Dinamika Temporal Sedimentasi dan Implikasinya terhadap Geologi Laut di Wilayah Terumbu Karang Kepulauan Spermonde dan Sembilan, Sulawesi Selatan

Ekosistem terumbu karang yang terdapat di kawasan pesisir Sulawesi Selatan, khususnya di Kepulauan Spermonde dan Sembilan, merupakan salah satu sistem biologis paling produktif di Indonesia, namun sekaligus termasuk yang paling rentan terhadap tekanan lingkungan dan aktivitas antropogenik. Dalam konteks geologi kelautan, wilayah ini merupakan zona transisi antara sistem daratan dan lautan terbuka, yang secara morfologis dan hidrodinamis menerima masukan material dalam jumlah besar, baik dalam bentuk sedimen maupun zat hara (nutrien). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perubahan fungsi lahan di wilayah tangkapan air (watershed) seperti maraknya pertanian dan budidaya perairan telah mempercepat laju eutrofikasi, yakni peningkatan kadar nutrien seperti nitrat dan fosfat di perairan laut dangkal. Pada saat yang sama, sedimentasi dari limpasan permukaan, erosi sungai, dan suspensi endapan dasar laut juga menyebabkan tertutupnya substrat keras yang dibutuhkan oleh karang untuk hidup. Dengan demikian, studi ini penting untuk mengamati secara temporal bagaimana dinamika proses eutrofikasi dan sedimentasi berkembang dalam sistem pesisir yang memiliki nilai konservasi tinggi, serta memahami hubungan antara tekanan daratan, karakteristik geologi bawah laut, dan respon ekologis terumbu karang.

Karakteristik Geologi dan Topografi Laut

Secara geologi, Kepulauan Spermonde terletak di atas paparan Sunda bagian barat Sulawesi Selatan yang tersusun dari batuan karbonat yang dibentuk oleh aktivitas biogenik (karang dan organisme pengendap lainnya), membentuk sistem atol dan pulau-pulau kecil dengan morfologi dangkal. Wilayah ini memiliki kedalaman rendah dan dilindungi oleh struktur batimetri yang memungkinkan terperangkapnya sedimen halus yang terbawa dari arus darat atau dari dasar laut itu sendiri melalui proses resuspensi. Di sisi lain, Kepulauan Sembilan terletak lebih dekat ke daratan Sulawesi dan secara langsung menerima input dari DAS besar seperti Sungai Tangka yang bermuara di Teluk Bone. Pulau-pulau seperti Kambuno dan Burungloe yang berdekatan dengan muara sungai menunjukkan kerentanan tinggi terhadap limpasan sedimen dan nutrien, terutama pada musim hujan. Dalam perspektif geospasial, perbedaan lokasi relatif terhadap garis pantai dan morfologi dasar laut menyebabkan variasi signifikan dalam proses transportasi material, menjadikan karakteristik masing-masing gugus pulau sebagai kunci utama dalam menjelaskan disparitas tingkat eutrofikasi dan sedimentasi.

Dinamika Nutrien: Nitrat dan Fosfat

Pengukuran konsentrasi nutrien selama empat bulan (Juli–Oktober) menunjukkan pola fluktuatif yang erat kaitannya dengan musim dan posisi spasial masing-masing pulau. Konsentrasi nitrat di Kepulauan Spermonde berada pada kisaran 0,26–0,34 mg/L, sedangkan di Sembilan berkisar antara 0,25–0,33 mg/L. Nilai-nilai ini secara umum tergolong pada kategori mesotrophic hingga eutrofik (Girard et al. 2025), dan menunjukkan bahwa seluruh wilayah studi telah mengalami peningkatan nutrien melebihi ambang batas oligotrofik alami. Fosfat, sebagai indikator utama kesuburan perairan, bahkan menunjukkan status hipertrofik di sebagian besar lokasi, dengan nilai di atas 0,63 mg/L di Sembilan. Penurunan fosfat secara bertahap selama periode pengamatan kemungkinan besar disebabkan oleh pemanfaatan oleh fitoplankton dalam proses fotosintesis, serta peningkatan stratifikasi lapisan air selama musim kemarau yang menghambat pencampuran vertikal. Dari perspektif geologi laut dangkal, fenomena ini menunjukkan peran penting benthic nutrient fluxes, yaitu pelepasan kembali nutrien dari sedimen akibat pembusukan organik atau reduksi anoksik di dasar perairan yang kaya sedimen. Kondisi perairan yang relatif dangkal, hangat, dan terlindung seperti di Spermonde dan Sembilan, sangat ideal untuk memperkuat siklus internal nutrien yang dapat memperpanjang kondisi eutrofik meskipun input eksternal menurun. (Rani et al., 2018)

