Oleh : Firzal Rihad Triandra
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.504 pulau, garis pantai sepanjang 95.181 kilometer, dan luas wilayah laut mencapai 5,8 juta kilometer persegi. Kondisi geografis ini memberikan Indonesia potensi maritim yang luar biasa dengan nilai ekonomi mencapai USD 19,5 triliun per tahun.
Wilayah perairan Indonesia dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi berkat posisinya yang dilalui oleh Arus Laut Indonesia (ARLINDO). Kekayaan laut negara ini meliputi berbagai jenis ikan dengan potensi 9,3 juta ton setiap tahun, 236 jenis ikan hias terbaik di dunia, terumbu karang seluas 85.707 km², dan hutan mangrove yang mencakup area 4,25 juta hektar. Laut Indonesia juga menyimpan kekayaan mineral seperti minyak, gas alam, emas, perak, dan berbagai sumber daya lainnya.
Posisi strategis Indonesia yang terletak di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik menjadikannya jalur penting bagi pelayaran internasional. Tiga Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) memiliki nilai ekonomi sekitar USD 1,5 juta atau Rp 23,3 miliar per hari. Indonesia juga berbatasan laut dengan sepuluh negara, yaitu Malaysia, Filipina, Vietnam, Thailand, India, Singapura, Papua Nugini, Australia, Timor Leste, dan Palau.
Meski memiliki potensi maritim yang besar, kontribusi sektor kelautan Indonesia terhadap PDB nasional hanya mencapai 7%. Angka ini sangat kontras jika dibandingkan dengan negara-negara maritim lainnya seperti Tiongkok yang mencapai 48,4%, Vietnam 57,63%, dan beberapa negara Eropa yang kontribusi sektor maritimnya mencapai 60% dari PDB. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa masih banyak potensi laut Indonesia yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Permasalahan dalam pemanfaatan efektif
Pola pembangunan yang lebih berfokus pada daratan dan Jawa Sentris selama ini menyebabkan ketidakmerataan pembangunan dan tidak maksimalnya pertumbuhan ekonomi nasional. Aksesibilitas antar pulau besar dan kecil di seluruh Indonesia, yang merupakan jantung perekonomian nasional, belum menjadi prioritas pemerintah sebagai bagian integral dari kemajuan bangsa.
Selain itu, pemanfaatan laut di Indonesia mengalami penurunan kualitas akibat eksploitasi lingkungan yang berlebihan. Berbagai dampak negatif yang muncul antara lain penangkapan ikan berlebihan, pengelolaan limbah yang buruk, penggunaan bom dan pukat harimau yang merusak ekosistem terumbu karang, aktivitas transportasi yang mengganggu biota laut, dan budidaya tambak yang mengancam keberlanjutan hutan mangrove.
Luasnya wilayah laut dan berbatasan dengan berbagai negara juga menyebabkan risiko terjadinya berbagai kejahatan. Pelanggaran hukum yang sering terjadi di laut meliputi penyelundupan sumber daya hayati, perompakan, pencurian ikan dan biota laut, perdagangan manusia, dan pembajakan. Ancaman tersebut berkaitan erat dengan kemudahan transportasi, kemajuan teknologi, liberalisasi perdagangan, dan globalisasi.
Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, pemerintah Indonesia telah mengeluarkan kebijakan Poros Maritim Dunia sebagai dasar pengembangan pengelolaan kelautan di Indonesia. Strategi pengelolaan maritim yang direkomendasikan meliputi integrasi antara lembaga keamanan, memperkuat diplomasi maritim, pengelolaan sumber daya perikanan secara berkelanjutan, dan peningkatan sumber daya manusia.
Solusi
Integrasi antar penegak hukum dapat mencegah berbagai kejahatan, pelanggaran hukum, dan konflik perbatasan, yang menunjukkan kekuatan maritim Indonesia yang solid. Diplomasi maritim dapat diimplementasikan melalui kerja sama antara lembaga keamanan maritim dan mitra dari negara lain. Pengelolaan sumber daya perikanan secara berkelanjutan dilakukan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan dan tidak merusak habitat. Sementara peningkatan sumber daya manusia fokus pada penguatan identitas sebagai bangsa maritim dan pengembangan upaya ekonomi bagi masyarakat pesisir.
Dengan menerapkan strategi tersebut, Indonesia dapat menjadi negara maritim yang maju dan sejahtera karena berhasil menjaga keamanan maritim dengan baik. Namun, realitas saat ini masih menunjukkan bahwa berbagai ancaman keamanan maritim harus direspons dengan tegas dan berkelanjutan untuk mewujudkan potensi maritim Indonesia yang sesungguhnya.
#MCPRDailyNews










