
Gambar 1. Peta Geologi (modifikasi dari Djuri dkk., 1996; Kastowo dan Suwarna, 1996) dan penampang geologi pada daerah penelitian, masuk ke dalam zona Jalur Pegunungan Serayu Selatan. Formasi Tapak (Tptl) pada gambar diatas berwarna hijau muda.
Formasi Tapak adalah salah satu batuan yang berumur Miosen Akhir hingga Pliosen Akhir (Kastono & Suwarna, 1996), yang diendapkan dalam zona laut dangkal di wilayah Sub-Cekungan Banyumas. Lokasinya diambil khusus dari nama sebuah gunung yaitu Gunung Tapak yang berada di Kabupaten Brebes, dan lokasi dari tipenya sendiri berada di hulu sungai Cipanaas. Penelitian yang dilakukan Rohmana et al. (2019) ini bertuju untuk menyoroti Formasi Tapak yang ditinjau dari aspek sedimentologi dan stratigrafi guna merekonstruksi model lingkungan dari pengendapan purba. Selain itu, penelitian ini pun dapat digunakan sebagai pemahaman dalam dinamika cekungan sedimenter hingga distribusi batuan sedimen. Meskipun penelitian dilakukan di wilayah darat, pendekatan yang digunakan lebih cenderung berpegang erat terhadap prinsip geologi laut, terutama mengenai rekonstruksi paleoenvironments laut dangkal serta sistem sedimentasi transisi di pesisir. Dapat dinyatakan pula bahwa Formasi Tapak ini menjadi representasi yang sangat baik untuk sistem pengendapan pesisir sampai dengan shelf, yang dimana terdapat karakteristik fasies yang cukup kompleks dan adanya terumbu karbonat.
Fasies yang disebutkan berkembang pada Formasi Tapak ini ternyata cukup bervariasi, diantaranya yaitu lagoonal pond, tidal channel in foreshore facies, dan upper shoreface-shelf mud facies (Rohmana et al., 2019). Variasi tersebut memberikan petunjuk bahwasannya proses pengendapan berlangsung dalam zona laut yang mengalami kompleksitas, dimulai dari kawasan laguna, zona pasang surut, hingga zona shelf atau landas kontinen yang sifatnya lebih terbuka. Karakteristik klasik dari pengendapan laut dangkal dapat diambil dari pengembangan fasies ini, karakteristiknya seringkali didapati pada wilayah margin benua aktif maupun pasif.
Metodologi dan Faktor Temuan yang Diperhatikan
Interpretasi geologi laut diterapkan melalui beberapa metode yang beriringan dengan aspek sedimentologi dan stratigrafi, yakni pengamatan fasies dan tekstur yang bertujuan untuk menentukan lingkungan pengendapan serta energi transportasi, menentukan struktur sedimen seperti hummocky dan cross-bedding sebagai penanda energi dan gelombang arus laut, menganalisis fosil planktonik dan bentik yang akan menjadi indikator lingkungan laut dangkal dengan umur yang relatif, menggunakan petrografi dan kalsimetri yang dapat mendorong identifikasi litologi karbonatan seperti napal maupun kalkarenit, dan yang terakhir yaitu pengukuran arus purba yang fungsinya untuk menentukan sistem source-to-sink sedimen.
Interpretasi Stratigrafi
Secara struktural, sedimen yang dianalisis dan telah disebutkan sebelumnya secara garis besar menunjukkan struktur perlapisan sejajar, hummocky cross-stratification, sampai dengan trough cross bedding, yang ketiganya cukup umum terbentuk akibat aksi gelombang dan arus pada wilayah laut transisi hingga shelf. Struktur tersebut mendorong bukti bahwa Formasi Tapak diendapkan dalam sistem laut dangkal yang dinamis dengan dipengaruhi kuat oleh energi gelombang dan pasang surut. Selaras pula dengan model-model sedimentasi laut dangkal yang dikemukakan oleh Reineck & Singh (1980) yakni hawasannya salah satu lokasi (BMS-76) memiliki karakter fasies transition zone to shelf mud, serta Nichols (2009) menyatakan model lain berupa offshore transition-offshore.
