Oleh: Citra Nur Ilahiyah
Sektor kelautan dan perikanan Indonesia membuka awal tahun 2026 dengan capaian memukau. Di tengah ketatnya persaingan dagang global, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melaporkan keberhasilan menembus pasar Amerika Serikat dengan mengirimkan 1.852 kontainer udang. Total nilai ekspor yang dicatatkan pada periode ini sangat fantastis, yakni mencapai Rp 5,3 triliun, menegaskan posisi udang sebagai komoditas unggulan ekspor nasional. Keberhasilan ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari posisi pasar Indonesia yang memang kuat. Berdasarkan studi ilmiah terbaru yang diterbitkan dalam Jurnal Paspalum (2025), Indonesia secara konsisten menempati peringkat ke-2 pasar udang beku di Amerika Serikat dengan penguasaan 15,44%, sebuah angka yang signifikan mengingat AS mengimpor 88% kebutuhan udangnya dari luar negeri.
Kunci utama lolosnya ribuan kontainer ini ke pasar AS, yang dikenal memiliki regulasi ketat adalah jaminan mutu. KKP berhasil memastikan produk Indonesia memenuhi standar Food and Drug Administration (FDA) melalui Sertifikasi Bebas Cesium-137 (zat radioaktif). Langkah ini menjadi modal awal yang sangat krusial bagi produk perikanan Indonesia untuk melewati hambatan non tarif di negara maju, seperti di Amerika Serikat. Dilihat dari sisi akademik, daya saing udang Indonesia memang terbukti kuat. Analisis Revealed Comparative Advantage (RCA) dalam Fisheries Journal (2025) menunjukkan bahwa komoditas udang Indonesia memiliki nilai RCA > 1, yang berarti memiliki keunggulan komparatif yang kuat dibandingkan rata-rata dunia. Kendati demikian riset dari Binus Business Review (2021) menyatakan bahwa meski unggul, kompetitor dari Ekuador dan India terus membayangi dengan strategi harga dan volume produksi yang masif.
Kombinasi antara ketatnya regulasi mutu dari pemerintah dan kekuatan posisi pasar berdasarkan data riset ini menjadi modal awal bahwa target ekspor tahun 2026 dapat tercapai. Kendati demikian, pencapaian angka ekspor yang gemilang ini tidak boleh membuat Indonesia lengah. Mengingat struktur pasar AS yang sangat kompetitif dan agresivitas negara pesaing yang memiliki tren peningkatan daya saing signifikan tetap menjadi ancaman nyata yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Oleh karena itu, strategi Indonesia ke depan tidak bisa lagi hanya bertumpu pada volume, tetapi harus bertransformasi pada penguatan branding keberlanjutan dan diplomasi mutu. Sertifikasi bebas Cesium-137 hanyalah modal awal, konsistensi mutu adalah kunci bagi Indonesia untuk mendominasi pasar global di masa depan.
#MCPRDailyNews



