Oleh: Fadilla Nur Azizah
Perubahan iklim adalah fenomena global yang ditandai oleh variasi suhu udara, pola curah hujan, aliran permukaan, penguapan air, cadangan air tanah, dan faktor lainnya. Menghadapi perubahan iklim adalah tantangan yang harus dihadapi oleh berbagai elemen dalam masyarakat. Pada tahun 2013, Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) menyajikan Laporan Penilaian lima tahun yang komprehensif mengenai berbagai aspek ilmiah, teknis, dan sosial-ekonomi terkait penyebab, dampak potensial, dan strategi untuk menghadapi perubahan iklim. Laporan dari IPCC ini mengungkapkan bukti bahwa perubahan iklim memang telah terjadi. Terutama, proses pemanasan global dipicu oleh akumulasi energi panas di dalam lautan, dan terdapat bukti yang menunjukkan peningkatan suhu laut selama periode tersebut. Dampak dari perubahan iklim sangat signifikan bagi penduduk di wilayah pesisir yang bergantung pada sumber daya alam sebagai mata pencahariannya, seperti petambak ikan bandeng, petambak udang, dan petani di lahan sawah pasang-surut. Dalam usaha budidaya tambak, dampak negatif dari perubahan iklim yang mencakup perubahan musim dan peningkatan intensitas curah hujan memiliki pengaruh yang merugikan masyarakat di wilayah pesisir terutama pada produksi petambak garam.
Produksi garam yang terhambat perubahan iklim
Umumnya, produksi garam yang dijalankan oleh masyarakat masih mengikuti metode tradisional, sehingga sangat tergantung pada kondisi iklim dan cuaca. Metode tradisional yang dilakukan oleh masyarakat yaitu melalui proses evaporasi atau pengeringan air laut dengan bantuan panas alami, di mana semakin besar laju penguapan maka semakin cepat berlangsungnya pembuatan garam. Peran garam dalam kehidupan manusia senantiasa hadir, menjadikannya sebuah faktor yang disebut sebagai salah satu komoditas strategis di tingkat nasional. Di samping menjadi kebutuhan esensial manusia, garam juga berfungsi sebagai materi dasar dalam industri. Keberhasilan pencapaian target produksi garam sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Produksi garam yang bergantung pada situasi cuaca dan iklim mengakibatkan terjadinya fluktuasi dalam jumlah produksi. Ketidakpastian dalam variasi musim ini membuat petani tambak garam menghadapi kesulitan dalam memprediksi waktu yang tepat untuk melaksanakan proses penggaraman. Diperlukan langkah-langkah pengembangan dan pengelolaan bisnis (produksi) sebagai respons terhadap perubahan iklim yang akan datang. Pemanfaatan tunnel dapat memperkuat intensitas radiasi matahari dan efektivitas kolektor surya, sambil juga melindungi area kristalisasi dari dampak air hujan untuk mengatasi lonjakan curah hujan saat musim budidaya garam.
Kondisi dan pandangan masyarakat
Seperti yang terjadi pada produksi garam di Bangkalan, Madura yang belum mengalami perkembangan atau peningkatan produksi yang disebabkan oleh faktor cuaca. Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bangkalan memiliki sasaran untuk mencapai produksi garam sebanyak 3.000 ton pada tahun 2023. Namun, target ini tetap sama seperti tahun sebelumnya, tanpa adanya perubahan. Mohammad Zaini sebagai Kepala DKP Bangkalan menyampaikan, bahwa salah satu aspek yang mendukung upaya peningkatan produksi dan kualitas garam adalah alokasi anggaran. Fadhur Rosi, seorang anggota dari Komisi B DPRD Bangkalan, juga merasa penting untuk mengajukan pertanyaan kepada Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) mengenai pendekatan mereka terhadap para petani garam.
Menanggapi permasalah tersebut dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga pelayanan, organisasi non-pemerintah untuk pengembangan dan manajemen bisnis (produksi), serta para petani garam yang aktif berpartisipasi dalam program yang telah diinisiasi. Langkah-langkah ini mencakup penerapan teknologi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) petani tambak melalui program edukasi. Selain iitu, melakukan perbandingan parameter oseanografi untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi yang akan terjadi di masa mendatang serta dampak terhadap kelangsungan usaha produksi garam.









