Oleh; Rizal Fadhilah
Pendahuluan
Lagi-lagi perubahan iklim menjadi topik yang hangat untuk diperbincangkan.Bagaimana tidak, perubahan iklim banyak memberikan dampak terhadap manusia dan khususnya terhadap lingkungan. Dari mulai meningkatnya suhu permukaan, kekeringan, perubahan sistem iklim, dan berubahnya struktur lautan. Berubahnya struktur lautan disini dalam artian meningkatkan suhu dan volume lautan. Kondisi yang cukup miris akibat adanya perubahan iklim dan pemanasan global ini terjadi di wilayah kutub yang membuat banyak es yang mencair. Perlu diketahui bahwa dengan mencairnya es di kutub akan membuat beberapa sektor terdampak.
Mencairnya Es di Kutub Akibat Perubahan Iklim dan Pemanasan Global
Sejak awal tahun 1900-an, banyak gletser di seluruh dunia telah mencair dengan cepat. Aktivitas manusia adalah akar dari fenomena ini. Secara khusus, sejak revolusi industri, karbon dioksida dan emisi gas rumah kaca lainnya telah meningkatkan suhu, bahkan lebih tinggi di kutub, dan akibatnya, gletser mencair dengan cepat, mencair ke laut dan mundur ke daratan. Bahkan pada pertengahan tahun 2023 menunjukkan bahwa lapisan es Eurasia mengalami kemunduran sampai 610 meter per harinya dengan kecepatan 49 meter per hari. Hal tersebut merupakan pergerakan gletser paling cepat daripada sebelumnya atau 20 kali lebih cepat dari pengukuran sebelumnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin tahun pemanasan global dan perubahan iklim semakin dapat terasa dampaknya dan menunjukkan bahwa bumi semakin memanas.
Beberapa peneliti melakukan penelitian untuk meneliti es di wilayah Antartika dengan menggunakan laser yang dipantulkan dari es dari satelit ICESat-2. Dan dari hasil tersebut diketahui bahwa telah terjadi pergeseran sejauh 15 km pada posisi garis landasan antara air pasang dan surut. Hal ini menunjukkan bahwa garis landasan dapat bergerak dengan kecepatan lebih dari 30 km per jam akibat adanya pemanasan global dan perubahan iklim yang terjadi.
Dampak yang Ditimbulkan Oleh Mencairnya Gletser
Mencairnya gletser di wilayah kutub akan memberikan beberapa dampak, diantaranya adalah naiknya tinggi permukaan laut yang bisa membuat daratan yang rendah tenggelam. Bahkan sejak 30 tahun terakhir dari tahun 1993 sampai 2023 tinggi muka air laut global telah mengalami kenaikan setinggi 9 cm. Hal tersebut dipicu oleh mencairnya es akibat adanya pemanasan global. Tercatat bahwa selama tiga dekade terakhir lapisan es di dunia telah hilang sebanyak lebih dari 6.4 triliun ton yang memiliki peran dalam kenaikan permukaan laut global. Dan bahkan lapisan es Greenland menghilang empat kali lebih cepat dibandingkan tahun 2003 dan telah menyumbang 20% dari kenaikan permukaan air laut saat ini.
Selain naiknya tinggi muka air laut global, pencairan glasial yang cepat di Antartika dan Greenland akan mempengaruhi arus laut, karena sejumlah besar air lelehan glasial yang sangat dingin memasuki perairan laut yang lebih hangat sehingga memperlambat arus laut. Dan ketika es di daratan mencair, permukaan air laut akan terus meningkat.
Hal ini harus segera diatasi karena jika terjadi berkelanjutan akan memberikan dampak yang buruk bagi bumi. Bahkan jika kita berhasil mengurangi emisi secara signifikan dalam beberapa dekade mendatang, lebih dari sepertiga gletser yang tersisa di dunia akan mencair sebelum tahun 2100. Dalam hal es laut, 95% es tertua dan paling tebal di Kutub Utara sudah hilang. Para ilmuwan memproyeksikan bahwa jika emisi terus meningkat tanpa terkendali, Kutub Utara bisa bebas dari es di musim panas paling cepat pada tahun 2040 karena suhu laut dan udara terus meningkat dengan cepat.









