Perubahan Iklim Ekstrim di Arktik: Kehidupan Mamalia Laut Terganggu bahkan Terancam Punah

Oleh : Yesi Deskayanti

Pemanasan global atau global warming merupakan kondisi ]meningkatnya suhu rata-rata yang ada di bumi sebagai akibat dari adanya akumulasi panas yang terjadi di atmosfer dari penyebab utama, yaitu efek rumah kaca. Pemanasan global ini masih menjadi isu global dan tentunya berpengaruh besar terhadap perubahan iklim yang ada di seluruh dunia. 

Salah satu wilayah yang terkena dampak pemanasan global ialah Arktik. Arktik merupakan salah satu samudera dengan luas wilayah lebih dari 14 juta kilometer. Samudera ini dikenal dengan samudera yang dangkal dan juga dingin. Lapisan-lapisan es di laut mengapung dan melebar saat musim dinging dan akan menyusut saat musim panas.

Namun, Arktik menjadi wilayah yang terkena dampak pemanasan global paling menyedihkan. Pasalnya, sejak beberapa tahun terakhir Arktik menghangat 2-3 kali lebih cepat dari belahan bumi lain. Hal ini amat membawa perubahan yang drastis bagi Samudera Arktik, ekosistem yang ada serta 4 juta manusia yang tinggal di wilayah tersebut.

Keterkaitan Pemanasan Global dan Ekosistem di Arktik

Pemanasan global menyebabkan Arktik saat ini mengalami pemanasan jauh di atas rata-rata global. Diperkirakan bahwa hal ini pada akhirnya akan menyebabkan perubahan komposisi ekosistem laut Arktik dan rantai makanan yang tersusun, termasuk perpindahan spesies laut ke utara, perubahan perilaku makan dan transportasi, pengenalan patogen baru dan hibridisasi spesies. 

Di sisi lain perubahan iklim yang menjadikan es mencair secara cepat menyebabkan masyarakat Arktik sulit untuk bepergian. Hal ini dibuktikan dengan adanya masyarakat yang gagal melakukan migrasi ke daerah Yamal yang merupakan salah satu daerah di Siberia Barat, Samudera Arktik. 

Kehidupan hewan di Arktik ikut terganggu. Rusa banyak terjebak di semenanjung. Beruang kutub sebagai salah satu hewan dengan habitat asli di daerah es dapat terancam punah akibat pecah dan mencairnya es sehingga mereka terpaksa terus berkelana jauh yang membuat mereka kesulitan mencari makan dan juga makan untuk anak-anaknya. Dalam prediksi emisi gas rumah kaca yang tinggi, sangat memungkinkan hampir semua populasi beruang kutub akan punah pada 2100 mendatang.

Namun, secara umum masih belum jelas sejauh mana dan seberapa cepat pemanasan dapat berdampak pada organisme laut Arktik, khususnya konektivitas populasi, keanekaragaman, dan risiko kepunahan. Dalam upaya untuk memprediksi dampak masa depan dari perubahan iklim yang sedang berlangsung, para peneliti berupaya untuk lebih memahami dampak perubahan lingkungan yang terjadi di masa lalu.

Mamalia Laut Arktik Terganggu

Perubahan ekosistem dapat dijadikan indikator untuk menilai adanya perubahan lingkungan yang terjadi disekitar. Begitu pula dengan mamalia laut. Mamalia laut termasuk ke dalam ekosistem yang terdapat di perairan. Arktik yang juga berkaitan dengan laut menyebabkan adanya gangguan terhadap mamalia laut disana. Sebagai contoh yang sudah dijabarkan sebelumnya, kehidupan beruang kutub terganggu akibat mencairnya es. Beruang kutub termasuk mamalia laut karismatik dan spesies beruang terbesar di dunia.

Mamalia laut lain adalah anjing laut, walrus dan analisis genetik mamalia laut Arktik yang menjelaskan bahwa adanya paus kepala busur (Balaena mysticetus), narwhal (Monodon monoceros), dan beluga (Delphinapterus leucas). Spesies tersebut terancam kehidupannya di kawasan Arktik. 

Populasi mamalia laut dapat dikatakan rentan apabila dikaitkan dengan perubahan iklim dibandingkan populasi lainnya. Hal ini berkaitan dengan tingkat paparan hewan terhadap perubahan iklim, serta sensitivitas dan kemampuan mereka dalam melakukan adaptasi. Pemanasan lautan merugikan mamalia laut karena mengubah kemampuan mereka dalam mencari dan menemukan makanan serta dapat mengurangi jumlah habitat yang sesuai.

Adanya perubahan kondisi ekstrim terkait dengan pemanasan global yang terjadi di wilayah Arktik amat memprihatinkan. Perubahan iklim banyak mengubah aspek kehidupan terutama sistem adaptasi, sosial dan budaya, serta ekonomi namun perubahan iklim dapat diminimalisir dengan adanya penyerap karbon yang mampu mengurangi gas rumah kaca.

Leave a Reply