Bagaimana Perilaku Pemerintah dalam Deforestasi Memperburuk Krisis Ekosistem Laut di Tengah El Niño Godzilla

Oleh: Qori Aghniya Fauzi

Melalui pengumuman publik dan peringatan cuaca di media sosialnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan potensi fenomena variasi kuat El Niño “Godzilla” yang akan melanda Indonesia pada April-Oktober 2026. El Niño adalah fenomena yang mengubah suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian ekuator.El Niño “Godzilla” merupakan anomali pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian ekuator yang sangat signifikan. Sejumlah potensi dampak yang akan terjadi dan perlu dimitigasi akibat kekeringan di selatan Indonesia yang dapat mengancam lumbung padi nasional. 

Bagaimana Deforestasi Berhubungan Dengan Kelautan?

Satu tahun pemerintahan Prabowo Subianto ditandai dengan meningkatnya jumlah deforestasi di Indonesia. Riset lembaga Auriga Nusantara mencatat 433.751 hektare hutan gundul sepanjang 2025. Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dampaknya tidak berhenti di darat. Pepohonan yang hilang tidak lagi dapat menahan erosi, sehingga sedimen dan aliran limbah terbawa ke sungai. Sungai menjadi lebih keruh dan membawa lumpur, nutrien berlebih, serta sisa pupuk dan bahan kimia menuju muara. Pada tahun normal, ekosistem pesisir masih mampu menahan sebagian beban tersebut. Namun pada tahun El Niño ekstrem, daya tahan ini menurun drastis.

Mengapa Tahun El Niño Ekstrem Justru Memerlukan Perlindungan Hutan yang Lebih Ketat

El Niño kuat di tahun ini tidak bisa dianggap sebagai anomali biasa. Pada kondisi normal, tutupan hutan sudah berperan menahan erosi, menyaring limpasan, serta menjaga stabilitas aliran sungai menuju pesisir. Namun ketika curah hujan anjlok dan tanah mengering lebih cepat, seluruh fungsi tersebut menjadi jauh lebih penting.

El Niño ekstrem membuat risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat tajam, terutama di wilayah gambut yang kehilangan kelembapannya. Sementara itu, lereng tanpa vegetasi menjadi rentan longsor saat hujan turun sesekali dalam intensitas tinggi. Kombinasi kekeringan dan hilangnya tutupan hutan ini mempercepat aliran sedimen, nutrien, dan polutan menuju muara dan laut.

Dalam situasi seperti ini, setiap kehilangan hutan memiliki dampak berlipat. Tanpa akar pohon yang mengikat tanah, sedimen mengalir lebih bebas; tanpa tutupan vegetasi, kualitas air sungai memburuk lebih cepat; dan tanpa penyangga ekologis yang kuat, beban yang diterima ekosistem pesisir meningkat tajam.

Karena itu, tahun El Niño ekstrem seharusnya menjadi periode pengetatan pembukaan lahan, bukan perluasan. Melindungi hutan bukan hanya soal menjaga daratan, tetapi langkah krusial untuk mencegah kerusakan pesisir dan laut di masa ketika seluruh sistem ekologis berada dalam kondisi paling rentan.

Di Tengah Masa Genting, Pemerintah Justru Abai

Alih-alih memperketat perlindungan hutan saat El Niño Godzilla terjadi, berbagai tindakan pemerintah justru memperbesar deforestasi pada periode paling rawan. Pada akhir Desember 2024, dua bulan setelah Prabowo-Gibran dilantik, Pemerintah Indonesia mencanangkan program ketahanan pangan melalui pengalokasian 20,6 juta hektare kawasan hutan untuk cadangan pangan, energi, dan air. Sebesar 78.123 hektare deforestasi terjadi di area pencadangan ini, atau 18% deforestasi nasional. Program populis seperti ini, termasuk berbagai proyek bernama Program Strategis Nasional, turut menjadi pemicu pelonjakan deforestasi di Indonesia. Pada 2025, semua pulau besar Indonesia mengalami perluasan deforestasi, dengan Tanah Papua mengalami lonjakan deforestasi terluas, yakni bertambah 60.337 hektare dari luas deforestasi 2024. Dari sisi persentase, kenaikan terbesar terjadi di Pulau Jawa, yang meningkat 440% dari deforestasi 2024. 

