
Gambar 1. Lokasi penangkapan ikan dengan pukat dasar (merah) di lereng benua Laut Mediterania dan tepian sekitarnya (a). Peta batimetri Ngarai Palamós dan upaya penangkapan ikan dengan pukat dasar kumulatif yang dihitung dari Februari 2017 hingga Maret 2018 (b). Lingkaran menunjukkan lokasi pengambilan sampel inti sedimen dari lokasi yang dipukat (merah) dan yang tidak dipukat (hijau). Lokasi pelampung Cap de Begur ditunjukkan oleh bintang kuning.
Sumber : https://doi.org/10.1029/2020GL091279
Laut dalam merupakan salah satu ekosistem terbesar di bumi yang berperan penting dalam mengatur siklus karbon global hingga mendukung keanekaragaman hayati bentik. Di dalam lingkungan tersebut terdapat komponen sedimen yang memiliki peran untuk bertindak sebagai penyimpan karbon jangka panjang (long-term carbon sink), dimana partikel organik yang tenggelam dari permukaan akan terdeposisi dan terakumulasi dalam skala waktu ribuan tahun. Fungsi ini membuat laut dalam menjadi poin vital dalam mitigasi perubahan iklim global.
Batas benua merupakan zona transisi penting antara daratan dan lautan yang berfungsi sebagai lokasi utama penguburan dan remineralisasi karbon organik di lautan (Dunne et al., 2007). Proses ini menjadikan batas benua sebagai salah satu pengatur utama siklus biogeokimia global, khususnya dalam penyimpanan karbon jangka panjang. Namun, aktivitas antropogenik telah mengubah dinamika siklus ini. Di antara berbagai aktivitas manusia di laut, penangkapan ikan dengan pukat dasar atau bottom trawling dianggap paling berbahaya karena frekuensi penggunaannya cukup tinggi, cakupannya pun luas, serta dampak langsungnya terhadap dasar laut (Eigaard et al., 2017; Ferguson et al., 2020; Hayes et al., 2018; Keil, 2017). Kontak terus-menerus antara alat tangkap dan sedimen menyebabkan gangguan fisik yang serius, seperti terbentuknya jejak trawl, pembalikan lapisan sedimen, hingga resuspensi material (Martin et al., 2014; Oberle et al., 2018; O’Neill & Ivanovic, 2016; Palanques et al., 2014). Sedimen yang tersuspensi kemudian dapat terbawa arus, memicu erosi signifikan di wilayah penangkapan (Oberle et al., 2016). Gangguan ini mengubah biogeokimia sedimen, namun dampaknya terhadap stok karbon organik laut dalam masih menjadi perdebatan karena dipengaruhi variabilitas kandungan organik serta proses remineralisasi (Legge et al., 2020; Ferguson et al., 2020; Hale et al., 2017; van de Valde et al., 2018).
Sebagian besar penelitian terdahulu berfokus pada paparan benua berlumpur, yang kondisinya kaya akan akumulasi sedimen dan bahan organik baik dari daratan maupun laut (Hedges et al., 1995; Gordon & Goni, 2004). Pada wilayah ini, gangguan akibat trawl kerap sulit dibedakan dari proses alami seperti badai yang juga mampu meresuspensi sedimen dalam jumlah besar (Ferre et al., 2008; Pusceddu et al., 2005). Tetapi, sejak 1950-an, menurunnya stok ikan di perairan dangkal telah mendorong perluasan perikanan trawl ke laut dalam, difasilitasi oleh kemajuan teknologi dan subsidi (Watson & Morato, 2013). Kini, trawling umum dilakukan di kedalaman >500 m bahkan sampai >1.500 m. Perluasan ini meningkatkan urgensi pemahaman mengenai dampak bottom trawling terhadap lingkungan laut dalam, terutama mengingat rendahnya produktivitas biologis, lambatnya pertumbuhan organisme, serta tipisnya laju sedimentasi yang membuat ekosistem ini menjadi sangat rentan (Norse et al., 2012; Martin et al., 2014).
Konteks khusus di landas kontinen yakni di Laut Mediterania menyoroti urgensi penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Perairan ini mendukung bottom trawling yang intensif, terutama di cekungan barat di mana hampir seluruh lereng benua telah menjadi area operasi (Clark et al., 2007; Fernandez-Arcaya et al., 2017). Salah satu lokasi pentingnya ialah Palamós Canyon, yang menjadi pusat penangkapan udang laut dalam (Aristeus antennatus) (Bjørkan et al., 2020; Gorelli et al., 2016). Menurut Amoroso et al. (2018), hampir 20% landas kontinen dunia telah terpapar trawling sehingga menjadikannya praktik ini sebagai ancaman global yang nyata. Terdapat studi sebelumnya di wilayah ini yang telah mengidentifikasi erosi dan penurunan kandungan organik sedimen akibat trawl (Martin et al., 2014; Pusceddu et al., 2014; Sañé et al., 2013), namun umumnya terbatas pada variabilitas spasial serta belum banyak menelaah dinamika temporal. Sejak tahun 2013, pernah diberlakukan penutupan musiman trawl selama 2 bulan selama Januari-Maret untuk mencegah eksploitasi berlebih (Bjørkan et al., 2020). Kebijakan itu menyediakan latar yang bersifat ideal untuk menguji sejauh mana penutupan musiman akan efektif dalam memulihkan kondisi biogeokimia sedimen laut dalam.
