TWAL Kapoposang: Keberlanjutan Surga Bawah Laut Sulawesi untuk Generasi Mendatang

Oleh : Dhiya Rahmasari

Perairan di Pulau Kapoposang menyuguhkan panorama bawah laut yang mempesona, dengan ekosistem terumbu karang yang kaya akan keanekaragaman hayati. Keindahan ini tercermin dari ketinggian tingkat keterwakilan flora dan fauna laut, yakni sekitar 55% hingga 70%. Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Kapoposang menjadi salah satu kawasan konservasi penting di Sulawesi yang mewakili keberadaan tiga ekosistem pesisir, yaitu terumbu karang tepi atau datar, padang lamun, dan hutan mangrove. 

Terumbu karang tepi yang mengelilingi pulau ini membentang indah hingga 200 meter ke arah laut dengan kedalaman antara 1 hingga 10 meter saat air surut yang menciptakan keindahan kehidupan bawah laut. Formasi terumbu karang pada kawasan ini mencakup sekitar 69,8% dari seluruh spesies karang yang terdapat di Kepulauan Spermonde, menjadikannya habitat penting bagi berbagai organisme laut yang dilindungi dan terancam punah.

Taman Wisata Alam Laut Kapoposang yang terletak di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, bukan hanya surga bahari yang memukau dengan keindahan bawah lautnya, tetapi juga simbol transformasi pengelolaan wisata menuju pendekatan berbasis masyarakat (community-based management). Model pengelolaan ini menempatkan masyarakat lokal menjadi lakon utama dalam menjaga kesimbangan anatara pemanfaatan ekonomi dan konservasi ekosistem laut. Penelitian terbaru mengungkap bahwa keterlibatan komunitas lokal dalam pengembangan kawasan wisata memberikan kontribusi signifikan terhadap keberlanjutan ekonomi, sosial, dan ekologi. 

Menjaga Surga Bawah Laut Sulawesi

Taman Wisata Alam Laut Kapoposang menjadi model pengelolaan pesisir berbasis ekosistem dengan mengedepankan konservasi terumbu karang, padang lamun, dan hutan mangrove. Kawasan ini dikelola dengan prinsip keseimbangan antara perlindungan lingkungan dan pemanfaatan berkelanjutan. Keindahan yang diberikan tidak hanya menjadi daya tarik wisata, namun sebagai tombak utama pengembangan ekowisata berkelanjutan. Terumbu karang tepi yang mengelilingi pulau menjadi daya tarik utama wisata bahari sekaligus habitat penting berbagai spesies dan sebagai pelindung garis pantai dari abrasi. Terumbu karang yang masih hidup, keanekaragaman hayati laut seperti penyu sisik yang terancam punah, dan situs penyelaman kelas dunia seperti Gua Hiu dan Penyu menjadikan Kapoposang destinasi unggulan untuk wisata bahari dan konservasi.

Surga bawah laut Sulawesi ini berada dalam tekanan akibat keterbatasan infrastruktur dan kurangnya tata kelola yang baik. Tanpa upaya konservasi yang serius, pengelolaan ekosistem akan mengalami ancaman kerusakan nyata. Menjaga TWAL Kapoposang berarti menjaga keberlanjutan sumberdaya alam agar tetap terjaga dan dapat dinikmati tidak hanya oleh turis namun generasi yang akan datang.

Masyarakat dan Pemerintah, Pilar Ganda Penggerak Wisata dan Ekonomi

Pendekatan pariwisata yang memberdayakan komunitas untuk mengelola pariwisata dapat meningkatkan nilai ekonomis yang tinggi. Kapoposang memiliki potensi tinggi sebagai penggerak pada sektor wisata sekaligus pendorong ekonomi lokal. Namun, realita yang ada dominasi dari pihak swasta dalam pengelolaan mengakibatkan minimnya keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan ekonomi. Pendapatan dari sektor pariwisata yang belum terdistribusi secara adil sehingga masyarakat tidak merasakan adanya manfaat yang maksimal dari kehadiran wisatawan. 

Peran pemerintah dalam kondisi ini dapat secara langsung memberikan dukungan legal terhadap usaha kecil menengah masyarakat dalam bidang kerajinan, kuliner atau jasa pemandu wisata. Mengembangkan kerajinan khas Kapoposang dapat dilakukan sebagai aksi agar masyarakat lokal dapat terlibat secara aktif. Memberikan kenyamanan pada wisatawan sangat bergantung pada infrastruktur yang tersedia, dengan memperbaiki akses transportasi, listrik, air bersih, dan jaringan komunikasi dapat mendorong ekonomi lokal. Pemerintah berperan sebagai fasilitator dan edukator untuk mendorong perubahan pengelolaan wisata berbasis masyarakat dan lingkungan agar dapat melibatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama. 

Menjaga Kapoposang untuk Generasi Mendatang

Keberlanjutan Pulau Kapoposang sebagai tujuan wisata tidak hanya tergantung pada keindahan alamnya, tetapi juga pada cara pengelolaan yang dilakukan saat ini. Kegiatan wisata yang dilakukan secara berlebihan tanpa memperhatikan pelestarian lingkungan dan keterlibatan masyarakat dapat menyebabkan kerusakan ekosistem serta memicu ketidakadilan sosial. Oleh karena itu, kerjasama antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta sangat penting untuk menjaga keberlanjutan pulau ini.

#MCPRDailyNews

Leave a Reply