Dampak Perubahan Iklim dan Strategi Pengelolaan di Jawa Timur

Oleh : Fadilla Nur Azizah

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki wilayah laut seluas 5,8 juta km2 yang dapat dikelola potensinya. Wilayah laut yang luas ini memiliki potensi besar dalam produksi ikan laut yang berkelanjutan, diperkirakan sekitar 6,51 juta tahun atau sekitar 8,2% dari total potensi produksi ikan laut global. Namun, Potensi sektor perikanan sebagai penggerak utama ekonomi nasional ini belum dimanfaatkan secara optimal, meskipun sebenarnya sumber daya ini memiliki potensi besar. Salah satu faktor utama terjadinya hal tersebut disebabkan karena adanya perubahan iklim. Perubahan iklim merupakan suatu fenomena yang tidak dapat dihindari, dan dapat mengubah ekosistem perairan yang akan mempengaruhi sumber daya ikan. Pemanasan global mengakibatkan perubahan iklim berdampak negatif pada wilayah pesisir dan kehidupan masyarakat nelayan. Dampak negatif yang ditimbulkan dari perubahan iklim ini mencakup peningkatan suhu permukaan air laut, intensitas cuaca ekstrem, perubahan dalam pola curah hujan, serta gelomobang besar, serta limpasan air tawar yang dipengaruhi oleh fenomena El Nino dan La Nina. Dampak-dampak yang ditimbulkan tersebut dapat membawa konsekuensi yang berkelanjutan dalam pola kehidupan masyarakat nelayan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. 

Kondisi Penangkapan perikanan

Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan sektor perikanan di jawa timur mengalami fluktuasi. Menurut informasi yang diperoleh dari Dinas Kelautan dan Perikanan, total produksi perikanan tangkap di Jawa Timur selama tahun 2022 mencapai 598.317 ton, mencatat jumlah produksi tertinggi di seluruh Indonesia. Pada tahun 2018, produksi total perikanan tangkap ikan di Jawa Timur mencapai 467.960 ton, kemudian mengalami peningkatan pada tahun 2019 mencapai 481.485 ton ikan, namun mengalami penurunan pada tahun 2020 menjadi 416.073 ton ikan. Adanya Fluktuasi dalam peningkatan produksi perikanan tangkap dipastikan akan memiliki dampak pada pendapatan nelayan. Produksi perikanan tangkap mempengaruhi sebagian pendapatan nelayan dan juga berdampak secara bersamaan dengan faktor-faktor seperti modal, tenaga kerja, pengalaman, dan harga ikan. Perubahan iklim berdampak pada peningkatan gelombang besar yang menghambat nelayan untuk mencapai lokasi penangkapan ikan. Kondisi laut yang tidak mendukung dapat memperlambat waktu di laut, yang pada akhirnya mengakibatkan penurunan pendapatan para nelayan.

 Perubahan ekstrem yang terjadi di lingkungan laut memiliki potensi untuk mengubah strategi pengelolaan wilayah pesisir dan kesejahteraan ekonomi di wilayah pesisir. Faktor-faktor mencakup tinggi gelommbang, curah hujan, dan kecepatan angin dapat mempengaruhi produksi ikan secara bersamaan. Curah hujan yang tinggi dapat mengurangi hasil tangkapan, begitu pula dengan tinggi gelombang yang berpengaruh negatif dan kecepatan angin yang berpengaruh positif  terhadap penangkapan ikan. Situasi tersebut mendorong perubahan dalam pendekatan pengelolaan perikanan tangkap untuk bisa berakomodasi dengan perubahan iklim yang terjadi. Menurut pandangan masyarakat nelayan, perubahan iklim yang sulit untuk diprediksi membuat nelayan enggan melaut saat cuaca tidak stabil. Hal tersebut dapat meningkatkan risiko kemiskinan dan penurunan kesejahteraan para nelayan. Para nelayan pun mengalami kesulitan dalam membeli bahan bakar dan tidak memiliki tabungan untuk situasi darurat.

Dalam situasi ini, diharapkan bahwa para nelayan akan memperhatikan berbagai faktor atau indikator yang bisa mempengaruhi hasil tangkapan ikan sehingga mereka bisa melakukan prediksi lebih baik terkait tangkapan ikan. Pemerintah juga perlu berperan aktif dalam menyusun kebijakan dan program yang mendukung ketahanan ekonomi dan sosial masyarakat pesisir serta nelayan dalam menghadapi perubahan iklim.

Leave a Reply