Tak hanya itu, sejumlah izin baru untuk perkebunan, food estate, maupun tambang tetap diterbitkan. Pembukaan lahan skala besar semacam ini biasanya diikuti pengeringan gambut, pembuatan kanal, serta penebangan massif—semuanya mempercepat aliran sedimen ke laut dan memperburuk risiko kebakaran.

Di lain sisi, anggaran rehabilitasi DAS dan perlindungan mangrove juga tidak mengalami peningkatan signifikan, padahal kedua sistem tersebut adalah benteng utama antara darat dan laut. Ketika DAS rusak, muara menghadapi beban sedimen berlipat. Ketika mangrove hilang, pesisir kehilangan penyangga gelombang dan filter alami polutan.

Efek Domino Kerusakan Ekosistem dari Hulu ke Pesisir dan Laut

Dalam ilmu oseanografi pesisir, kerusakan di hulu hampir selalu memiliki dampak hilir (downstream effects), sebuah fenomena yang dikenal sebagai telecoupling ekologis. Kombinasi deforestasi dan fenomena El Niño ekstrem “Godzilla” memicu efek domino yang memperburuk kondisi perairan Indonesia dari hulu hingga pesisir. Kombinasi deforestasi dan fenomena El Niño ekstrem “Godzilla” memicu efek domino yang memperburuk kondisi perairan Indonesia dari hulu hingga pesisir. Tekanan paling nyata terjadi pada ekosistem terumbu karang. Pemanasan suhu laut yang ekstrem memicu pemutihan (bleaching), sementara sedimentasi dari wilayah daratan yang rusak menutup permukaan karang. Dalam kondisi ganda ini, banyak terumbu tidak hanya mengalami pemutihan, tetapi juga berujung pada kematian permanen.

Penurunan kualitas lingkungan juga terjadi pada padang lamun dan hutan mangrove. Lapisan sedimen yang menutupi daun lamun menghambat proses pertumbuhan, sementara berkurangnya tutupan mangrove akibat penebangan melemahkan fungsi alami pesisir dalam menahan intrusi air laut dan abrasi, terutama saat kemarau panjang.

Dampak lanjutan dirasakan pada sektor perikanan. Kekeruhan air menghambat fotosintesis fitoplankton sebagai dasar rantai makanan laut. Kondisi ini diperparah oleh suhu laut yang tinggi, yang menyebabkan sejumlah spesies ikan mengalami stres, bermigrasi, atau mengalami penurunan populasi. Nelayan skala kecil menjadi kelompok yang paling rentan terhadap perubahan ini.

Pada saat yang sama, kawasan pesisir menjadi semakin rapuh. Hilangnya perlindungan alami dari hutan dan mangrove membuat intrusi air laut menjangkau wilayah yang lebih luas. Gelombang tinggi yang diperkuat oleh fenomena El Niño turut mempercepat abrasi, sehingga meningkatkan risiko kerusakan pada permukiman di wilayah pesisir.

Deforestasi dan El Niño Menekan Laut Indonesia

Krisis kelautan yang melanda Indonesia selama periode El Niño ekstrem tidak semata-mata dipicu oleh pemanasan suhu laut global, tetapi juga mencerminkan dampak kebijakan yang selama ini mengabaikan keterkaitan erat antara ekosistem hutan dan laut.

Fenomena cuaca ekstrem ini sekaligus menjadi peringatan bahwa setiap kehilangan tutupan hutan memiliki konsekuensi langsung hingga ke ekosistem laut, mempertegas urgensi kebijakan lingkungan yang lebih terintegrasi.

#MCPRDailyNews

Leave a Reply