Hutan Mangrove: Membantu Perubahan Iklim, Namun Ikut Terancam Akibat Perubahan Iklim, Kenapa?

Oleh : Yesi Deskayanti

Hutan mangrove merupakan tumbuhan yang tersebar luas di sepanjang garis pantai pada daerah yang memiliki iklim tropis dan menjadi pendukung berbagai jasa ekosistem, termasuk produksi perikanan dan siklus unsur hara. Apabila dibandingkan dengan banyaknya hutan tropis di berbagai negara, hutan mangrove merupakan tumbuhan yang memiliki kemampuan luar biasa dalam proses asimilasi dan laju penyerapan karbon yang tinggi atau dapat dikatakan bahwa hutan mangrove memiliki kemampuan menyimpan karbon lebih banyak sehingga dapat membantu dan berperan dalam aktivitas blue carbon untuk mengurangi dampak dari emisi gas rumah kaca.

Kondisi Hutan Mangrove Dunia

Namun, tercatat bahwa hutan mangrove telah mengalami penurunan hingga 30-50% dalam beberapa abad terakhir karena berbagai pembangunan dan deforestasi oleh manusia, khususnya pembangunan di kawasan pesisir, perluasan pembangunan, dan penebangan berlebihan. Dikatakan juga bahwa kerusakan mangrove sudah berada pada tahap yang mengkhawatirkan karena penyebaran hutan mangrove terus terancam dan mengalami kerusakan. 

Fakta yang membuat kita berpikir adalah kerusakan mangrove juga didapat dari adanya pengaruh dari persoalan emisi gas rumah kaca yang menjadi salah satu penyebab perubahan iklim. Hal ini membuat bertanya-tanya bagaimana mangrove dapat membantu menyerap karbon dalam jumlah yang besar akibat emisi gas rumah kaca, namun di sisi lain juga ikut terancam akibat persoalan tersebut.

Bagaimana Penyebaran Hutan Mangrove Terganggu Akibat Emisi Gas Rumah Kaca?

Sudah bukan menjadi hal yang asing lagi bahwa emisi gas rumah kaca merupakan salah satu penyebab terganggunya iklim dan cuaca yang terdapat di bumi. Pemanasan global terus mengalami peningkatan sejalan dengan berbagai proyeksi di masa depan. Air laut sangat bergantung pada iklim dan cuaca, dimana dampak perubahan iklim memberikan perubahan yang meningkat terhadap kenaikan permukaan air laut, perubahan pola curah hujan dan peningkatan suhu. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor terancamnya penyebaran hutan mangrove.

Penyebaran hutan mangrove sangat bergantung pada lautan. Lautan menjadi media penyebaran utama bagi vegetasi di daerah pesisir. Penyebaran yang dilakukan adalah proses utama yang dimaknai dengan respons suatu spesies terhadap perubahan iklim dengan mengubah wilayah geografisnya. Artinya pola penyebaran mengalami perubahan geografis seiring dengan berubahnya sifat air yang diakibatkan oleh perubahan iklim. 

Propagul pada mangrove memang memiliki adaptasi yang unik untuk bertahan dalam lingkungan pesisir yang keras dan berair. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa perubahan iklim terus meningkatkan luas perairan sehingga mangrove kepadatan lebih rendah ini dapat meluas lebih jauh ke lepas pantai, sehingga mengubah karakteristik daya apung dan distribusi spasial propagul. Kerugian demografis yang diakibatkan oleh ekosistem tinggal di habitat yang tidak sesuai dapat menjadi seimbang ketika populasi berevolusi untuk memiliki kepadatan propagul yang lebih rendah. 

Meninjau kondisi penyebaran hutan mangrove yang ikut rusak akibat perubahan iklim ternyata saling berkaitan terhadap fungsi mangrove itu sendiri terhadap perubahan iklim. Mangrove yang rusak tidak mampu menyerap karbon dengan baik untuk emisi gas rumah kaca, sebaliknya emisi gas rumah kaca penyebab perubahan iklim dapat mengganggu penyebaran hutan mangrove sendiri.  Keadaan iklim yang tidak baik akan membentuk penyebaran mangrove yang tidak baik pula. Sebaiknya, persoalan perubahan iklim lebih menjadi hal yang perlu diketahui dan menjadi fokus bagi manusia untuk sadar dan mulai merubah perilaku dengan lebih peduli dengan keadaan alam.

Leave a Reply