Gambar 2. Analisis profil dan interpretasi model lingkungan pengendapan pada lokasi pengamatan BMS–76 Formasi Tapak.
Gambar 3. Analisis profil dan interpretasi model Lingkungan pengendapan pada lokasi pengamatan BMS–77 Formasi Tapak.
Jika ingin dijabarkan dari stasiunnya, pada BMS-76 (Gambar 2) ini seperti yang sudah dikatakan bahwasannya berkarakter self mud yang dimana kandungannya berupa CaCO3 sebesar 41,8%. Pada lokasi ini pun terdapat perlapisan batulempung dan batupasir dengan ukuran 1/8mm – 1/4mm. Batupasir ini berhubungan kontak erosional pada bagian dasar lapisannya dan kaya akan debris (reworked) dari cangkang organisme laut dari jenis pelecypoda. Kemudian, berlanjut ke lokasi BMS-77 (Gambar 3) yang didominasi oleh keberadaan batulempung karbonatan gelap dan fragmen pelecypoda yang dapat menunjukkan sistem lagoonal pond atau yang biasanya berada di belakang sistem terumbu penghalang. Penelitiannya pun berhasil melakukan temuan lain yaitu batuan karbonat berupa kalkarenit dan kalsilutit yang kaya akan foraminifera planktonik dan bioklastik lainnya. Seperti yang disebutkan oleh Wilson (1975), bahwa kalkarenit pasti terendapkan pada fasies winnow edge sands. Namun, terdapat pendapat lain yaitu klasifikasi dari Walker & James (1992) dalam Nichols (2009) yang menyimpulkan bahwa kalkarenit tersebut diendapkan pada sand apron di lingkungan open shelf. Pernyataan-pernyataan itu semakin memperkuat indikasi sistem karbonat dalam Formasi Tapak ini tidak hanya terbentuk dari lagoon belakang terumbu, akan tetapi mulai berkembang ke arah open shelf yang posisinya lebih dalam lagi, serta konsisten dengan perkembangan sistem terumbu penghalang atau biasa disebut barrier reef. Mengenai barrier reef, terdapat peranan batu gamping atau reef limestone yang diidentifikasi sebagai Anggota Batugamping Darmakradenan dengan pola sebaran linier yang berarah dari barat ke timur, dimana batugamping ini memiliki geometri serta pola pertumbuhan terumbu yang kemudian menjadi barrier reef. Apabila melihat secara perspektif geologi laut, terumbu jenis ini biasanya memiliki signifikansi penting yang tidak hanya sebagai indikator lingkungan pengendapan tropis laut dangkal, akan tetapi sebagai zona potensial akumulasi hidrokarbon dan reservoir karbonat juga.

Gambar 4. Analisis profil dan interpretasi model lingkungan pengendapan pada lokasi pengamatan BMS–14 Formasi Tapak.
Lokasi berikutnya BMS-111 yang dikombinasi napal dan batupasir terdapat Thalassinoides serta mineral vulkanik seperti kuarsa, plagioklas, dan piroksen. Temuan itu menunjukkan adanya pengaruh material daratan (input terrigenous) dalam sistem laut dangkal. Kemudian, terdapat BMS-14 (Gambar 4) yang menjadi lokasi penting untuk arus purba karena terdapat struktur herringbone crossbedding yang memberikan petunjuk dari arus bolak-balik akibat adanya pasang surut serta arah arus purbanya sendiri telah menunjukkan daratan utama di titik barat laut. Atau secara jelasnya ada pengukuran yang dinamakan foresets dari struktur sedimennya dan hasil dari pengukuran tersebut menunjukkan bahwa arah arus purba memang relatif dari Barat Laut ke Tenggara (Rohmana et al., 2019). Pada arus purba ini disebut sebagai pengamatan paleokarakter yang didapati strukturnya berupa herringbone crossbedding dan trough cross bedding yang kemudian mencerminkan adanya kontrol topografi purba terhadap arah dan berkaitan dengan tinggian purba dari Barat Laut yang telah disebutkan. Sebenarnya tinggian itu dapat dikatakan dari sisa-sisa struktur lipatan atau sesar Formasi Halang yang umurnya lebih tua. Polanya dalam perspektif geologi laut yaitu menggambarkan interaksi antara sedimen daratan dengan lingkungan laut yang posisinya menjadi penerima di bagian cekungan.