Laju Sedimentasi dan Implikasinya 

Laju sedimentasi diukur menggunakan sediment trap dan menunjukkan variasi spasial dan temporal yang signifikan. Di Kepulauan Sembilan, sedimentasi tinggi tercatat pada bulan Juli, saat curah hujan tinggi dan aliran sungai membawa partikel terlarut dan tersuspensi ke laut. Laju sedimentasi kemudian menurun secara bertahap saat intensitas hujan berkurang. Sebaliknya, di Spermonde, peningkatan sedimentasi terjadi pada bulan-bulan akhir, terutama di sekitar pulau-pulau seperti Samalona dan Kodingareng Keke. Fenomena ini diperkirakan terjadi karena dua mekanisme utama: pertama, transportasi lateral sedimen dari pesisir ke arah tengah laut melalui arus musiman; dan kedua, resuspensi sedimen lama dari dasar laut akibat pengaruh gelombang dan pasang-surut. Nilai sedimentasi yang mencapai 0,0038 g/cm²/hari merupakan indikator tekanan signifikan bagi komunitas bentik. Sedimen yang mengendap di atas permukaan karang mengganggu proses fotosintesis zooxanthellae (alga simbion karang), menurunkan efisiensi pertumbuhan dan regenerasi koloni karang, serta meningkatkan tingkat mortalitas pada larva karang akibat kegagalan dalam proses settlement. Dari sisi geologi sedimentasi, input partikel halus dari daratan yang bercampur dengan bahan organik cenderung membentuk lapisan anoksik di substrat, mempercepat degradasi lingkungan mikro di sekitar karang.

Eutrofikasi dan Pergeseran Ekosistem

Interaksi antara tingginya konsentrasi nutrien dan sedimentasi dalam jangka menengah menghasilkan efek sinergis yang mempercepat pergeseran struktur komunitas ekosistem terumbu (ecological phase shift). Di beberapa stasiun pengamatan, dominasi karang keras mulai tergantikan oleh alga makro, cyanobacteria, dan organisme oportunis lainnya. Eutrofikasi memicu ledakan alga yang kompetitif terhadap karang dalam hal ruang dan cahaya. Di sisi lain, sedimentasi mengubur substrat keras yang diperlukan larva karang untuk menetap, dan meningkatkan kekeruhan yang menurunkan penetrasi cahaya. Gejala ini menjadi indikator klasik kerusakan ekosistem laut dangkal yang disebut sebagai “degradasi dua sisi” (double-stressor model). Dalam jangka panjang, jika tidak ada tindakan manajemen berbasis zona dan pengendalian input nutrien dari daratan, maka proses pemulihan alami terumbu karang akan sangat terhambat atau bahkan tidak terjadi. Kajian marine geologi menempatkan kondisi ini dalam kerangka perubahan keseimbangan massa dan energi sistem pesisir, di mana sistem tidak lagi mampu mengolah beban material yang masuk, dan akibatnya bergeser ke kondisi ekosistem baru yang kurang stabil dan kurang produktif secara ekologis. (Kegler et al. 2017)

Pandangan dan Pendapat dari Biro Marine Geology and Sedimentation

setelah membaca dan memahami hasil studi ini, sangat jelas bahwa kawasan seperti Spermonde dan Sembilan benar-benar berada di posisi yang rentan, mereka menanggung dampak dari aktivitas di darat dan dinamika alami di laut. Sebagai orang yang cukup sering terlibat dalam kajian geologi kelautan, saya melihat bahwa kombinasi antara peningkatan nutrien dan sedimentasi ini seperti dua sisi mata pisau yang perlahan tapi pasti merusak fondasi ekosistem terumbu karang kita. Yang paling menarik perhatian saya adalah bagaimana pulau-pulau yang dekat ke darat selalu menjadi yang paling terdampak. Logikanya memang masuk akal, semakin dekat ke sumber limbah dan sedimen, semakin besar beban yang harus ditanggung perairannya. Tapi yang kerap terabaikan menurut saya adalah peran arus dan bentuk dasar laut. Ini bukan sekadar masalah limpasan dari sungai, tapi juga soal bagaimana sedimen dan nutrien itu bergerak dan menetap, dan ini sepenuhnya dipengaruhi oleh kontur laut dan energi ombak. Saya merasa pendekatan pengelolaan selama ini seringkali terlalu “biologis” terlalu fokus pada karangnya, pada ikannya tanpa melihat bagaimana substratnya berubah, bagaimana proses fisiknya bekerja. Padahal justru dari sudut pandang marine geology dan sedimentation-lah kita bisa lebih memahami akar tekanan yang dihadapi sistem ini. Bagi saya pribadi, studi seperti ini membuka wawasan bahwa upaya konservasi tidak cukup hanya dengan membuat zona larang tangkap atau restorasi karang. Harus ada pendekatan terpadu melibatkan pengelolaan DAS di daratan, pemetaan arus dan kontur dasar laut, dan pemantauan jangka panjang terhadap kualitas perairan. Kalau tidak, karang-karang itu, sekuat apapun kita coba selamatkan, akan terus tertekan dari bawah oleh lumpur, oleh fosfat, oleh sistem yang sudah terlalu kenyang oleh aktivitas manusia.

Writer : Marine Geology and Sedimentation Bureau

Leave a Reply