Ekspansi Substansial Vietnam di Laut Cina Selatan

Oleh : Nabilla Azka Putri

Vietnam sebagai salah satu negara anggota ASEAN dilaporkan baru-baru ini telah melakukan ekspansi besar-besaran terkait proyek pengerukan dan penimbunan di beberapa kawasan yang mencakup pos terdepan Laut Cina Selatan. Tindakan ini secara implisit mereka lakukan sebagai isyarat akan keteguhan pendirian atas klaim dari jalur perairan pusat sengketa. Menanggapi hal tersebut, Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington terlebih dahulu mengatakan bahwa proyek serupa sebenarnya juga telah dilakukan di Kepulauan Spratly, yang juga diklaim oleh Cina, dan menciptakan sekitar 420 hektar lahan baru hasil reklamasi oleh  Vietnam. Tanggapan lain pun diberikan oleh Asia Maritime Transparency Initiative (AMTI) CSIS yang mengatakan bahwa proyek Vietnam di lahan berpotensi sengketa itu turut difokuskan pada perluasan dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) bagi negara mereka. 

Bila membicarakan terkait respon negatif yang akan diberikan oleh Cina, AMTI mengatakan bahwa sebenarnya sejak tahun 2013-2016, Cina telah lebih dulu melakukan proyek pembangunan serupa dengan cakupan luas sebesar 3.200 hektar demi memperkuat posisinya di Spratly. Lebih lanjut lagi, AMTI juga mengatakan bahwa pos terdepan Vietnam di Pulau Namyit, Pearson Reef, dan Sand Cay sedang mengalami ekspansi besar-besaran, dengan pelabuhan pengerukan yang mampu menampung kapal yang lebih besar.  Untuk lebih spesifik lagi, ekspansi ini sudah terbagi seluas 47 hektar untuk Pulau Namyit, 48 hektar untuk Pearson Reef dan 39 hektar untuk Pulau Spratly.

Dalam operasional eksekusi proyek ekspansi yang dilakukannya, Vietnam menggunakan kapal keruk clamshell untuk meraup bagian terumbu dangkal dan menyimpan sedimen untuk TPA. Proses ini tidak terlalu merusak bila dibandingkan dengan metode yang digunakan oleh Cina. Hal yang perlu diperhatikan dalam aktivitas ini adalah berbagai gugatan, protes dan perlawanan yang akan Vietnam dapatkan dari berbagai negara pengincar kekuasaan terutama Cina yang mengklaim sebagian besar Laut China Selatan serta mendirikan pos-pos militer di pulau-pulau buatan yang dibangunnya di sana. Adapun negara lain seperti Taiwan, Vietnam, Malaysia, Brunei, dan Filipina semuanya memiliki klaim yang tumpang tindih di laut dengan nilai kestrategisan jalur pelayaran, ladang MIGAS dan tempat penangkapan ikan yang kaya tersebut.

Leave a Reply