Melawan Krisis Iklim di Laut Indonesia: Perlunya Monitoring Pesisir dan Laut Berkelanjutan dengan CLIMBOX

Oleh: Noir P Purba1,2 dan Yuniarti11Peneliti di Departemen Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran, 2KomitmenX Research Group,

Rapuhnya Laut Indonesia

Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki keragaman ekosistem laut yang sangat tinggi, menjadikannya salah satu negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia. Keanekaragaman ekosistem laut Indonesia mencakup berbagai jenis terumbu karang (500 spesies), hutan mangrove (3,2 juta hektar), padang lamun. Selanjutnya, Indonesia menjadi rumah bagi lebih dari 30 spesies mamalia laut, termasuk paus, lumba-lumba, dan duyung. Namun, keragaman ekosistem ini juga sangat rentan terhadap berbagai ancaman, baik yang disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti penangkapan ikan berlebih, polusi, dan kerusakan habitat, maupun perubahan iklim yang memengaruhi suhu air laut, tingkat keasaman, dan pola arus laut.

Sejumlah masalah dihadapi oleh Indonesia, terutama yang berkaitan dengan Kesehatan pantai dan wilayah pesisir. Hal ini dibuktikan dengan indeks Kesehatan laut Indonesia dibawah rata-rata dunia dengan peringkat diatas 100 dari 192 negara. Pentingnya pengukuran di bagian kawasan konservasi dan pesisir untuk melakukan mitigasi di era perubahan iklim. Apalagi Indonesia telah kehilangan sumber daya hayati 30% dan terus meningkat akibat degradasi habitat dan perubahan iklim. Salah satu masalah yang paling menonjol adalah kerusakan ekosistem pesisir dan pulau kecil. Selain permasalahan yang terjadi di kawasan konservasi laut (Marine Protected Areas/MPA),  seperti hilangnya hutan mangrove yang berfungsi sebagai penyangga alami terhadap abrasi dan banjir rob. Akibat kerusakan ini, banyak wilayah pesisir yang semakin rentan terhadap dampak dari kenaikan muka air laut dan perubahan iklim. Banjir rob, yang sering terjadi akibat naiknya muka air laut, mengancam kehidupan masyarakat pesisir, merusak infrastruktur, dan mengganggu ekosistem pesisir yang sudah rapuh.

Untuk mengatasi tantangan ini, perlu pendekatan yang lebih holistik dalam pengelolaan wilayah pesisir dan laut. Solusi berbasis teknologi, khususnya yang berkaitan dengan pemantauan real-time terhadap kondisi lingkungan laut dan atmosfer, dapat menjadi kunci untuk mengurangi dampak dari kerusakan ekosistem pesisir dan perubahan iklim. Data yang panjang dan presisi menjadi kunci menghadapi permasalah di laut Indonesia. Mau tidak mau, pengukuran secara masiv dan panjang harus dilakukan agar kedepannya mitigasi dapat dilakukan. Saat ini pula, kondisi ancaman lainnya yang lebih memprihatikan adalah adanya perubahan iklim yang mengancam ekosistem dan perairan secara global. Data menunjukkan pada tahun 2024, pemanasan global mengancam 80 % ekosistem terumbu karang di seluruh dunia.

Solusi untuk Negara Kepulauan

Negara Indonesia yang mempunyai panjang pantai 81.000 km dengan banyak ekosistem laut dangkal. Dengan adanya fungsi untuk melindungi pantai dan sistem ekologis, maka diperlukan data yang presisi. Dengan sistem teknologi yang sudah berkembang, maka penggunaan teknologi dalam membantu monitoring. Salah satu inovasi terbaru dalam bidang pemantauan ekosistem laut dan pesisir adalah pengembangan sistem monitoring berbasis Internet of Things (IoT) yang disebut CLIMBOX V1.5. Alat ini memiliki keunggulan dalam pemantauan ekosistem laut dan pesisir yang lebih terintegrasi, dengan fokus pada kerusakan ekosistem dan fenomena seperti banjir rob yang disebabkan oleh naiknya muka air laut. Sistem ini juga dapat memantau kenaikan muka air laut, yang menjadi salah satu penyebab utama banjir rob di pesisir. Twin Automatic Niskin Water Sampling Device berfungsi untuk mengambil sampel air secara otomatis di berbagai kedalaman perairan, serta mengukur parameter penting lainnya seperti pH, suhu, oksigen terlarut (DO), dan total dissolved solids (TDS). Alat ini sangat berguna untuk memantau kualitas air di sekitar kawasan pesisir yang terancam oleh polusi dan kerusakan ekosistem.

Salah satu fitur unggulan dari CLIMBOX V1.5 dibandingkan versi sebelumnya adalah kemampuannya untuk mengirimkan data pengukuran secara real-time yang dikombinasikan dengan portal data gratis (PODC). Instrumen sebelumnya hanya dapat melakukan pengukuran secara manual dan tidak mempunyai integrasi dengan instrument lainnya. Dengan menggunakan teknologi IoT dan koneksi internet, data yang diambil dari NOABOX dan Twin Automatic Niskin Water Sampling Device dapat langsung dikirimkan ke server pusat, memungkinkan pengguna untuk memantau kondisi laut dan pesisir secara langsung tanpa menunggu hasil pengukuran manual yang memakan waktu lama. Hal ini sangat penting untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi, seperti kenaikan muka air laut yang dapat menyebabkan banjir rob atau kerusakan lebih lanjut pada ekosistem pesisir. Selain itu, teknologi microSD yang ada pada sistem ini memungkinkan data untuk disimpan secara lokal dalam perangkat dan dapat diakses kapan saja. Pengguna dapat mengontrol dan mentransfer data menggunakan aplikasi smartphone yang disediakan, menjadikan sistem ini lebih fleksibel dan mudah dioperasikan.

Pengembangan teknologi CLIMBOX V1.5 sejalan dengan pencapaian beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 13 “Aksi Terhadap Perubahan Iklim” dan SDG 14 “Konservasi Ekosistem Laut dan Pesisir Secara Berkelanjutan”. Alat ini dapat memberikan kontribusi besar dalam mitigasi perubahan iklim dengan menyediakan data yang diperlukan untuk memahami dampak pemanasan global terhadap ekosistem laut dan pesisir. Dengan mengukur kenaikan muka air laut, suhu, salinitas, pH, dan oksigen terlarut, sistem ini dapat membantu pemangku kebijakan untuk merespons perubahan iklim dengan lebih cepat dan tepat sasaran, serta menyediakan data untuk peringatan dini terhadap fenomena seperti banjir rob yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. Teknologi CLIMBOX V1.5 juga mendukung konservasi ekosistem laut dan pesisir dengan memberikan data yang lebih akurat dan tepat waktu tentang kondisi lingkungan pesisir. Hal ini memungkinkan pengelola kawasan pesisir untuk mengambil keputusan berbasis data dalam upaya melindungi dan memulihkan ekosistem pesisir yang rusak. Sebagai contoh, data real-time dapat digunakan untuk memantau proses rehabilitasi ekosistem mangrove yang telah rusak, serta memperingatkan masyarakat pesisir terhadap potensi ancaman banjir rob.

Claim: Penelitian ini didanai oleh Bima Ristekdikti pada tahun 2025.

Leave a Reply