Oleh: Kenjiro Khosyi Counedio
KRI Canopus-936 kini resmi menjadi bagian dari kekuatan TNI Angkatan Laut sebagai bagian dari program modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista). Proses peresmian kapal dirangkaikan dengan pengukuhan Komandan kapal, Kolonel Laut (P) Indragiri Yani Wardhono, yang menandai dimulainya masa operasionalnya di bawah TNI AL. Melalui amanat Menteri Pertahanan yang dibacakan Wakil Kepala Staf Angkatan Laut, ditegaskan bahwa pengadaan kapal ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat pertahanan laut nasional.
Sebagai kapal bantu hidro-oseanografi, KRI Canopus-936 akan memperkuat jajaran Pusat Hido-Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal) dalam menjalankan fungsi survei hidrografi dan oseanografi. Kapal ini tidak hanya bertugas melakukan pemetaan laut dan pengukuran karakteristik dasar perairan, tetapi juga mendukung keselamatan navigasi, membantu operasi SAR, serta menunjang patroli keamanan laut.
Modernisasi Alutsista dan Kebutuhan Negara Kepulauan
Dalam kerangka kebijakan pertahanan, penguatan alutsista laut merupakan amanat yang sejalan dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara dan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI. Kedua regulasi tersebut menekankan pentingnya kesiapan kekuatan pertahanan yang mampu menjaga kedaulatan dan wilayah yurisdiksi nasional.
Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, keberadaan kapal survei hidro-oseanografi memiliki arti strategis. Data laut yang akurat menjadi fondasi dalam perencanaan operasi militer maupun keselamatan pelayaran. Kekuatan laut modern tidak hanya bertumpu pada kapal kombatan, tetapi juga pada kemampuan pendukung seperti survei, pemetaan, dan penguasaan informasi maritim. KRI Canopus-936 menandai perubahan fokus modernisasi yang kini tidak hanya bertumpu pada daya gempur, tetapi juga pada kemampuan mengelola dan memanfaatkan informasi laut.
Teknologi Unmanned dan Penguatan Maritime Domain Awareness
KRI Canopus-936 dilengkapi berbagai sistem tanpa awak seperti Autonomous Underwater Vehicle, Remotely Operated Vehicle, Autonomous Surface Vehicle, serta Drone Lidar dan Multibeam Echosounder. Integrasi teknologi tersebut menandakan bahwa survei laut saat ini mengandalkan sistem digital yang akurat dan beroperasi secara otomatis.
Dalam kajian keamanan maritim, konsep Maritime Domain Awareness (MDA) menjadi elemen penting dalam memastikan negara mampu memahami aktivitas di wilayah lautnya. MDA bukan hanya soal pengawasan, tetapi tentang kemampuan negara mengintegrasikan data menjadi dasar pengambilan keputusan strategis. Tanpa dukungan data hidro-oseanografi yang memadai, efektivitas operasi militer maupun non-militer dapat terhambat.
Tantangan dalam Implementasi
Kehadiran KRI Canopus-936 diharapkan meningkatkan kemampuan TNI AL dalam Operasi Militer Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP), termasuk dukungan kemanusiaan dan penanggulangan bencana. Kapal ini juga mempertegas komitmen TNI AL dalam menjaga kedaulatan dan keamanan wilayah laut Indonesia.
Meski demikian, modernisasi pertahanan bukan sekadar soal penambahan platform baru. Tantangan utama ke depan terletak pada bagaimana kapal ini terintegrasi dalam sistem pertahanan nasional secara menyeluruh, termasuk dalam pengelolaan data, interoperabilitas, serta dukungan logistik jangka panjang.
Dengan masuknya KRI Canopus-936 ke dalam jajaran TNI AL, Indonesia menegaskan langkah konsisten dalam memperkuat fondasi pertahanan maritim berbasis teknologi dan informasi. Kapal ini menjadi simbol transformasi kebijakan pertahanan laut yang semakin adaptif terhadap dinamika lingkungan strategis kawasan.
#MCPRDailyNews