Selanjutnya, pada lokasi BMS-35 terdapat kalkarenit dan foraminifera yang bermakna sebagai pengendapan karbonat di zona open shelf dan dinamikanya dapat menjadi ciri khas pengendapan laut tropis dangkal dengan tingkat energi berada di kisaran sedang-tinggi. Foraminifera yang didapati dari lokasi ini menghasilkan analisa sayatan tipis dengan nama foraminifera packstone (Dunham, 1962). Rohmana et al. (2019) menarik titik terang bahwasannya litologi penyusun Formasi Tapak terendapkan dalam sistem lingkungan pengendapan transisi sampai laut dangkal dan memberikan indikasi gradasi lingkungan dari darat ke laut yang sangat umum bagi sedimentasi marginal laut, seperti estuasi, lagoonal pond, foreshore dalam sub-lingkungan tidal channel sampai pada shoreface-shelf mud facies yang mengacu pada model Reineck & Singh (1980); Nichols (2009); Walker & James (1992). Interfingering menjadi sifat dari dukungan hubungan stratigrafi antarbatuan bagi konsep yang digunakan dalam penelitian ini, yang kemudian mencerminkan suatu perubahan lateral fasies akibat dinamika transgresi maupun regresi laut.
Menarik Kembali Keterkaitan dengan Geologi Laut

Gambar 5. Model lingkungan pengendapan Formasi Tapak di daerah penelitian pada Kala Pliosen – Plistosen pada daerah Penelitian.
Penelitian ini bersinggungan dan bercermin pada aspek geologi laut dan sedimentasi, seperti adanya sistem transisi pesisir ke zona shelf laut yang dimana berbagai fasies ditemukan pada kawasan lagoon, tidal channel, foreshore, hingga shelf, sehingga memberikan petunjuk adanya gradasi daratan ke laut dangkal dan menjadi sistem klasik dari neritik zone, serta tempat berlangsungnya akumulasi sedimen klastik dan karbonat secara intensif. Lalu, adanya paleoarus dan sistem source-to-sink yang berkaitan dengan arah arus purba dari barat laut ke tenggara sehingga menunjukkan sedimen dari tinggian daratan atau deformasi Formasi Halang dan masuk ke cekungan laut melalui sistem kanal pasang surut, lagoon, sampai akhirnya mencapai shelf. Biasanya hal tersebut berkaitan dengan dinamika cekungan dan sedimen dispersal. Kemudian, terdapat pengontrol lingkungan terhadap energi dan jenis sedimen dan potensi karbonat reservoir dalam eksplorasi minyak serta gas bumi yaitu terumbu penghalang (barrier reef) yang teridentifikasi berada di sepanjang sumbu barat-timur sehingga memberikan gambaran pembatas morfologi alami pada laut dangkal. Terakhir, adanya hubungan stratigrafi menjemari antara batugamping Darmakradenan dengan satuan batulempung-gampingan Tapak sehingga menjadi penyebab dari perubahan lateral fasies yang lazim terjadi di laut dangkal karena biasa dijadikan tempat pengendapan karbonat dan klastik secara bersamaan sesuai posisi relatif garis pantai.
Writer : Marine Geology and Sedimentation Bureau










