Oleh : Citra Nur Ilahiyah
Perahu kora-kora merupakan salah satu warisan budaya bahari yang berasal dari Maluku. Perahu ini memiliki nilai historis dan budaya yang tinggi, serta menjadi simbol kejayaan maritim masyarakat Maluku di masa lalu. Tidak hanya digunakan sebagai alat transportasi, namun ini juga merupakan bagian dari tradisi dan identitas masyarakat setempat. Hingga kini, perahu kora-kora tetap dilestarikan lewat Festival Kora-Kora yang menjadi pengingat akan kejayaan maritim Maluku.
Sejarah dan Asal Usul
Perahu kora-kora memiliki sejarah panjang sejak abad ke-13, terutama dalam pertempuran melawan kolonial Eropa di perairan Maluku. Perahu ini telah ada sejak kedatangan Portugis di Maluku pada tahun 1200-an dan sering digunakan dalam ekspedisi perdagangan, perang, serta upacara adat. Selain itu, kora-kora juga digunakan dalam operasi perburuan budak.
Ciri Khas Perahu Kora-Kora
Perahu kora-kora memiliki bentuk yang panjang dan ramping dengan ujung yang melengkung tinggi. Umumnya, perahu ini digerakkan dengan dayung oleh banyak pendayung yang duduk berbaris di kedua sisinya. Keunikan kapal ini terletak pada teknik pembuatannya yang tidak menggunakan paku sama sekali. Para pengrajin kapal tradisional memilih kayu gofasa sebagai bahan utama karena karakteristiknya yang keras dan tahan air.
Kora-kora terbagi menjadi dua bentuk utama:
- Juanga: Memiliki atap di bagian tengah dan diperuntukkan bagi sultan.
- Kudunga: Digunakan oleh masyarakat umum.
Selain itu, perahu kora-kora memiliki simbol-simbol religi, seperti naga yang terletak di bagian depan dan ekor naga di belakang perahu. Lambang ini mencerminkan kepercayaan masyarakat dan nilai spiritual yang melekat pada perahu. Makna persatuan dan kesatuan juga tergambar pada cadik di kedua sisi perahu, yang berfungsi sebagai tempat berdiri atau berpijak bagi para prajurit saat bertempur.
Fungsi dan Peran dalam Masyarakat
- Perdagangan: Mengangkut rempah-rempah dan barang dagangan ke berbagai wilayah Nusantara hingga mancanegara.
- Perang: Sebagai alat transportasi pasukan dalam peperangan laut melawan kolonial.
- Upacara Adat: Hingga kini, perahu kora-kora masih digunakan dalam berbagai ritual budaya, seperti upacara pelayaran adat atau perayaan tertentu.
- Transportasi Modern: Saat ini, perahu kora-kora masih digunakan sebagai sarana transportasi untuk mengangkut komoditas perdagangan antarpulau.
Pelestarian dan Tantangan
Di era modern, penggunaan perahu kora-kora semakin berkurang karena perkembangan teknologi transportasi. Namun, upaya pelestarian terus dilakukan, baik melalui festival budaya, rekonstruksi perahu tradisional, maupun edukasi kepada generasi muda. Melestarikannya bukan hanya tentang menjaga sebuah tradisi, tetapi juga menghormati sejarah dan warisan nenek moyang yang telah mengarungi lautan.
#MCPRDailyNews










