
Dengan menggunakan simulasi numerik Large Eddy Simulation (LES), penelitian ini menemukan bahwa kombinasi perbedaan suhu antara darat-laut, arah angin skala besar, dan tekanan atmosfer dapat menghasilkan empat jenis pola sirkulasi. Pola tersebut adalah: canonical LSB (angin darat/laut normal), transitional LSB (pola peralihan antara angin darat dan laut), land-driven LSB (sirkulasi dangkal yang lebih dipengaruhi daratan ketika angin bertiup dari darat ke laut), dan advected LSB (aliran yang cenderung searah karena dominasi angin skala besar). Hasilnya menunjukkan bahwa laut lebih berperan dibanding darat dalam mengatur keseimbangan antara turbulensi dan aliran rata-rata, meskipun daratan bisa lebih cepat mencapai keseimbangan. Fenomena ini disebut nonequilibrium karena angin, turbulensi, dan pemanasan permukaan tidak pernah benar-benar seimbang. Penelitian yang dilakukan dapat membantu memahami proses atmosfer di wilayah pesisir, seperti prediksi cuaca, penyebaran polusi udara, fenomena panas perkotaan (urban heat island), serta potensi energi angin lepas pantai.
Dinamika Angin Darat dan Angin Laut
Angin Darat dan Angin Laut merupakan fenomena alam yang memiliki pengaruh besar terhadap pengaturan iklim dan kondisi lingkungan, khususnya di daerah pesisir. Kedua jenis angin ini muncul akibat adanya perbedaan suhu antara permukaan daratan dan lautan, yang memicu proses perpindahan panas melalui mekanisme konveksi. Perbedaan suhu tersebut bisa dipicu oleh berbagai hal, seperti intensitas sinar matahari yang diterima, tingkat kelembaban udara, serta karakteristik topografi suatu wilayah.
Angin Darat dan Angin Laut berperan penting dalam menentukan pola dan kecepatan angin di kawasan pesisir, serta berdampak langsung pada aktivitas masyarakat setempat. Contohnya, para nelayan sering memanfaatkan arah angin untuk membantu mereka kembali ke daratan setelah melaut. Proses konveksi yang memindahkan panas secara alami menjadi penyebab utama terbentuknya kedua jenis angin ini (Kemala, 2006: 83). Karena suhu air laut cenderung tetap hangat di malam hari, maka Angin Darat pun dapat terjadi secara alami (Suraji, 2019).
Fenomena Angin Darat dan Angin Laut Terhadap Dinamika Pesisir
Fenomena angin darat-laut (LSB) yang tidak stabil sangat erat hubungannya dengan dinamika laut dan pesisir karena menjadi penghubung utama antara atmosfer, daratan, dan perairan laut dangkal. Perbedaan suhu antara darat dan laut menghasilkan gradien tekanan yang mendorong terbentuknya sirkulasi lokal. Dalam kondisi adanya gaya sinoptik, sirkulasi ini tidak hanya berubah arah tetapi juga menjadi lebih kompleks, sehingga berpengaruh langsung pada arus laut pesisir, percampuran vertikal, dan proses upwelling. Upwelling yang dipicu oleh angin laut, misalnya, bisa meningkatkan produktivitas perikanan karena membawa nutrien dari lapisan dalam ke permukaan, namun di sisi lain dapat menimbulkan pendinginan lokal di pesisir yang memodifikasi pola iklim mikro.
Dinamika pada pesisir variabilitas LSB mempengaruhi tinggi muka laut lokal melalui interaksi angin dengan gelombang dan arus pasang surut. Saat angin laut bertiup lebih kuat, ia dapat mendorong massa air ke arah pantai sehingga meningkatkan risiko banjir rob, sementara pada fase angin darat air lebih cenderung terdorong menjauh. Dinamika ini juga dapat memperkuat atau melemahkan efek iklim global seperti ENSO. Pada saat El Niño atau La Niña, perubahan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik dapat memperkuat atau melemahkan pola LSB harian di pesisir Indonesia, sehingga berdampak ganda pada curah hujan, tinggi gelombang, dan distribusi suhu laut.
Writer : Land-Sea Dynamic Bureau



