Keterkaitan Isu Sosial, Ekonomi, dan Ekologi dalam Perubahan Iklim dan Peningkatan Kesejahteraan Nelayan menuju Kehidupan Berkelanjutan

Oleh : Fadilla Nur Azizah

Isu-Isu sosial, ekonomi, dan ekologi di wilayah pantai adalah masalah yang saling terkait secara signifikan. Faktor-faktor ini saling mempengaruhi dalam konteks permasalahan tersebut. Seperti yang terjadi antara faktor-faktor kemiskinan yang disebabkan oleh perubahan iklim dan upayanya yang dapat dilakukan dalam pengelolaan lingkungan. Perubahan iklim global menjadi salah satu faktor yang turut mempengaruhi situasi kawasan pesisir. Fenomena pemanasan global memicu terjadinya peristiwa anomali iklim seperti El Nino dan La Nina dengan frekuensi yang semakin meningkat. El Nino dapat mengakibatkan musim kemarau yang panjang dan akan memberi dampak kekeringan pada kawasan tersebut. Sebaliknya, ketika La Nina terjadi, musim hujan yang lebih lama dapat memicu resiko banjir yang lebih sering terjadi. Perubahan iklim memiliki dampak yang meluas di berbagai sektor, tidak hanya terbatas pada pertanian melainkan juga dapat mempengaruhi domain lainnya. Dampak dari perubahan iklim ini dapat membawa konsekuensi seperti penurunan ketersediaan air, kegagalan hasil panen, dan peningkatan harga pangan. 

Dampak pada masyarakat nelayan pesisir

Kesejahteraan yang rendah dan keterbatasan sumber daya manusia dalam sektor pertanian dan perikanan, juga dengan ancaman perubahan iklim, secara langsung berkontribusi pada penurunan produksi. Hal tersebut memiliki konsekuensi pada turunnya taraf hidup masyarakat secara lebih mendalam. Dampak tersebut dapat terlihat secara konkret dalam kasus nelayan yang berada di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Pada wilayah tersebut, musim kemarau yang berkepanjangan menyebabkan nelayan menghadapi kesulitan. Baik nelayan yang menangkap ikan maupun yang membudidayakan ikan mengalami penurunan harga ikan.Tantangan yang dihadapi oleh nelayan sangat beragam, mencakup kendala-kendala seperti perubahan pasang surut air laut yang ekstrem dan kesulitan menggunakan keramba sebagai sarana budidaya ikan. Dalam situasi ini menunjukkan bahwa warga pesisir, baik nelayan yang menangkap ikan maupun individu yang berkecimpung dalam budidaya perairan di negara ini, telah merasakan akibat dari perubahan iklim di dalam sektor perikanan. Salah satu dampak yang signifikan adalah penurunan produktivitas perikanan, yang terjadi akibat peningkatan suhu permukaan air laut dan perubahan pola air tanah. Muslik sebagai Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kutai kartanegara (Kukar) mengungkapkan bahwa kurangnya aliran air dipastikan akan mempengaruhi cara nelayan beroperasi dalam menangkap ikan, terutama di perairan tawar. Dalam musim kemarau ini para nelayan mengarahkan perahunya ke daerah dengan aliran air yang lebih tinggi, dan hal tersebutlah yang akan mempengaruhi pendapatan para masyarakat pesisir khususnya para nelayan. 

Peran pemerintah dalam penghidupan berkelanjutan

Menurut Badan Pusat Statistik (2020), sekitar 1,6 juta penduduk Indonesia dinyatakan mengalami kemiskinan dalam jangka waktu antara September 2019 dan Maret 2020, akibat dari penyusutan ekonomi sebesar 2,4% (dibandingkan dengan kuartal sebelumnya). Sebagai upaya peningkatan, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) telah mendorong para nelayan untuk mengolah hasil tangkapan menjadi produk olahan. Di samping itu, Pemkab Kukar juga telah mengambil tindakan nyata untuk mendukung pertumbuhan sektor perikanan melalui pengadaan peralatan kapal, perahu, dan alat tangkap ikan. Langkah ini selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kukar untuk periode 2022-2026. Melihat hal ini, selain pemerintah yang menjalankan peran, masyarakat pun penting untuk mengembangkan gagasan yang sesuai untuk mengatasi tantangan di wilayah pesisir. Pendekatan konseptual yang terkait dengan penghidupan berkelanjutan (sustainable livelihood/SLA) menjadi salah satu cara untuk meningkatkan pemahaman mengenai kehidupan rumah tangga yang kurang mampu. Dengan pendekatan tersebut, dapat memastikan kebutuhan sosial, ekonomi, dan ekologi dipenuhi dengan adil dan seimbang melalui penggabungan aktivitas dan pemanfaatan sumber daya yang ada dalam sistem kehidupan yang telah diatur. Pengembangan keberdayaan nelayan pesisir melalui pendekatan penghidupan berkelanjutan sebagai strategi adaptasi terhadap perubahan iklim dapat diwujudkan melalui penguatan aspek sumber daya manusia, sosial, alam, finansial, dan fisik.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, langkah-langkah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan komunitas nelayan di wilayah pesisir perlu diperluas dengan mempertimbangkan pengaruh kebijakan yang diterapkan pemerintah daerah dan berbagai pihak. Dengan pendekatan tersebut akan memberikan kesempatan untuk menghasilkan langkah-langkah yang lebih akurat dalam memajukan pemberdayaan masyarakat nelayan pesisir

Leave a Reply