Ketika El Niño Mengeringkan Indonesia: Seberapa Efektif OMC Dapat Menangani Karhutla?

Oleh: Haura Azalia Putri Fardian

Indonesia kembali menghadapi tekanan karhutla yang serius pada 2026 seiring menguatnya fenomena El Niño. BMKG menyebut El Niño diperkirakan bertahan hingga awal 2027, sementara sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam musim kemarau pada September. Sebanyak 437 Zona Musim atau 48,77% luas daratan Indonesia diproyeksikan mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari kondisi normal. Kondisi kering tersebut diperkuat oleh rendahnya peluang pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah, sehingga hujan alami belum mampu memulihkan kondisi kekeringan secara merata.

Dampak kondisi tersebut terlihat dari meningkatnya aktivitas kebakaran di Sumatera dan Kalimantan. Data Fire Emissions Watch yang dikembangkan oleh Copernicus menunjukkan emisi kebakaran Indonesia pada 1–7 September 2026 mencapai 19,7 juta ton CO2, atau lebih dari sepertiga emisi kebakaran global pada periode tersebut. Intensitas emisi tercatat 273% di atas rata-rata musiman, dengan konsentrasi tinggi di Kalimantan dan Sumatra bagian timur. Kondisi ini menunjukkan bahwa kombinasi kekeringan dan El Niño dapat memperkuat intensitas kebakaran ketika sumber api muncul, sementara kebakaran gambut yang berlangsung di bawah permukaan bahkan berpotensi tidak seluruhnya terdeteksi oleh sistem pemantauan satelit.

OMC Sebagai Upaya Pencegahan

Dalam kondisi tersebut, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk mengurangi risiko karhutla dengan mengoptimalkan potensi hujan yang tersedia. OMC dilakukan melalui penyemaian awan potensial menggunakan bahan semai seperti natrium klorida (NaCl), dengan tujuan mempercepat proses pembentukan presipitasi dan meningkatkan peluang hujan di wilayah sasaran. Data BMKG menunjukkan bahwa pada September 2026 OMC untuk pembasahan gambut dan penanganan karhutla berlangsung di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sumatra Selatan, Jambi, Lampung, dan wilayah lainnya.

Pelaksanaan OMC pada 2026 menunjukkan bahwa pendekatan pemerintah mulai bergeser dari sekadar pemadaman ketika api telah membesar menuju pencegahan melalui pembasahan lahan. Di Kalimantan Barat, misalnya, OMC yang berlangsung sejak 22 Agustus hingga 4 September 2026 mencatat 27 sorti penerbangan dengan 24.600 kg NaCl, sementara operasi di Kalimantan Tengah menghasilkan 10 sorti dengan 8.000 kg NaCl. BMKG melaporkan bahwa operasi di Kalimantan Barat menghasilkan hujan di sejumlah lokasi yang membantu meningkatkan kelembapan gambut, mendinginkan area terdampak, mengurangi kabut asap, dan menekan munculnya titik api baru.

Batas Efektivitas Modifikasi Cuaca

Di sisi lain, OMC tetap memiliki batasan ilmiah yang perlu dipahami dalam perumusan kebijakan. World Meteorological Organization (WMO) menjelaskan bahwa modifikasi cuaca bekerja pada skala lokal hingga regional dan tidak mampu menciptakan sistem awan hujan dari atmosfer yang tidak memiliki kondisi pendukung. Teknologi tersebut juga tidak dapat mengubah pola angin secara bebas untuk membawa uap air ke suatu wilayah ataupun mengendalikan fenomena cuaca berskala besar. Hal ini menjadi tantangan khusus selama El Niño karena kondisi yang paling membutuhkan tambahan hujan justru dapat memiliki ketersediaan awan yang lebih terbatas. Oleh sebab itu, keberhasilan OMC sangat bergantung pada ketepatan waktu, karakteristik awan, kondisi mikrofisika atmosfer, serta kemampuan tim operasi mengidentifikasi peluang penyemaian.

Keterbatasan tersebut menunjukkan bahwa OMC tidak dapat ditempatkan sebagai solusi tunggal untuk mengatasi karhutla. Hujan hasil modifikasi cuaca dapat membantu meningkatkan kelembapan lahan dan menekan kondisi kering, tetapi kebakaran yang telah berkembang tetap memerlukan pemadaman langsung melalui operasi darat maupun udara, Situasi pada awal September 2026 menunjukkan penerapan pendekatan terpadu tersebut, dengan mengkombinasikan OMC, water bombing, serta pengerahan puluhan pesawat untuk mendukung pengendalian kebakaran. Namun, pelaksanaan OMC tetap bergantung pada ketika ketersediaan dan karakteristik awan yang memenuhi syarat untuk penyemaian.

Perlu dipahami kembali El Niño pada dasarnya merupakan faktor penguat risiko, sedangkan sumber penyulutan kebakaran juga berkaitan dengan aktivitas manusia dan kondisi tata kelola lahan. Dengan begitu, di tengah El Niño 2026 yang semakin meningkatkan tekanan terhadap ekosistem gambut dan hutan Indonesia, OMC dapat menjadi instrumen penting untuk memanfaatkan setiap peluang hujan yang tersedia tetapi efektivitasnya tetap bergantung pada integrasi dengan pencegahan sumber api, pengelolaan gambut, pemantauan dini, serta pemadaman terpadu.

#MCPRDailyNews

Leave a Reply