Perkembangan Riset 12 Tahun “Karbon Biru” : Pengetahuan dan Tumpang Tindih Dalam Sains dan Praktik

Oleh: Raffy Revanza Alfarez

Sejak diperkenalkan istilah Blue Carbon atau Karbon Biru pertama kalinya diperkenalkan pada tahun 2009, riset mengenai blue carbon semakin intens dilakukan. Ekosistem lingkungan pesisir, seperti mangrove, padang lamun, dan hamparan terumbu karang menjadi ekosistem utama dalam penyerapan karbon. 

Seiring dengan peningkatan suhu atmosfer bumi atau kita kenal dengan istilah global warming yang kian hari semakin cepat laju pemanasannya, ekosistem penyumbang penyerapan karbon seperti yang sudah disebutkan diharapkan menjadi pelindung utama bumi.

Sayangnya, secara alamiah, ekosistem-ekosistem tersebut sulit untuk tetap bertahan karena perubahan parameter alaminya akibat pemanasan bumi. Laut merupakan media penyerap panas tercepat dibandingkan dengan hutan atau tanah yang ada di daratan.

Perubahan parameter tersebutlah yang menyebabkan ekosistem pesisir, seperti terumbu karang sulit mempertahankan kehidupannya. Terumbu karang memerlukan suhu yang stabil dan ideal agar simbiosis yang berlangsung di dalamnya tetap terjadi.

Ekosistem blue carbon juga mendapatkan ujian dari aktivitas manusia (antropogenik) yang sifatnya merusak tanpa memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Tambak-tambak mulai menggusur keberadaan ekosistem mangrove di pesisir pantai utara Jawa. Padang lamun dan terumbu karang rusak akibat aktivitas pariwisata yang tinggi.

Dalam 12 tahun terakhir, mulai dari tahun 2009 – 2021, penelitian, riset, dan perhatian terhadap ekosistem blue carbon menunjukkan trend yang meningkat. Para peneliti dan akademisi seluruh dunia sangat peduli terhadap isu karbon yang tidak tertahan di era revolusi industri sampai hari ini.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Jay M.D & Ryo Koshaka pada tahun 2022, jumlah publikasi ilmiah yang dibagi kedalam beberapa kategori, yakni peer-reviewed articles, reports (policy brief, etc…), conferences articles presentation, Dissertation/Thesis, books, and news yang membahas mengenai ekosistem blue carbon menunjukkan trend yang meningkat. 

Tahun 2021 menjadi jumlah publikasi terbanyak, yakni sebesar 235 publikasi dengan dominasi berasal dari peer-reviewed articles. Fenomena yang terjadi demikian menunjukkan bahwa adanya kesadaran para peneliti terhadap pentingnya ekosistem blue carbon dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut.
Hal demikian tentunya menjadikan suatu hal yang positif bagi para akademisi lain seperti mahasiswa dalam menambah pengetahuannya terhadap blue carbon, tetapi disisi yang lain pula indikasi bahwa peningkatan suhu muka bumi semakin menjelaskan bahwa bahaya pengrusakan lingkungan semakin mengganggu kehidupan di bumi.

Leave a Reply