Menurunnya Vegetasi Mangrove Menjadi Ancaman Kelestarian Suaka Margasatwa Pulau Rambut

Oleh: Chairil Amin Saputra

Indonesia sebagai salah satu dari tiga negara mega biodiversity memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, terdiri dari 11% spesies tumbuhan dunia, 10% spesies mamalia, dan 16% spesies burung (World Resources, 2000-2001 dalam FWI dan GFW, 2001). Untuk melindunginya, pemerintah melalui Departemen Kehutanan menunjuk beberapa kawasan di Indonesia sebagai kawasan konservasi. Salah satunya ialah Pulau Rambut dengan status awal Cagar Alam yang kemudian berubah menjadi suaka margasatwa dengan luas 90 ha yang terdiri atas sekitar 45 ha daratan dan 45 ha perairan, yang terletak di Pulau Seribu, Daerah Khusus Ibukota Jakarta. 

Secara alami, kawasan Pulau Rambut merupakan habitat berbagai satwa, terutama burung-burung air (merandai) dan tempat persinggahan burung-burung migran. Berdasarkan berbagai hasil pengamatan, Pulau Rambut memiliki keanekaragaman jenis burung yang tinggi, dimana sudah tercatat 56 jenis burung yang dijumpai di pulau ini. Secara umum, burung-burung tersebut terdiri dari 2 kelompok, yaitu kelompok burung air (18 jenis) dan kelompok bukan burung air (38 jenis).

Pulau Rambut memiliki kelebihan sebagai salah satu tempat berkembangbiak burung-burung air terbesar karena memiliki hutan campuran yang merupakan habitat burung di Pulau Rambut yang berfungsi sebagai tempat sarang, tempat kawin, tempat berkembangbiak, tempat membesarkan anak, tempat berlindung dari ancaman predator, dan tempat beristirahat. Habitat burung di Pulau Rambut terdiri dari hutan mangrove primer, hutan mangrove sekunder dan hutan dataran kering campuran.

Terdapat masalah utama yang berdampak langsung terhadap kelestarian habitat burung di Pulau Rambut ialah berkurangnya luasan areal berhutan karena abrasi, pencemaran akibat sampah dan limbah buangan. Pencemaran akibat sampah dan limbah buangan merupakan salah satu ancaman serius bagi kelestarian Pulau Rambut. Saat ini kawasan Pulau Rambut telah mengalami invasi sampah yang cukup berat terutama sampah-sampah yang tidak bisa terurai (non-degradable), seperti plastik, styrofoam, sandal/karet, kaca dan kaleng.

Hal tersebut berdampak pada matinya vegetasi mangrove melalui 2 mekanisme, yaitu mati setelah tertimbun sampah, dan mati setelah siklus keluar masuknya air pasang surut terus menerus terganggu. Padahal pasang surut merupakan faktor lingkungan penting bagi pertumbuhan mangrove.

Berdasarkan permasalahan yang terjadi di Suaka Margasatwa Pulau Rambut, maka diperlukan beberapa alternatif rehabilitasi kawasan Pulau Rambut antara lain adalah: 1) Pembersihan sampah di lantai hutan dan pengendalian pencemaran sampah, 2) Pembuatan saluran inlet air pasang ke kawasan mangrove, 3) Penanaman serta pemeliharaan vegetasi yang sudah ada. Dengan berbagai upaya tersebut, diharapkan mampu memperbaiki dan mengatasi berbagai permasalahan yang saat ini terjadi di dalam kawasan Pulau Rambut, dan dapat bermanfaat jangka panjang dan berkelanjutan untuk menunjang pengelolaan kawasan sehingga kawasan Pulau Rambut mampu menjalankan fungsinya sebagaimana tujuan penetapannya.

Leave a Reply