Oleh: Rizal Fadhilah
Potensi Blue Carbon Dalam Bidang Ekonomi
Blue Carbon atau karbon biru merupakan istilah yang digunakan terhadap penyerapan karbon yang ada di atmosfer oleh ekosistem pesisir dan laut, seperti ekosistem mangrove dan lamun. Namun, manfaat tersebut masih belum bisa disadari oleh berbagai kalangan, kebanyakan dari mereka hanya mengetahui bahwa blue carbon bermanfaat untuk menyerap CO2 di atmosfer, padahal jauh dari itu blue carbon memiliki nilai jual yang cukup tinggi dalam kegiatan perdagangan karbon (carbon trading) yang berperan dalam pertumbuhan sektor ekonomi dan investor di suatu negara.
Manusia banyak menggantungkan hidupnya dari ekosistem pesisir dan laut, baik itu berupa barang dan jasa, terutama di negara tropis. Namun apakah kalian tahu bahwa semakin hari ekosistem yang memberikan banyak manfaat untuk kita ini semakin rusak dan terancam punah jika tidak dilestarikan?. Menjadi tugas bersama untuk melakukan pelestarian terhadap ekosistem pesisir dan laut, karena ekosistem-ekosistem tersebut telah memberikan banyak manfaat untuk lingkungan dan manusia dan juga mereka memiliki banyak potensi yang bisa dimanfaatkan guna keberlangsungan hidup bersama. Potensi tersebut adalah dalam bidang perdagangan karbon (carbon trading)
Apa itu Perdagangan Karbon (Carbon Trading)?
Perdagangan karbon (carbon trading) adalah suatu kegiatan jual beli kredit untuk pengeluaran karbon dioksida. Harapan dengan diadakannya kegiatan ini adalah bisa berkurangnya tingkat karbon dioksida di bumi dan dapat meminimalisir dampak dari perubahan iklim. Awal tercetusnya kegiatan carbon trading ini adalah melalui Protokol Kyoto yang merupakan langkah awal pengendalian emisi karbon dilakukan. Dijelaskan lebih lanjut pula mengenai carbon trading, bahwa setiap negara yang telah mengeluarkan emisi karbon diatas ambang batas, maka dia diwajibkan membayar kredit karbon. Dan bagi negara yang bisa melakukan aksi pengurangan karbon akan mendapatkan kredit karbon yang bisa dijual kepada negara lain yang belum bisa memenuhi kewajibannya.
Potensi Indonesia Sebagai Negara Kepulauan Dalam Kegiatan Carbon Trading
Indonesia sebagai negara kepulauan sudah tidak asing lagi didengar oleh banyak orang. Tentu saja julukan ini sudah tidak asing, karena Indonesia memiliki banyak pulau dan juga kaya akan ekosistem pesisir dan laut yang memiliki banyak manfaat. Sebagai negara kepulauan yang kaya akan ekosistem pesisir dan laut, Indonesia juga berpotensi sebagai negara yang memiliki peranan penting dalam mengurangi dampak dari perubahan iklim. Hal tersebut dikatakan karena Indonesia memiliki luas kawasan mangrove 3.2 juta hektar (ha) dan luas padang lamun kurang lebih 3 juta ha. Dengan luasan tersebut ekosistem Blue Carbon, Indonesia dapat menyimpan hingga 17% dari cadangan Blue Carbon dunia atau sekitar 3.4 Giga Ton yang memiliki potensi dalam perdagangan karbon dunia.
Potensi tersebut sangat menjanjikan bagi Indonesia. Karena ekosistem blue carbon memiliki nilai yang cukup tinggi dalam carbon trading. Sebagai contoh ekosistem mangrove memiliki nilai ekonomi lebih dari US$90.000 per-hektar. Harga yang tinggi tersebut tidak hanya dilihat dari kemampuan ekosistem tersebut sebagai blue carbon, tetapi dari jasa lingkungan yang dapat diciptakan, seperti sebagai ekosistem yang dapat mencegah abrasi.
Maka dari itu, dengan banyaknya potensi yang bisa dihasilkan oleh ekosistem pesisir dan laut, kita sebagai manusia yang banyak menggantungkan hidupnya pada mereka perlu menjaga ekosistem tersebut dari kerusakan dan kepunahan, sehingga manfaat dari ekosistem tersebut dapat dirasakan dalam jangka waktu yang panjang.










