Laporan Terbaru UNEP Menawarkan Solusi Investasi Ekonomi Paling Menguntungkan Abad Ini

Oleh: Bayu Maulana Faisal
Akhir akhir ini, perubahan iklim menjadi sorotan dan masih dicarikan jalan keluar yang solutif dan berkelanjutan bagi dunia global. Tidak lain, pemahaman akan keberlanjutan umat manusia menjadi pokok utama dalam maraknya kegiatan eksploitasi dan eksplorasi yang dilakukan oleh manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, seperti pangan, energi, dan ekonomi.

Disisi lain, dampak yang timbul dalam konteks ini serta merta meningkatkan produksi gas efek rumah kaca, selaras dengan hal tersebut suhu global pun terus naik dari tahun ke tahun. Dalam publikasi terbarunya, United Nations Environment Programme (UNEP) merilis laporan dimana didalamnya secara komprehensif menjelaskan bahwa tindakan terintegrasi terhadap perubahan iklim dan polusi udara merupakan salah satu peluang investasi dengan tingkat pengembalian tertinggi bagi pemerintah saat ini.

Bagaimana hal tersebut bisa dilakukan dan bagaimana penjelasannya?

Laporan yang berjudul Hidden assets: The economic and health case for climate and clean air action mengungkapkan bahwa setiap 1 dolar yang diinvestasikan dalam paket 25 solusi terintegrasi mampu menghasilkan sekitar 15 dolar manfaat ekonomi, dengan tingkat pengembalian internal (internal rate of return) mencapai 60%. Bila dikonversi kedalam rupiah, maka 1 dolar AS dalam kurs hari ini (09/11) senilai Rp 17.601,00 akan menghasilkan Rp 264.104,97. Dengan angka yang cukup signifikan, dalam laporan tersebut dijelaskan terdapat 25 solusi terintegrasi yang terbagi menjadi dua kategori utama: jangka panjang (Long-term) dan jangka pendek (Short-term).

4 Solusi Iklim Jangka Panjang Berfokus pada transformasi sistem energi dan pengurangan emisi karbon dioksida (CO2) jangka panjang. Sedangkan 21 Solusi Udara Bersih & Iklim Jangka Pendek menargetkan penurunan cepat pada polutan udara dan pencemar iklim berumur pendek (super pollutants/SLCPs) seperti metana, karbon hitam, dan HFC.

Perhitungan imbal hasil 15 banding 1 (Benefit-Cost Ratio / BCR sebesar 15:1) didasarkan pada analisis ekonomi makro global yang membandingkan Total Nilai Sekarang (Present Value) dari Manfaat Ekonomi dengan Total Nilai Sekarang dari Biaya Implementasi untuk 25 solusi terintegrasi dari tahun 2025 hingga 2100.

Sisi biaya memperhitungkan engineering costs yang diperlukan untuk membangun, mengoperasikan, dan memelihara seluruh teknologi serta infrastruktur dari 25 solusi terintegrasi seperti Capital Expenditure (CapEx) dan Operational Expenditure (OpEx). Total biaya implementasi diperkirakan sekitar 0,7% dari PDB global per tahun pada dekade mendatang (sekitar US$ 1,5 triliun per tahun) dan menurun menjadi sekitar 0,5% dari PDB global pada tahun 2100. Disisi manfaat, dihitung dari kerusakan yang berhasil dihindari (avoided damage) akibat penurunan polusi udara dan perubahan iklim, yang dibagi menjadi dua kelompok utama yaitu Market Benefits dan Non-Market Benefits. Market benefits terdiri dari:

·        Penghematan Layanan Kesehatan

·        Peningkatan Produktivitas Kerja

·        Penghindaran Kerusakan Aset Fisik akibat Iklim

Dari aspek kesehatan masyarakat dan modal manusia, dampak positif dari tindakan terintegrasi ini sangat masif. Hingga tahun 2050, penerapan penuh 25 solusi ini diperkirakan dapat mencegah sekitar 144 juta kematian dini yang disebabkan oleh paparan polusi PM2.5 dan ozon. Selain menyelamatkan nyawa, tindakan ini secara kumulatif sanggup menghindarkan ratusan juta kasus penyakit kronis baru hingga tahun 2050, yang mencakup 62 juta kasus asma anak, 87 juta serangan jantung, 63 juta kasus penyakit paru obstruktif kronis (COPD), 56 juta kasus diabetes, 45 juta kasus stroke, 36 juta kasus demensia, dan 7 juta kasus kanker paru-paru. Penggabungan agenda iklim dan udara bersih ini juga menciptakan sinergi komputasi ekonomi tambahan sebesar 0,2% PDB global yang tidak akan tercapai jika kedua kebijakan dijalankan secara terpisah.

Meskipun seluruh kawasan global memperoleh imbal hasil positif, efisiensi investasi ini paling tinggi dirasakan oleh wilayah-wilayah berkembang yang menanggung beban polusi dan risiko kesehatan terberat. Rasio manfaat-biaya mencapai 26:1 di Afrika bagian Selatan dan 21:1 di Asia Selatan, dibandingkan dengan 3:1 di wilayah berpendapatan tinggi seperti Uni Eropa. Temuan studi ini juga mengungkap bahwa hambatan terbesar dalam meraih potensi ekonomi ini bukanlah keterbatasan teknis atau keuangan, melainkan hambatan institusional seperti koordinasi antar lembaga yang lemah dan kapasitas administrasi yang terbatas, yang menyumbang sekitar 2,4 tahun dari rata-rata penundaan implementasi global selama 7,5 hingga 8 tahun. Setiap tahun penundaan tindakan akan menghilangkan manfaat ekonomi lebih dari 0,5% PDB global (setara lebih dari US$ 1,5 triliun per tahun), sehingga reformasi tata kelola dan penguatan kapasitas institusional menjadi kunci utama untuk merealisasikan manfaat ekonomi dan kesehatan ini secara tepat waktu.

Sebagai negara berkembang, Indonesia perlu menjadikan publikasi ini sebagai rujukan strategis dalam merumuskan arah kebijakan berkelanjutan. Pemangku kepentingan termasuk pembuat kebijakan, akademisi, dan peneliti diharapkan terdorong untuk mengkaji serta mengimplementasikan rekomendasi laporan ini guna mengakselerasi program-program pembangunan berkelanjutan secara optimal. 

#MCPRDailyNews

Leave a Reply