Oleh : Muhammad Rezza S
Kawasan pesisir Kabupaten Demak, terutama di Kecamatan Sayung, mengalami penurunan muka tanah yang signifikan dengan laju antara 4 hingga 12 cm per tahun. Fenomena ini menjadikan wilayah pesisir lebih rentan terhadap banjir rob dan abrasi, yang berdampak pada hilangnya lahan pertanian dan pemukiman penduduk. Wilayah ini memiliki kontur tanah muda yang terdiri dari endapan lempung yang masih mengalami pemadatan, sehingga kurang mampu menahan beban di atasnya. Selain itu, aktivitas pengeboran dan penyedotan air tanah yang berlebihan oleh industri dan masyarakat menciptakan rongga tanah kosong, yang memicu penurunan muka tanah secara lebih cepat.
Di samping itu, degradasi mangrove akibat konversi menjadi tambak dan pemukiman juga berkontribusi terhadap masalah ini. Hilangnya hutan mangrove menyebabkan kawasan pesisir kehilangan fungsi alami sebagai penahan abrasi dan penstabil sedimen, sehingga mempercepat proses penurunan tanah. Kombinasi antara penurunan muka tanah, abrasi, dan perubahan iklim meningkatkan risiko bencana ekologis serta mengancam keberlanjutan lingkungan maupun kesejahteraan masyarakat setempat.
Dampak Sosial Ekonomi Masyarakat Lokal
Fenomena penurunan tanah dan abrasi yang melanda pesisir Kabupaten Demak telah membawa dampak sosial yang signifikan terhadap kehidupan masyarakat setempat. Salah satu dampaknya adalah meningkatnya risiko kehilangan tempat tinggal. Banyak desa di Kecamatan Sayung dan sekitarnya yang kini tergenang air laut hampir sepanjang tahun, memaksa warga untuk meninggikan rumah mereka atau bahkan pindah ke daerah lain. Sebagian warga yang tidak memiliki sumber daya cukup untuk relokasi terpaksa bertahan dalam kondisi lingkungan yang tidak layak, meningkatkan risiko kesehatan akibat air rob yang mengandung limbah dan polusi. Keadaan ini menciptakan tekanan psikologis yang besar, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Dari sisi ekonomi, abrasi dan rob telah menghancurkan sebagian besar lahan pertanian dan tambak di kawasan tersebut. Petani dan nelayan, yang sebagian besar merupakan tulang punggung ekonomi lokal, kehilangan mata pencaharian mereka. Lahan pertanian yang terendam air asin menjadi tidak produktif, sementara tambak ikan dan udang banyak yang rusak akibat intrusi air laut. Akibatnya, pendapatan masyarakat menurun drastis, dan tingkat kemiskinan meningkat. Dampak ini juga dirasakan dalam skala lebih luas, karena hasil tambak dari Demak sebelumnya menjadi salah satu penyumbang kebutuhan pangan lokal dan regional.
Kerugian ekonomi ini diperburuk oleh meningkatnya biaya adaptasi yang harus ditanggung masyarakat. Banyak warga yang menghabiskan dana besar untuk meninggikan rumah atau membangun tanggul kecil di sekitar permukiman. Namun, langkah ini hanya memberikan solusi sementara, karena laju penurunan tanah terus berlangsung. Dalam jangka panjang, masyarakat menghadapi ancaman migrasi paksa, yang akan membawa konsekuensi sosial dan ekonomi lebih jauh, termasuk disintegrasi komunitas dan hilangnya identitas budaya lokal. Fenomena ini menunjukkan perlunya intervensi serius dari pemerintah untuk memberikan solusi jangka panjang, seperti program relokasi terencana dan pemulihan ekosistem mangrove.
Peran Pemerintah dalam mitigasi dan penanggulangan
Pemerintah telah mengambil berbagai langkah untuk mengatasi penurunan tanah dan abrasi di Kabupaten Demak. Salah satu upaya yang dilakukan adalah penanaman mangrove di kawasan terdampak rob, seperti di Desa Surodadi, Kecamatan Sayung. Penanaman mangrove ini berfungsi sebagai pemecah ombak alami dan mampu meminimalkan dampak abrasi laut. Wakil Bupati Demak berharap masyarakat dapat ikut serta menjaga dan melestarikan tanaman mangrove ini agar dapat tumbuh subur dan efektif dalam menahan arus air laut yang mengikis daratan pantai. Selain itu, pemerintah pusat melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman telah menyiapkan solusi untuk masalah abrasi di Kabupaten Demak. Upaya yang dilakukan antara lain mengajak masyarakat peduli terhadap lingkungan, meningkatkan pemahaman tentang dampak perubahan iklim, serta mengadakan pelatihan usaha, jasa, dan pariwisata mangrove. Langkah-langkah ini diharapkan dapat mempersiapkan masyarakat yang terdampak abrasi untuk beradaptasi dan meningkatkan kesejahteraan mereka.
Fenomena penurunan tanah dan abrasi di pesisir Kabupaten Demak adalah permasalahan serius yang berdampak luas pada aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan masyarakat setempat. Kehilangan lahan pertanian, rusaknya tambak, dan ancaman terhadap permukiman telah memaksa masyarakat untuk menghadapi tantangan besar, termasuk migrasi dan perubahan profesi. Meski pemerintah telah mengambil sejumlah langkah mitigasi, seperti penanaman mangrove dan peningkatan kesadaran masyarakat, upaya tersebut perlu didukung dengan kebijakan yang lebih terintegrasi, termasuk pengendalian eksploitasi air tanah, perencanaan relokasi berbasis masyarakat, dan investasi jangka panjang dalam restorasi ekosistem pesisir. Masalah ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tetapi juga membutuhkan sinergi antara masyarakat, akademisi, dan pelaku industri untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan. Demak dapat menjadi contoh penting bagaimana wilayah pesisir dapat bangkit dari tantangan besar jika ada kolaborasi yang kuat dan berorientasi pada masa depan.
#MCPRDailyNews






