Oleh : Berry Dzaikra Suherman Hibatullah
Risiko yang Terus Mengintai di Laut
Sejumlah insiden kecelakaan kapal yang terjadi di perairan Indonesia menjadi pengingat akan tingginya risiko dalam aktivitas pelayaran dan perikanan. Berbagai faktor turut berkontribusi terhadap terjadinya kecelakaan tersebut, mulai dari kondisi cuaca buruk, gangguan teknis, hingga faktor manusia. Sepanjang periode 2020–2024, tercatat sebanyak 57 insiden kecelakaan pelayaran di Indonesia, dengan benturan sebagai salah satu jenis kejadian yang dominan. Korban jiwa serta kasus hilangnya awak kapal menjadi tragedi kemanusiaan yang patut mendapat perhatian serius. Kemudian, Kejadian kehilangan kontak kapal dan keterlambatan penanganan darurat menunjukkan bahwa keselamatan di laut sangat bergantung pada ketersediaan dan keandalan data posisi kapal.
Ketika VMS Tak Lagi Sekadar Kewajiban
Insiden-insiden tersebut memunculkan kesadaran baru di kalangan pelaku usaha bahwa keterbatasan informasi posisi kapal dapat berdampak fatal. Kondisi faktual di lapangan mendorong perubahan cara pandang terhadap penggunaan Vessel Monitoring System (VMS), dari yang sebelumnya dipahami sebagai kewajiban administratif semata menjadi kebutuhan mendasar dalam aspek keselamatan operasional. Kesadaran pelaku usaha perikanan tangkap di PPN Muara Angke terhadap pentingnya penggunaan VMS pun mulai meningkat. VMS merupakan perangkat sistem pemantauan kapal berbasis sinyal satelit yang beroperasi melalui jaringan Inmarsat, sehingga memungkinkan pemantauan posisi kapal secara real time.
Dari Penolakan ke Kesadaran
Dalam konteks ini, VMS semakin dipahami bukan sekadar instrumen kepatuhan terhadap regulasi, melainkan sebagai sistem pendukung keselamatan di laut. Perubahan cara pandang itu juga dirasakan Nasirin, salah satu pelaku usaha di Muara Angke. Ia mengakui, pada awalnya VMS dipersepsikan sebagai beban tambahan, baik dari sisi biaya maupun administrasi. Namun, serangkaian kecelakaan kapal yang terjadi di laut menjadi titik balik. Risiko kehilangan kapal dan awak tidak lagi bisa dihadapi hanya dengan pengalaman dan intuisi semata.
“Saya dulu termasuk yang menentang VMS. Tapi setelah melihat banyak kecelakaan, sekarang justru saya mendorong agar kapal-kapal memasang VMS,” ujarnya dalam audiensi bersama Menteri Kelautan dan Perikanan di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kamis (5/2/2026).
Lingkungan laut yang kini kian tidak mudah diprediksi, langkah kecil ini menjadi harapan bahwa lebih banyak kapal akan pulang dengan selamat dan lebih sedikit keluarga yang harus menunggu kabar tanpa kejelasan. Kesadaran tersebut menandai pergeseran pendekatan, dari reaktif setelah kejadian menuju upaya pencegahan. Peningkatan kesadaran terhadap pentingnya VMS mencerminkan transformasi awal dalam tata kelola keselamatan pelayaran dan perikanan di Indonesia. Integrasi teknologi pemantauan ke dalam praktik operasional tidak hanya berpotensi menekan risiko kecelakaan dan korban jiwa, tetapi juga memperkuat efisiensi, akuntabilitas, serta ketahanan sektor perikanan tangkap.
#MCPRDailyNews



