Oleh: Ghelby Muhammaf Faid
Kawasan konservasi, baik darat dan laut, dibuat untuk melindungi kawasan, biota, dan hal-hal lainnya dari pemanfaatan dan/atau eksploitasi secara tidak bertanggung jawab sehingga pemanfaatannya bisa berkelanjutan. Pengelolaan kawasan konservasi yang baik tentunya faktor yang sangat penting untuk diperhatikan sehingga penetapan status tersebut bukan hanya formalitas semata tetapi memang memberikan dampak yang berarti pada lingkungan. Pencapaian tujuan mulia tersebut harus melibatkan kerja sama pihak-pihak yang terlibat baik dari pemerintah maupun masyarakat, seperti yang disampaikan pada artikel MCPR.
Pelaksanaan pengelolaan kawasan konservasi tentunya menghadapi banyak tantangan mulai dari pengaruh alami seperti perubahan iklim hingga efek samping dari kegiatan manusia seperti polusi mikroplastik. Faktor-faktor tersebut sudah sejak lama menarik perhatian saintis dan pemerintah karena posisinya yang vital dalam keberlanjutan kawasan konservasi dunia. Saintis terus melakukan penelitian dan eksplorasi untuk memahami lebih jauh mengenai keberadaan, dampak, dan penanggulangan hal-hal tersebut demi kemaslahatan umat manusia dan lingkungan.
Kegiatan Darat Menyumbang 98% Mikroplastik Primer di Perairan
Mikroplastik merupakan istilah yang digunakan untuk mendefinisikan polimer plastik yang berukuran kurang dari 5 mm. Istilah ini pertama kali digunakan pada artikel ilmiah oleh Richard Charles Thompson, seorang ahli biologi kelautan dari University of Plymouth, Britania Raya, pada tahun 2004. Mikroplastik banyak ditemukan pada kegiatan sehari-hari misalnya sebagai agen pembersih kulit pada produk perawatan diri.
Sumber mikroplastik yang masuk ke lingkungan perairan berasal dari kegiatan darat dan laut mengalami peningkatan yang pesat mulai dari tahun 2000. Kegiatan darat bertanggung jawab atas adanya 98% mikroplastik di perairan dunia sedangkan kegiatan laut hanya 2%. Tiga kegiatan yang paling banyak menghasilkan mikroplastik yaitu pencucian tekstil sintetis (35%), abrasi ban kendaraan bermotor (28%), dan city dust–istilah untuk beberapa abrasi yang umumnya terjadi di perkotaan–(24%).
Dampak Mikroplastik pada Kawasan Konservasi
Jumlah mikroplastik di kolom air permukaan pada tahun 2020 sebanyak 594.000 ton dan pada 2023 diperkirakan sebanyak 666.300 ton. Terdapat tiga kemungkinan mengenai kuantitas mikroplastik di lingkungan perairan pada tahun 2050 yang didasari pada tingkat emisi mikroplastik dunia pada tahun 2020 yaitu:
- Tingkat emisi berhenti total pada tahun 2020: 1.477.200 ton.
- Tingkat emisi stagnan sebagaimana tahun 2020: 2.276.000 ton.
- Tingkat emisi terus tumbuh: 2.652.700 ton.
Dampak yang diterima oleh kawasan konservasi dari adanya mikroplastik di laut yaitu tercemarnya lingkungan kawasan konservasi. Interaksi antara mikroplastik dengan lingkungannya memberikan dampak negatif bagi organisme-organisme terestrial dan laut. Mikroplastik dapat terakumulasi pada jaringan hewan-hewan laut melalui konsumsi dan pernafasan. Seringkali kita mendengar argumen yang menyatakan penyu bingung membedakan antara plastik bening dengan ubur-ubur sehingga kerap salah memilih.yang mana yang harus dikonsumsi. Plastik yang tergolong makroplastik saja memberikan dampak yang fatal bagi organisme laut apalagi mikroplastik yang ukurannya kurang dari 5 mm. Sifat mikroplastik yang terlihat ‘menyatu’ dengan air mengakibatkan mudahnya mikroplastik tersebut masuk ke biota-biota laut mulai dari nekton hingga filter feeder.
Berbicara mengenai keberadaan mikroplastik di lingkungan, terdapat satu penelitian yang menarik perhatian yaitu yang dilakukan European Union’s Scientific Advice Mechanism pada tahun 2019. Studi tersebut menemukan bahwa mikroplastik ada di udara, tanah dan sedimen, air tawar, laut dan samudera, tumbuhan dan hewan, dan dalam beberapa komponen makanan manusia. Sederhananya, saat ini mikroplastik ada pada setiap bagian lingkungan.
Sama halnya dengan wilayah perairan di belahan dunia lain, wilayah perairan Indonesia pun tak luput dari pencemaran mikroplastik. Sebut saja di perairan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur; Taman Nasional Laut Karimunjawa; dan Kawasan Konservasi Badherbang, Blitar, Jawa Timur.
Luasnya dampak mikroplastik membuka mata kita akan betapa pentingnya mitigasi dan pengurangan emisi mikroplastik. Semua pihak bisa memberikan kontribusinya masing-masing sesuai dengan bidangnya. Jika kegiatan-kegiatan restorasi dan preventif terkait mikroplastik dipandang sebelah mata bukan tidak mungkin pada masa depan jumlah mikroplastik akan lebih banyak daripada jumlah ikan di laut.










