Peran Sentral Struktur Geologi dalam Pembentukan Geomorfologi Pesisir

Geologi dan geomorfologi adalah dua istilah yang kerap terdengar meskipun keduanya memiliki arti yang berbeda. Geomorfologi merupakan cabang ilmu dari geologi, sedangkan geologi mempunyai kajian yang lebih luas lagi. Geomorfologi merupakan ilmu yang mempelajari bentuk permukaan bumi dan perubahan-perubahan yang terjadi pada bumi itu sendiri.

Struktur geologi memiliki peranan penting dalam pembentukan geomorfologi pesisir. Kondisi tektonik, seperti pengaruh tumbukan lempeng litosfer, mempengaruhi bentang alam dan ciri pantai. Pada Indonesia, kondisi tektonik rumit geologi yang diakibatkan oleh gejala konvergensi lempeng litosfer menghasilkan bentang alam yang sangat kompleks, yang terlihat pada keragaman jenis batuan, struktur dan kelurusan, lereng pantai, dan perairan bentuk muara sungai dan lain-lain bagian bentang pantai.

Geologi Wilayah Pesisir dan Kelautan

Bentuk wilayah pesisir yang terletak di antara daratan dan lautan selain ditentukan oleh kekerasan (resistivity) batuan, pola morfologi, juga ditentukan oleh tahapan tektoniknya apakah labil atau stabil. Dalam batasan geologi bentuk pesisir terdiri dari bentuk pantai berundak, terjadi di wilayah pengangkatan aktif, dan prosesnya sampai saat ini masih terus berjalan, dimana pantainya dibentuk oleh undak-undak terumbu karang, setiap undak terbentuk pada periode waktu yang berlainan, umur saat terjadi pembentukan undak ditentukan dari fosil Tridacna secara penanggalan radiometri (radiometric dating). Keadaan ini dalam ilmu geologi disebut dengan istilah perubahan permukaan laut (sea level changing), bentuk pantai terjal, selain dikontrol oleh adanya struktur geologi, seperti adanya patahan, juga keberadaan batuan dasarnya yang sangat resisten terhadap abrasi gelombang laut. Bentuk pantai landai, selain dikontrol oleh jenis batuan alasnya yang relatif lunak juga terletak di daerah yang relatif stabil dari kegiatan tektonik atau daerah tingkat pasca tektonik (post tectonic stage), sehingga proses erosi pengangkutan-pengendapan berjalan tanpa gangguan kegiatan tektonik.

Bentuk Pantai

Terdapat beragam bentuk pantai yang disebabkan oleh sejumlah proses geologi yang membentuknya, serta batuan dan struktur geologi yang mempengaruhinya. Beberapa pantai dapat memiliki topografi dataran yang melandai, baik itu sempit maupun luas, sementara yang lain mungkin memiliki tebing curam dan berbatu, serta teluk yang dalam. Beberapa bentuk pantai antara lain:

  1. Pantai bertebing terjal dan berteluk-teluk (fyord): Pantai berbatasan langsung dengan kaki bukit/gunung atau dengan dataran yang sempit. Teluk-teluk berselingan dengan punggungan bukit dengan berbagai struktur geologi seperti struktur lipatan, patahan, kompleks, atau gunungapi. Dasar laut umumnya terjal, langsung ke laut dalam. Gejala demikian terlihat di Dalmasia, Spanyol, Pasifik Selatan, dan mungkin juga di Indonesia bagian Timur. Hal tersebut disebabkan oleh tenggelamnya wilayah tersebut oleh genangan air laut (submergence).
  2. Pantai berdataran yang luas dan panjang: Pantai ini mempunyai ciri adanya dataran yang luas. Banyak yang lurus, dasar laut yang relatif dangkal dan merupakan hasil endapan sedimen dari daratan, dengan kemiringan ke arah laut dalam secara gradual. Kerja gelombang di pantai menghasilkan berbagai morfologi seperti pematang pantai (barrier bars) laguna (lagoon) dengan “tidal inlet”, dan delta. Banyak dari gejala tersebut di atas dibentuk karena munculnya dasar laut, ke permukaan. Dalam perkembangannya, kedua jenis pantai tersebut dapat berelevasi ke berbagai bentuk pantai.
  3. Delta dan Dataran Aluvial: Delta merupakan dataran di muara sungai yang terbentuk sebagai akibat dari endapan sedimen di laut yang berasal dari sungai. Berbagai bentuk delta dikenal tergantung kepada kondisi morfologi sungai, morfologi dataran, arah gelombang laut dan kedalaman laut. Dataran Aluvial merupakan wilayah yang datar atau hampir datar yang terbentuk oleh endapan yang dibawa air. Beberapa jenis bentuk dataran aluvial antara lain: 
    • Kipas aluvial, berbentuk kipas dengan apex berada pada bagian hulu dan kakinya berada di bagian hilir. Umumnya berada pada perbatasan antara wilayah pegunungan/perbukitan dengan wilayah dataran. Kemiringan lereng bervariasi antara 0o – 30 o , makin ke hilir makin mendatar.
    • Dataran sungai; merupakan dataran di dalam tubuh sungai yang terbentuk oleh sedimentasi (point bars). Endapan dapat berupa bongkah, kerakal, kerikil, pasir, lanau, dan lempung.
    • Dataran banjir; berupa dataran yang luas yang berada pada kiri kanan sungai yang terbentuk oleh sedimen akibat limpasan banjir sungai tersebut. Umumnya berupa pasir, lanau, dan lumpur.
    • Dataran pantai; suatu dataran di tepi pantai yang terbentuk oleh endapan akibat gelombang laut di saat kondisi pasang dan surut. Umumnya berupa bongkah, kerakal, dan pasir.
    • Dataran rawa; merupakan dataran bekas rawa-rawa dekat pantai, terbentuk sebagai akibat dari kondisi surut muka laut atau naiknya permukaan daratan (emergence). Terdiri dari tanah pasir halus, lumpur, dan lumpur/tanah organik, gambut. Segala jenis endapan di wilayah dataran tersebut di atas umumnya bersifat lepas, lunak, lembek, belum tersemen kuat sehingga bersifat lolos air, mudah terkikis, mudah ambles khususnya yang bersifat lempung dan organik.

Writer: Marine Geology And Sedimentation Bureau

Leave a Reply