Dampak Bottom Trawling terhadap Sedimen Laut Dalam
Hasil penelitian Paradis et al. (2021) memperlihatkan bahwa bottom trawling secara signifikan mengurangi kandungan karbon organik hingga angka 52% pada lokasi yang terganggu dibandingkan dengan area referensi yang tidak terpapar. Selain itu, terdapat penurunan kandungan radionuklida (²¹⁰Pb, ¹³⁷Cs) di lokasi tersebut sehingga lapisan sedimen hilang akibat kontak berulang dengan alat tangkap. Hal ini menjadi petunjuk bahwasannya aktivitas trawl tidak hanya bersifat merusak secara fisik, tetapi juga menghilangkan cadangan energi utama dalam sedimen. Selain itu, ditemukan pula penurunan konsentrasi nitrogen dan fosfor, dua unsur hara yang menjadi kunci dalam menjaga siklus produktivitas bentik. Dampak itu pun konsisten dengan temuan dari Clark et al. (2019) yang menggarisbawahi tentang degradasi kualitas sedimen telah menghambat pemulihan komunitas organisme laut dalam. Dengan kata lain, trawl mengubah kondisi sedimen dari yang semulanya penyimpan karbon dan nutrien menjadi substrat miskin nutrien yang sulit mendukung kehidupan. Dampak yang telah terlihat dari penelitian lainnya, seperti pada Oberle et al. (2016), yang memperkirakan jutaan ton sedimen tersuspensi setiap tahun akibat trawl di landas kontinen Eropa. Oleh karena itu, perubahan fisik tersebut dapat dikatakan menjadi pintu masuk bagi terjadinya gangguan biogeokimia yang lebih lanjut.
Persistensi Perubahan Biogeokimia Pasca Trawling
Salah satu hasil kontribusi utama penelitian ini adalah adanya perubahan biogeokimia akibat trawling yang bersifat jangka panjang. Paradis et al. (2021) pun mendokumentasikan kondisi dimana aktivitas trawl yang telah dihentikan lebih dari 15 tahun, sedimennya masih memperlihatkan kondisi kehilangan karbon organik sampai nutrien yang signifikan. Hal tersebut memperlihatkan betapa lambatnya tingkat pemulihan ekosistem laut dalam, berbeda dengan ekosistem pesisir yang lebih cepat dalam beregenerasi. Menurut Thurber et al. (2014), lambatnya pemulihan laut dalam dapat berkaitan dengan tingkat pertumbuhan organisme yang rendah, proses sedimentasi yang sangat lambat, serta keterbatasan sumber energi. Oleh karena itu, sekalinya terganggu, ekosistem laut dalam berada di posisi yang membutuhkan dekade hingga abad untuk kembali ke kondisi awal (Da Ros et al., 2019). Selain itu, Paradis et al. (2021) telah menegaskan bahwa hasil yang didapatkannya merupakan bukti bahwa trawl meninggalkan jejak biogeokimia yang menetap dalam hitungan waktu panjang dan adanya penutupan musiman yang berlangsung hanya beberapa bulan kemungkinan besar tidak akan efektif untuk memulihkan fungsi biogeokimia yang ada.
Implikasi Ekologis terhadap Fungsi Ekosistem Laut Dalam
Gangguan biogeokimia akibat bottom trawling memiliki konsekuensi yang lebih luas terhadap fungsi ekosistem. Salah satunya adalah berkurangnya kapasitas laut dalam sebagai penyerap karbon (blue carbon) yang telah disebutkan. Sejalan dengan pernyataan Atwood et al. (2020), yang memperingatkan bahwa aktivitas penangkapan ikan destruktif dapat meningkatkan pelepasan karbon dari sedimen, sehingga berkontribusi juga terhadap perubahan iklim global. Dengan kata lain, praktik perikanan ini tidak hanya berdampak lokal tetapi juga hingga skala planet.
Selain itu, kondisi berkurangnya nutrien dapat berimplikasi pada produktivitas mikroba dan rantai makanan bentik. Pusceddu et al. (2014) menambahkan bahwa penurunan produktivitas mikroba dapat memicu efek domino pada komunitas hewan dasar laut yang bergantung pada pasokan energi dari mikroba tersebut. Maka dapat ditarik garis besarnya ialah dampak trawl tidak hanya bersifat kecil, tetapi juga dapat mengganggu kepada keseimbangan ekosistem yang lebih luas.
Pentingnya Pengelolaan Lanjutan
Temuan ini menuntut perhatian dalam pengelolaan perikanan, dimana Paradis et al. (2021) menyimpulkan bahwasannya kerusakan biogeokimia yang sifatnya menetap dapat menunjukkan perlunya regulasi yang lebih ketat lagi. Contohnya, dibuatkan area larangan permanen ataupun pengurangan intensitas trawl. Watson dan Morato (2013) menyatakan bahwa pembatasan spasial dapat efektif dalam mencegah ekspansi trawling ke kedalaman yang lebih besar. Di sisi lain, masih ada celah penelitian, Oberle et al. (2016) belum sepenuhnya menjelaskan berapa banyak karbon yang hilang akibat trawl yang akhirnya terdegradasi menjadi CO2 atau hanya terendapkan ulang di lokasi lain. Namun, pada Atwood et al. (2020) mendorong perlunya pemodelan global untuk mengestimasi kontribusi trawl terhadap emisi karbon laut. Dengan demikian, penelitian lanjutan adalah langkah yang sangat penting untuk menilai implikasi jangka panjang dari bottom trawling terhadap iklim global.
Writer : Marine Geology and Sedimentation Bureau



