Oleh: Bintang Azahra
Laju pertumbuhan karbon dioksida (CO₂) dari tahun 2010 hingga 2023 terus mengalami peningkatan. Tren ini beriringan dengan kenaikan suhu permukaan bumi hingga tahun 2023 pernah ditetapkan sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat. Peningkatan suhu ini memicu berbagai peristiwa degradasi lingkungan, seperti mencairnya lapisan es, peningkatan frekuensi kebakaran hutan, dan pemanasan lautan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan terganggunya proses carbon sink atau penyerapan karbon. Kekhawatiran tersebut terbukti, sebagaimana dinyatakan dalam hasil penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2023, yang menunjukkan adanya penurunan drastis dalam kemampuan ekosistem darat dan laut menyerap karbon pada tahun tersebut.
Penyebab Penurunan Fungsi
Studi ilmiah juga menunjukkan bahwa lautan, yang menyerap sekitar menyerap sekitar 31% emisi CO₂ yang dilepaskan ke atmosfer, kini menghadapi ancaman serius. Salah satu ancaman terbesar adalah pengasaman air laut yang disebabkan oleh penyerapan karbon berlebihan dari atmosfer dan juga berubahnya salinitas laut akibat mencairnya lapisan es dan mengganggu arus Gulf Stream. Proses ini meningkatkan kadar keasaman air laut, yang mempengaruhi kelangsungan hidup biota laut, seperti kerang dan moluska, yang kesulitan bertahan hidup di perairan yang lebih asam. Akibatnya, terjadi gangguan pada rantai makanan laut, yang juga mengganggu ekosistem laut secara keseluruhan. Pengasaman ini juga memperburuk fenomena pemutihan karang atau coral bleaching, yang menyebabkan karang mati dan menghancurkan kehidupan biota laut yang bergantung pada terumbu karang. Selain itu, meningkatnya suhu laut memperburuk kondisi ini dengan menyebabkan perubahan distribusi keanekaragaman biota dan menurunnya populasi fitoplankton yang sangat penting untuk penyerapan karbon.
Selain itu, di ekosistem pesisir, keberadaan ekosistem mangrove juga mengalami ancaman serius karena perubahan iklim yang semakin cepat, padahal mangrove memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menyerap karbon dioksida, bahkan diperkirakan mampu menyerap 67,7 ton CO₂ per hektar setiap tahunnya. Kerusakan ekosistem mangrove akibat deforestasi dan alih fungsi lahan masih saja terjadi, mengakibatkan pelepasan CO₂ ke atmosfer. Pohon mangrove berfungsi menyerap serta menyimpan CO₂ selama hidupnya dan melepaskannya kembali saat mati. Padahal, jika kelestarian ekosistem mangrove terjaga, ekosistem mangrove dapat menyerap karbon yang setara dengan emisi CO₂ dari pembakaran fosil setiap tahunnya. Dengan ancaman yang terus meningkat terhadap ekosistem mangrove, upaya konservasi dan pemulihannya sangat penting untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan menjaga fungsi vital carbon sink yang dimiliki ekosistem ini.
Upaya pemulihan
Di Indonesia, pemerintah telah mengadopsi berbagai kebijakan untuk melestarikan dan meningkatkan kapasitas penyerapan karbon. Salah satu langkah tersebut adalah target pemulihan ekosistem mangrove seluas 600.000 hektar pada tahun 2024 yang tertuang dalam Perpres nomor 120 tahun 2020 tentang Badan Restorasi Gambut dan Mangrove dan komitmen terhadap program REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan serta meningkatkan penyimpanan karbon melalui konservasi hutan.
Namun, kebijakan-kebijakan ini masih menghadapi berbagai tantangan dalam implementasinya. Misalnya, meskipun ada target pemulihan ekosistem mangrove, data menunjukkan masih banyak perusakan ekosistem mangrove di lapangan, yang bertolak belakang dengan tujuan pemerintah untuk melestarikan ekosistem mangrove dan meningkatkan kapasitas penyerapan karbon. Program REDD+ juga menghadapi hambatan, terutama dalam pengawasan alih fungsi lahan yang masih belum optimal.
Menjaga fungsi carbon sink sebagai penyeimbang karbon di Bumi semakin mendesak di tengah meningkatnya suhu global dan menurunnya kapasitas alam untuk menyerap karbon. Mencapai nol emisi tidak mungkin dilakukan tanpa peran alam. Tanpa adanya teknologi yang mampu menghilangkan karbon atmosfer dalam skala besar, hutan, padang rumput, rawa gambut, dan lautan adalah satu-satunya penyerap utama karbon yang tersedia. Oleh karena itu, diperlukan tindakan kolaboratif yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta untuk mengurangi emisi karbon serta memulihkan ekosistem penyerap karbon yang terganggu.
#MCPRDailyNews










