Ekosistem Karbon Biru: Indonesia Menjadi Salah Satu Penyumbang Stok Karbon Mangrove yang Besar Untuk Mitigasi Perubahan Iklim

Oleh: Jasmine Puteri Pertama

Pendahuluan

Diperkirakan terdapat 13,76 juta hektar hutan mangrove di seluruh dunia, sekitar 20% (2,6 juta hektar) di antaranya berpotensi diinvestasikan untuk proyek pendanaan karbon, berdasarkan probabilitas ancaman yang akan terjadi. Indonesia memiliki luas kawasan mangrove 3.3 juta hektar (ha). Dengan luasan ekosistem karbon biru tersebut, Indonesia dapat menyimpan hingga 17% dari cadangan karbon biru dunia sehingga memiliki peranan yang sangat penting dalam mengurangi perubahan iklim.

Karbon biru mangrove dapat berkontribusi terhadap mitigasi iklim di tingkat nasional. Setiap kenaikan harga karbon di masa depan, dapat memperluas cakupan proyek karbon biru mangrove yang layak secara finansial, potensi mitigasi iklimnya, dan keuntungan finansialnya. Negara-negara di Asia Tenggara seperti Indonesia, Myanmar, dan Vietnam merupakan negara-negara yang memiliki stok karbon mangrove yang besar. 

Kerja Sama Bilateral Indonesia – Jepang

Dalam upaya mitigasi perubahan iklim, Indonesia dan Jepang telah menjalankan kerja sama bilateral dalam kerangka Joint Crediting Mechanism (JCM) dengan menggunakan fasilitasi teknologi, pendanaan, dan peningkatan kapasitas dari Pemerintah Jepang. Kerja sama JCM ini disepakati untuk diperpanjang hingga tahun 2030, yang telah diinisiasi sejak 2013. Selain itu, mangrove juga memberikan kontribusi terhadap tujuan kebijakan yang lebih luas di luar upaya mitigasi perubahan iklim, termasuk dalam mengurangi risiko bencana lingkungan, sesuai dengan banyak sasaran dalam Kerangka Pengurangan Risiko Bencana Sendai, dan beberapa target dalam SDGs.

Pengelolaan Ekosistem Karbon Biru (EKB)

KLHK dan KKP sebagai pemangku kepentingan kunci pengelolaan Ekosistem Karbon Biru (EKB) di Indonesia terus berupaya menjadikan Ekosistem Karbon Biru sebagai modal alam yang harus dikelola secara berkelanjutan di Indonesia. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menjadikan ekosistem sebagai basis pendekatan untuk memenuhi komitmen pengurangan emisi dalam nationally determined contribution (NDC) yang terdiri dari sejumlah sektor utama, yaitu energi, pertanian, forestry and other land uses (FoLU), industrial process and production use (IPPU), dan waste.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar menyatakan bahwa dalam konteks isu perubahan iklim di Indonesia, sumber utama yang paling signifikan untuk mengurangi setidaknya 60% dari target penurunan emisi akan berasal dari FoLU. Untuk mencapai tujuan ini pada tahun 2030, salah satu ekosistem yang diharapkan dapat memberikan kontribusi besar adalah ekosistem karbon biru (EKB) yang terdapat di daerah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Leave a Reply