Oleh: Raihan Wisnu Ramadhan
Di Desa Laea Boasing, Sulawesi Tenggara, para petani rumput laut menghadapi tantangan terkait iklim yang mempengaruhi budidaya mereka. Para petani ini mengandalkan pengetahuan tradisional dan pengamatan alam untuk mengatasi tantangan ini. Mereka telah mengembangkan pengetahuan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun, seperti memindahkan tanaman mereka ke daerah yang berbeda tergantung pada musim hujan dan kemarau, yang membantu mereka menghindari kegagalan panen.
Meskipun upaya petani sangat dihargai, pemerintah diharapkan memberikan dukungan yang lebih besar. Ini termasuk pemilihan bibit yang tepat, pencegahan penyakit, pemantauan panen, pengelolaan pasca-panen, dan pemasaran produk hasil panen. Kolaborasi antara pemerintah, ahli, dan petani sangat penting untuk meningkatkan manajemen risiko iklim dan ketahanan masyarakat petani.
Sayangnya, ada bukti bahwa pemerintah belum sepenuhnya memanfaatkan produk ilmiah dalam upayanya. Salah satu masalah utama yang dihadapi petani rumput laut adalah kurangnya fasilitas penjemuran yang memadai. Akibatnya, petani lebih cenderung menjual hasil panen mereka secara kontan daripada ke gudang pemerintah.
Selain itu, petani rumput laut juga memiliki kepercayaan yang kurang terhadap pemerintah dalam hal penyuluhan dan bantuan yang diberikan. Mereka lebih mempercayai pengetahuan dari sesama petani dibandingkan penyuluh perikanan pemerintah. Pemerintah perlu memberikan dukungan dalam memilih bibit, mencegah penyakit, memantau panen, mengelola kegiatan pasca panen, dan memasarkan hasil panen.
Untuk mengatasi masalah ini, kolaborasi yang erat antara ilmuwan, penyuluh perikanan, dan petani diperlukan. Dengan dukungan penuh dari pemerintah dan pemahaman mendalam tentang pengetahuan lokal petani, diharapkan bahwa petani rumput laut di Desa Laea Boasing akan dapat mengatasi tantangan iklim yang dihadapi dan meningkatkan kesejahteraan mereka.










