Bagaimana Selatan Perairan Pulau Sumba Bisa Dijadikan Landas Kontinen Indonesia Melalui Kajian Geologi

Oleh: Yesi Deskayanti

Perjuangan Indonesia untuk mendapatkan pengakuan sebagai negara Kepulauan telah diperjuangkan sejak 1957 dalam Deklarasi Djuanda dan mencapai puncak dalam Konvensi Hukum Laut pada tahun 1982. Hal ini memberikan dampak positif luar biasa terutama dalam luas wilayah dimana Indonesia mendapatkan tambahan wilayah laut teritorial, yurisdiksi, dan landas kontinen. Namun, keuntungan ini memberikan konsekuensi bagi Indonesia, yaitu menghadirkan tanggung jawab serta tekanan dari pihak internasional yang lebih besar. Perihal landas kontinen bagi Indonesia, hal ini sudah ditetapkan dalam UU Nomor 1 tahun 1973 tentang “Landas Kontinen Indonesia” yang terdiri dari 14 pasal. UU LKI dikeluarkan pasca Pengumuman Pemerintah tahun 1969. Kebijakan lain yang mengatur tentang LKI adalah UU Nomor 17 tahun 1985 yang membahas tentang batas landas kontinen dalam “Pengesahan UNCLOS”.

Klaim batas wilayah dapat dilakukan oleh Indonesia sesuai dengan arahan UNCLOS yang mengizinkan Coastal State untuk menetapkan wilayah hak atas landas kontinen laut teritorial hingga 350 mil dari garis pangkal dari jarak 200 mil laut yang sudah ditetapkan. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa landas kontinen merupakan tempat/wilayah yang diketahui memiliki sumber daya kelautan yang kaya, mulai dari minyak dan gas, kandungan logam serta panas bumi. Bagi negara berkembang yang dikenal dengan luas lautnya, tentu ini akan menjadi “harta karun” yang dapat menunjang perekonomian negara. Maka dari itu, penetapan hak atas wilayah ini dilakukan agar memudahkan Indonesia dalam melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi SDA yang ada. Kebijakan pemanfaatan potensi SDA yang ada di Perairan laut Indonesia sudah diatur dalam Buku BIru BAPPENAS 1999/2000 dimana pokok kebijakan tersebut meliputi : 

  1. Menegakkan Kedaulatan dan Yurisdiksi Nasional, 
  2. Meningkatkan Pendayagunaan Potensi Laut dan Dasar Laut
  3. Mengembangkan Data dan Informasi Kelautan

Terdapat tiga lokasi dengan beberapa pertimbangan yang dapat dijadikan hak bagi Indonesia untuk pelaksanaan landas kontinen di luar 200 mil, yaitu Selatan Pulau Sumba, Sebelah Barat Aceh, dan Utara Papua.

Tinjauan Geologi Untuk Penetapan Wilayah Landasan Kontinen Bagi Indonesia

Dalam Konvensi Hukum Laut 1982, Bab VI pasal 76-85 dicantumkan kriteria bagi Coastal State dalam menentukan batas landas kontinen, yaitu mencakup daerah dasar laut dan tanah dibawahnya, sepanjang masih termasuk kelanjutan alamiah wilayah daratan hingga memasuki pinggiran luar tepi kontinen. Sederhananya, KHL 1982 memberi kebebasan mana yang dapat memberikan keuntungan dengan dua opsi metode, yaitu penarikan berdasarkan topografi wilayah laut dan ketebalan sedimen. Pengambilan titik untuk landas kontinen dengan dua metode dapat ditindaklanjuti dengan peninjauan kembali melalui aspek hukum, aspek geografis, serta aspek geologi sehingga pengambilan titik wilayah tidak dilakukan secara sembarangan.

Gambar: Batas Landas Kontinen KHL 1982 Pasal 76
Sumber

Meninjau Selatan Pulau Sumba sebagai Wilayah Perairan Untuk Landas Kontinen Indonesia

Pulau Sumba memiliki kenampakan geologi yang dipengaruhi oleh zona subduksi aktif lempeng India-Australia di bawah lempeng Eurasia sepanjang palung Jawa dan lebih jauh ke timur sepanjang palung Timor. Keadaan ini memberikan pengaruh bagi daerah sekitar yang mengakibatkan adanya penunjaman kerak benua dan bentukan busur gunung api aktif. Hal itu juga memunculkan adanya kombinasi penunjaman kerak benua dan kerak samudera seperti yang terjadi di Selatan Perairan Sumba. Melihat hal ini, kemungkinan suplai sedimen dari arah gunung api ke daerah daratan kerak benua sangat tipis sehingga hal ini mempengaruhi klaim batas wilayah di luar 200 mil laut. Selain itu, penampang seismik dalam Ekspedisi Sinbad memberikan gambaran bahwa adanya perubahan pada bagian morfologi dasar laut seperti palung yang mengalami subduksi mengakibatkan munculnya sesar naik, tinggian yang terlihat bergeser, dan kedalaman cekungan yang dipengaruhi oleh tinggian. Terdapat beberapa lintasan seismik sebagai bagian dari refleksi multichannel juga yang dapat berpengaruh pada batas wilayah 200 mil, diantaranya : 

  1. Arah utara-selatan yang menunjukkan adanya sedimen tipis 
  2. Arah barat-timur menunjukkan adanya suatu cekungan sedimen dengan ketebalan yang cukup.
  3. Lintasan seismik LK06-04 menunjukkan ketebalan sedimen 6,2 kali lebih tebal dibandingkan dengan sedimen di sekitarnya dengan persentase ketebalan 1.81% terhadap Foot Of Slope (FOS)

Berdasarkan tinjauan dari segi dan kondisi geologi di atas, landasan kontinen Indonesia terutama di Perairan Selatan Sumba membuka peluang besar untuk dilakukan pengambilan titik wilayah di perairan tersebut karena sudah didukung melalui aspek hukum serta beberapa bukti pendukung dengan penelitian yang dilakukan para ahli. Namun, apabila memang diperlukan bukti kuat melalui bidang geologi, hal ini perlu dilakukan tindak lanjut untuk mengetahui lebih rinci mengenai morfologi laut di bagian-bagian yang menjadi titik lokasi landas kontinen. Untuk mendukung wilayah landas kontinen agar lebih diakui oleh pihak internasional, bisa dilakukan tinjauan melalui aspek geografis, hukum yang lebih kuat dan jelas, serta aspek teknis misalnya pemetaan, data dan dokumen terkait yang harus dipenuhi oleh Negara Indonesia.

#MCPRDailyNews

Leave a Reply