Oleh: Yesi Deskayanti
Blue Carbon merupakan istilah yang sering dibahas berkaitan dengan kemampuan ekosistem perairan dalam menyerap dan menyimpan karbon dioksida (CO2) dari atmosfer. Konsep ini sudah menjadi perbincangan hangat terutama bagi negara-negara maritim di tengah maraknya kasus perubahan iklim. Konsep Blue Carbon tersebut digadang-gadangkan dapat menjadi solusi dalam mitigasi perubahan iklim dan pelestarian lingkungan. Selain menjadi solusi untuk perubahan iklim, Blue Carbon juga cukup menjanjikan terutama dalam nilai kredit untuk perdagangan karbon (carbon trading).
Sebagai negara kepulauan dan potensi kelautan yang besar, Indonesia juga turut andil dalam fokus kajian mengenai Blue Carbon tersebut. Banyak penelitian yang membahas mengenai kemampuan sumber daya laut Indonesia. Setiap pembahasan tersebut dapat memberikan gambaran bagaimana peluang Indonesia dalam memanfaatkan ekosistem pesisir tersebut baik dalam aspek kemampuan Indonesia dalam pengelolaannya ataupun dalam aspek kualitas ekosistem perairan Indonesia.
Salah satu potensi ekosistem pesisir Indonesia adalah lamun. Biota tersebut memiliki potensi dalam menyimpan karbon atau disebut dengan istilah carbon stock. Seagrass atau lamun ini sangat menarik perhatian terutama dalam kemampuan lamun dalam menyimpan karbon yang dapat bermanfaat untuk perubahan iklim dan dapat juga dimanfaatkan untuk carbon trading.
Padang Lamun Indonesia
Setiap wilayah memiliki perbedaan jenis lamun, menyesuaikan kondisi geografis, perairan dan faktor lain yang terdapat di wilayah tersebut. Padang lamun banyak menyebar di daerah Barat Aceh, Nias, sebagian Provinsi Lampung. Di bagian Timur Indonesia, padang lamun banyak tersebar di Lombok, Nusa Tenggara Timur, Pantai Barat Provinsi Sulawesi Selatan, Pulau Biak, dan sebagian Maluku Utara. Wilayah pesisir Timur Sumatera dan di sebagian besar Pulau Jawa dan Kalimantan, padang lamun yang ada relatif terbatas.
Lamun Sebagai Ekosistem yang Menunjang Blue Carbon
Sebagai bagian dari ekosistem pesisir, padang lamun merupakan salah komponen penting ekosistem pesisir secara global dan tumbuhan mampu menangkap serta menyimpan karbon organik biomassa hidup dan sedimen. Indonesia memiliki banyak jenis lamun yang beragam di setiap wilayah. Tercatat bahwa terdapat 15 jenis lamun di perairan Indonesia dari total 69 jenis lamun yang terdapat di dunia. Sampai saat ini diketahui luas padang lamun yang terpetakan di perairan Indonesia mencapai ± 290.000 Ha dengan mayoritas kondisi ekosistem lamun dalam keadaan sedang.
Seagrass atau lamun ini mampu menyimpan karbon yang cukup baik. Menurut tim peneliti Puslitbang Oseanografi LIPI, dalam satu tahun, setiap satu hektar padang lamun dapat menyimpan 6,6 ton karbon atau setara 24,2 ton gas CO2. Kemampuan lamun tersebut dapat dikatakan cukup tinggi, meskipun ekosistem hutan bakau mampu menyerap karbon dua sampai kali lebih tinggi dari lamun.
Kemampuan Indonesia untuk Carbon Trading
Perdagangan karbon memang cukup menjanjikan. Perdagangan karbon tersebut dirasa mampu meningkatkan pendapatan antar penduduk dengan menciptakan lapangan kerja baru yang ramah lingkungan. Selain itu, hal ini juga dapat membantu permasalah mengenai isu perubahan iklim yang semakin hari kian memburuk.
Dilansir dari mpr.go.id, Ketua Dewan Pembina Depinas SOKSI dan Kepala Badan Hubungan Penegakan Hukum, Pertahanan dan Keamanan KADIN Indonesia mengatakan bahwa, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI (KLHK) memprediksi potensi perdagangan karbon di Indonesia mencapai Rp 350 triliun. Karena Indonesia mampu menyerap sekitar 113,18 gigaton karbon. Diperoleh dari luasnya hutan hujan tropis yang merupakan terbesar ketiga dunia dengan luas area 125,9 juta hektar yang mampu menyerap emisi karbon sebesar 25,18 miliar ton.
Namun, di sisi lain Indonesia perlu waktu yang panjang agar dapat memasarkan jasa yang nilainya cukup tinggi ini.
Melihat potensi ekosistem pesisir Indonesia dalam hal ini padang lamun, kita perlu meninjau kembali dari segi kelestarian untuk padang lamun itu sendiri. Melihat padang lamun termasuk biota yang sensitif ditambah lagi luasan padang lamun kian berkurang di beberapa wilayah. Artinya kita perlu melakukan pelestarian dan pengelolaan berkelanjutan agar padang lamun terus terjaga sehingga memang hal yang diharapkan untuk perdagangan karbon melalui padang lamun ataupun ekosistem pesisir lain yang lebih luas dapat dilakukan secara konstan.










