercak-bercak. Klasifikasi lanjutan dari citra menghasilkan empat kelas utama yaitu lamun/alga, karang hidup, karang mati, dan pasir. Validasi lapangan dilakukan melalui metode stop and go, yang hasilnya diuji menggunakan matriks kebingungan (confusion matrix). Akurasi keseluruhan mencapai 70,526%, melewati ambang minimal 70% yang dibutuhkan agar data citra dianggap layak untuk analisis spasial. Di antara empat kelas tersebut, akurasi tertinggi terdapat pada kelas pasir (26,3%), sementara yang terendah adalah karang mati (11,6%), menunjukkan adanya tantangan dalam membedakan kondisi karang dengan degradasi tinggi dari citra satelit.Lebih lanjut, survei lapangan menggunakan metode Point Intercept Transect (PIT) mengungkap distribusi dan tutupan substrat perairan Pulau Sempu pada empat stasiun pengamatan. Tutupan terumbu karang bervariasi antara 26,3% hingga 41%, yang secara umum masuk kategori “kondisi sedang”. Stasiun 3 di wilayah Teluk Semut menunjukkan kondisi terbaik dengan tutupan 41%, sementara stasiun 2 di sekitar Watu Meja mencatat angka terendah sebesar 26,3%. Hasil ini didukung oleh pengukuran parameter oseanografi yang menunjukkan bahwa kualitas perairan, termasuk suhu, pH, DO, salinitas, dan kecerahan, relatif sesuai bagi pertumbuhan terumbu karang. Misalnya, stasiun 3 memiliki sirkulasi air yang baik dan salinitas stabil pada 34 ppt, mendukung keberlangsungan ekosistem karang hidup. Dengan demikian, integrasi antara citra satelit Sentinel-2 dan survei in-situ memberikan gambaran yang valid dan mendalam mengenai kondisi dan potensi restorasi ekosistem terumbu karang di perairan Pulau Sempu.

Writer : Padjadjaran Oceanographic Data Center Bureau

Leave a Reply